Oxfam: Ketimpangan Kaya-Miskin Makin Lebar | Villagerspost.com

Oxfam: Ketimpangan Kaya-Miskin Makin Lebar

Pekerja garmen di negara Asia, yang kebanyakan perempuan dan diupah murah (dok. oxfam)

Jakarta, Villagerspost.com – Tepat dengan dimulainya pertemuan para elit politik dan bisnis pada Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Oxfam merilis laporan terbarunya, hari ini, Senin (22/1). Dalam laporan tersebut Oxfam mengungkapkan, jurang antara si kaya dan si miskin saat ini semakin lebar. Satu persen orang terkaya mengantongi 82 persen kekayaan yang diakumulasi tahun lalu, sedangkan setengah kelompok orang termiskin di dunia tak mendapatkan apa-apa.

“Delapan puluh dua persen dari kekayaan yang dihasilkan tahun lalu terkumpul hanya pada satu persen terkaya dari populasi dunia, sementara 3,7 miliar orang yang merupakan bagian paling miskin di dunia tidak mengalami peningkatan kekayaannya,” demikian Oxfam, seperti dikutip dari laporan tersebut,

Laporan Oxfam bertajuk: ‘Reward Work, Not Wealth’ mengungkapkan bagaimana ekonomi global memungkinkan kelompok elit kaya untuk mengumpulkan kekayaan yang besar sementara ratusan juta orang berjuang untuk bertahan dalam kemiskinan. Kekayaan miliarder meningkat rata-rata sebesar 13 persen sejak 2010 setiap tahun–enam kali lebih cepat dari upah pekerja biasa, yang meningkat hanya 2 persen rata-rata per tahun.

“Jumlah miliarder meningkat pada tingkat yang tidak pernah terjadi sebelumnya, muncul satu miliarder setiap dua hari antara Maret 2016 dan Maret 2017,” tegas laporan tersebut.

Jumlah miliarder di Asia meningkat dari 558 menjadi 680 orang pada tahun yang sama. Kekayaan gabungan mereka meningkat sebesar US$404 miliar sementara bagi pekerja miskin hanya sedikit perubahan yang terjadi. Asia Pasifik adalah tempat bagi hampir dua pertiga (63,5%) pekerja miskin yang bekerja di sektor informal dan terjebak dalam pekerjaan dengan bayaran yang sedikit.

Laporan itu juga mengungkapkan, dibutuhkan hanya empat hari bagi seorang Chief Exectuirve Officer (CEO) dari salah satu dari lima merek fashion global terkemuka untuk mendapatkan penghasilan yang akan diperoleh seorang pekerja garmen Bangladesh bekerja sepanjang masa hidupnya. Di AS, dibutuhkan waktu kerja hanya satu hari lebih sedikit bagi seorang CEO untuk mendapatkan penghasilan yang pekerja biasa kumpulkan dengan bekerja selama satu tahun.

Dibutuhkan biaya US$ 2,2 miliar per tahun untuk meningkatkan upah semua 2,5 juta pekerja garmen Vietnam agar sesuai dengan upah hidup layak. Jumlah ini adalah sekitar sepertiga dari uang yang dibayarkan kepada para pemegang saham kaya oleh 5 perusahaan teratas di sektor garmen pada tahun 2016.

Laporan Oxfam menguraikan faktor-faktor kunci yang mendorong penghargaan bagi pemegang saham dan para bos perusahaan dengan mengorbankan upah dan kondisi pekerja. Ini termasuk berkurangnya hak-hak pekerja; pengaruh berlebihan bisnis besar atas pembuatan kebijakan pemerintah; dan dorongan perusahaan tanpa henti untuk meminimalkan biaya-biaya untuk memaksimalkan imbal hasil kepada pemegang saham.

Winnie Byanyima, Direktur Eksekutif Oxfam International mengatakan, lesatan jumlah miliarder yang banyak bukanlah pertanda bekembangnya ekonomi, namun merupakan gejala sistem ekonomi yang gagal. “Orang-orang yang memproduksi pakaian, merakit telepon dan memproduksi makanan kami dieksploitasi untuk memastikan persediaan barang dengan harga murah, dan membesarkan keuntungan perusahaan dan investor miliarder,” kata Byanyima.

Pekerja perempuan sering mendapati diri mereka berada di bawah tumpukan para pekerja. Di seluruh dunia, perempuan secara konsisten menghasilkan upah yang lebih kecil dari laki-laki dan biasanya dengan pekerjaan yang berupah paling rendah dan paling tidak aman. Sebagai perbandingan, 9 dari 10 milyarder adalah laki-laki.

“Oxfam telah berbicara dengan banyak perempuan di seluruh dunia yang hidupnya mengalami ketimpangn. Perempuan di pabrik garmen Vietnam bekerja jauh dari rumah dengan upah yang miskin dan tidak sempat bertemu anak-anak mereka selama berbulan-bulan,” kata Byanyima.

Oxfam meminta pemerintah untuk memastikan kinerja ekonomi dinikmati oleh semua orang dan bukan hanya beberapa gelintir orang yang beruntung. Pertama, membatasi pembagian keuntungan kepada para pemegang saham dan top eksekutif, dan memastikan semua pekerja menerima upah minimum yang layak agar mereka memiliki kualitas hidup yang layak.

Kedua, menghilangkan kesenjangan gaji gender dan melindungi hak pekerja perempuan. Pada tingkat perubahan saat ini, dibutuhkan 217 tahun untuk menutup kesenjangan dalam kesempatan membayar dan kesempatan kerja antara perempuan dan laki-laki.

Ketiga, memastikan orang kaya membayar pajak yang adil melalui pajak yang lebih tinggi dan tindakan keras pada penghindar pajak, dan tingkatkan belanja pengeluaran untuk layanan publik seperti perawatan kesehatan dan pendidikan. Oxfam memperkirakan pajak global sebesar 1,5 persen terhadap kekayaan miliarder bisa membayar setiap anak untuk bersekolah.

Keempat, tetapkan target nasional untuk mengurangi ketimpangan berdasarkan data kekayaan pendapatan secara akurat dan tepat waktu. Penghasilan kolektif dari 10 persen teratas seharusnya tidak lebih dari pendapatan dari 40 persen kelompok terbawah.

Kelima, perkuat kerja sama regional untuk memberlakukan perpajakan yang adil, menetapkan dan menerapkan standar tentang hak-hak buruh dan belanja sosial, dan mengubah standar upah minimum dengan standar upah hidup layak.

Hasil survei global terbaru yang dilakukan Oxfam menunjukkan adanya dukungan untuk aksi mempersempit ketimpangan. Dari 70.000 orang yang disurvei di 10 negara, hampir dua pertiga dari semua responden berpendapat bahwa kesenjangan antara orang kaya dan masyarakat miskin perlu segera diatasi.

“Sulit untuk menemukan pemimpin politik atau bisnis yang tidak mengatakan bahwa mereka khawatir dengan ketimpangan. Lebih sulit lagi menemukan seseorang yang melakukan sesuatu tentang hal itu. Malah banyak yang secara aktif memperburuk keadaan dengan mengurangi pajak dan menghapus hak buruh,” kata Byanyima.

“Orang siap untuk berubah. Mereka ingin melihat pekerja dibayar upahnya dengan layak; Mereka ingin perusahaan dan orang super kaya membayar pajak lebih banyak; mereka ingin pekerja perempuan menikmati hak yang sama dengan laki-laki; Mereka menginginkan dibatasinya kekuasaan dan kekayaan yang berada di tangan segelintir orang. Mereka ingin ada tindakan yang nyata,” pungkasnya. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *