Oxfam: Telah Terjadi Salah Perhitungan Pendanaan Iklim

Kekeringan parah di Ethiopia sebagai dampak perubahan iklim (dok. oxfam)
Kekeringan parah di Ethiopia sebagai dampak perubahan iklim (dok. oxfam)

Jakarta, Villagerspost.com – Laporan terbaru Oxfam mengungkapkan, telah terjadi salah perhitungan terkait jumlah dana bersih yang diperlukan untuk membantu negara-negara berkembang untuk memerangi perubahan iklim. Kesalahan perhitungan itu, menurut laporan tersebut mencapai puluhan miliar dolar AS.

Laporan tersebut dirilis Oxfam, Kamis (3/11) lalu menjelang konferensi iklim di Maroko. Laporan itu sendiri menilai komitmen kontribusi pendanaan iklim tahun 2020 untuk periode 2013-2014 (baik bilateral maupun multilateral). Ada tiga data yang digunakan untuk menganalisanya.

Pertama adalah laporan tahun kedua UNFCC yang dibuat negara-negara donor. Kedua database OECD Development Assistance Committee (DAC) yang memotret relevansi pembelanjaan iklim negara kaya. Ketiga, roadmap pendanaan sebesar US$100 miliar dari negara maju dan bantuan laporan teknis oleh OECD.

Dalam laporan bertajuk “Climate Finance Shadow Report 2016” itu, Oxfam mengungkapkan, dari dana sebesar US$41 miliar per tahun yang dilaporkan negara-negara kaya hanya sebesar US$11 miliar hingga US$20 miliar saja yang ditargetkan untuk memerangi perubahan iklim. Dari jumlah itu, hanya sekitar US$4 miliar-US$7 miliar saja yang ditujukan untuk membantu negara-negara miskin untuk beradaptasi dengan dampak perubahan iklim. Jumlah itu, menurut Oxfam, sangat kurang dari yang dibutuhkan.

“Perubahan iklim telah memberi dampak pada manusia. Kekeringan telah membunuh tanaman pangan, kenaikan permukaan air laut telah menghancurkan rumah-rumah. Guncangan iklim ini dikombinasikan dengan El Nino telah membuat 60 juta orang menghadapi kelaparan tahun ini,” kata Pakar Perubahan Iklim Oxfam Internasional Isabel Kreisler, dalam pernyataan tertulis yang diterima Villagerspost.com, Jumat (4/11).

Ironisnya, kata Kreisler, mereka yang paling rentan pada dampak perubahan iklim ini adalah mereka yang justru tidak banyak berperan dalam terjadinya perubahan iklim. “Mereka membutuhkan bantuan untuk beradaptasi dengan realitas baru di hadapan mereka, dan mereka membutuhkannya sekarang,” tegas Kreisler.

Perhitungan Oxfam juga menunjukkan bahwa hanya sekitar US$8 miliar dari keseluruhan pendanaan iklim yang mengalir ke negara-negara miskin yang terdiri dari 48 negara yang paling rentan terhadap perubahan iklim. Negara-negara ini juga merupakan negara yang memiliki kelangkaan sumber daya untuk menghadapi dampak perubahan iklim.

Oxfam menegaskan, lantaran aturan dan panduan pelaporan atas pendanaan iklim sangat terbatas dan buruk, perhitungan Oxfam menunjukkan gambaran berbeda dari apa yang sudah dilaporkan negara-negara kaya di masa lalu. Akibatnya, negara berkembang menghadapi ancaman kehilangan bantuan pendanaan akibat praktik ini.

“Ratifikasi Kesepakatan Paris yang berjalan cepat menunjukkan pemimpin dunia mengerti kegentingan masalah ini. Kami tidak ingin mengendurkan langkah ini sekarang. Pertemuan Marakesh harus menjamin masyarakat yang langsung menghadapi krisis iklim mendapatkan bantuan yang dibutuhkan,” kata Kreisler.

Oxfam meminta negara-negara donor dan pemain utama lainnya di konferensi Marakesh untuk melakukan beberapa hal. Pertama, Meningkatkan upaya mereka untuk meningkatkan pendanaan adaptasi iklim, khususnya untuk negara miskin Kedua, bekerja dengan pemerintah negara berkembang untuk membuat pendanaan lebih mudah diakses oleh mereka yang paling membutuhkan. Ketiga, membuat kemajuan dalam hal memindai kemana uang mengalir untuk meningkatkan akuntabilitas dan pelaporan.

Pendanaan iklim, menurut Oxfam, bukan satu-satunya masalah yang maih belum selesai dari pertemua iklim Paris. Tanpa upaya lebih jauh untuk memangkas emisi gas rumah kaca, dunia akan terancam mengalami peningkatan suhu udara. Oxfam berharap agar Ketua Pertemuan Iklim PBB di Marakesh Patricia Espinosa mampu memandu negosiasi ke arah pemberian solusi atas masalah ini.

“Kesepakatan Paris bukan sekadar momen, tetapi juga menandai, memperbarui komitmen global dari 197 pihak untuk memerangi perubahan iklim. Kami berharap konferensi Marakesh menjaga jalur menuju masa depan yang lebih aman bagi semua orang,” kata Kreisler.

Ikuti informasi terkait pendanaan iklim >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *