Oxfam Serukan Pemberian Bantuan, Petani Vanuatu Hadapi Bulan-Bulan Tanpa Panen

Korban bencana topan Pam di Vanuatu (dok. oxfam.org.au)
Korban bencana topan Pam di Vanuatu (dok. oxfam.org.au)

Jakarta, Villagerspost.com – Saat ini berbagai bantuan mulai mengalir kepada para penduduk di seluruh Vanuatu ( sebuah negara kepulauan di Samudra Pasifik bagian selatan, di sebelah timur Australia). Pada saat bersamaan, Oxfam Selandia Baru telah berbicara kepada mitra pembangunan mereka Farm Support Association (FSA) untuk bisa memahami dampak lanjutan dari badai Pam kepada masyarakat setempat yang kebanyakan menggantungkan hidup dari bertani.

Oliver Lato, Senior Extension Officer dari FSA tengah berada di rumahnya di Port Vila ketika badai itu mengamuk. “Bagi saya itu adalah pengalaman pertama menghadapi serangan badai sekuat itu. Saya ketika itu tengah berada di rumah. Saya berpikir itu (badai-red) akan menyapu atap rumah. Ada banyak air meluap dari sekitar teluk. Air masuk ke rumah saya sampai sedalam setengah meter,” ujarnya lewat siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Sabtu (21/3).

Lato mengatakan, banyak tanaman yang hancur. “Umbi-umbian merupakan makanan utama penduduk. Jika yam (sejenis ubi-red), singkong dan taro (sejenis singkong-red) belum hancur, mereka harus segera memanennya sebelum membusuk karena terendam air. Makanan itu harus segera dimakan dalam seminggu atau lebih atau umbi-umbian itu akan menjadi busuk,” katanya

Dia menegaskan, makanan menjadi langka. Badai datang dalam saat yang buruk. “Petani yang bertanam sayur mayur akan kehilangan seluruh tanaman mereka. Jika mereka masih menyimpan bibit lokal, mereka harus segera menanamnya seperti jagung, labu bulat dan choko (sejenis labu siam-red) saat ini untuk keamanan pangan dalam jangka dua bulan,” ujar Lato.

Lato memperkirakan akan ada semacam jeda dimana tidak ada persediaan makanan. Dimulai dari saat ini, kata dia, mungkin akan ada rentang sekitar dua atau tiga bulan sebelum sayuran bisa dipanen lagi. Pertanian umbi-umbian bisa lebih buruk lagi karena memerlukan tujuh sampai sembilan bulan sebelum bisa dipanen.

“Ini sebabnya mengapa kita bekerja sangat keras untuk bisa mendapatkan makanan seperti beras, ikan kalengan, biskuit atau tepung, sehingga para petani bisa bertahan hingga 3-4 bulan sementara menunggu tanaman mereka pulih,” kata Lato.

Peran dari Lato adalah mengajarkan para petani apa yang perlu mereka lakukan selanjutnya. “Saya baru saja dari sebuah stasiun radio dimana saya menyebarkan pesan kunci, jika para petani masih memiliki tanaman untuk ditanam mereka harus melakukannya sekarang. Itu yang harus dilakukan petani setelah badai menghantam. Masyaraka menunggu bantuan dari luar. Kami harus membangkitkan mereka lagi, masyarakat masih syok dan kami meyakinkan mereka melalui radio terkait apa yang harus kita lakukan untuk kembali ke kehidupan normal,” ujarnya.

Oxfam Selandia baru bekerjasama dengan FSA menolong para petani mendapatkan kembali kehidupan mereka dan mulai berlari, namun mereka tetap membutuhkan pertolongan pihak lain untuk melakukannya. “Ada banyak cara orang-orang dapat membantu, dengan donasi secara online, menelepon kami. Atau mendatangi cabang ANZ, body shop, atau Countdown (sebuah jaringan toko) akhir pekan ini dimana donasi bisa dilakukan saat check out. Kami juga mengimbau masyarakat untuk memikirkan kemungkinan apa yang bisa mereka lakukan di tempat kerja, sekolah di pekan depan, mungkin seperti sekolah St Kentigern di Remuera yang melakukan amal lewat penjualan kue,” kata Direktur Eksekutif Oxfam Rachael Le Mesurier.

Pelaksana Tugas Managing Director Countdown Steve Donohue mengatakan, ke-174 toko Countdown di Selandia Baru akan membantu upaya penggalangan dana. “Kami ingin melakukan yang kami bisa untuk menolong tetangga kita di Pasifik kembali berdiri setelah dihantam bencana yang dahsyat,” katanya.

Anda bisa membantu respons Oxfam dengan menyumbang ke Cyclone Pam Appeal di www.oxfam.org.nz/donate/pam atau menelepon ke nomor 0800 600 700 untuk keterangan lebih lanjut. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *