Oxfam Ungkap Perusahaan Farmasi Dunia Gelapkan Pajak Miliaran Dolar AS

Pelayanan kesehatan di negara miskin bisa ditingkatkan jika tak ada penghindaran pajak (dok. oxfam.org)

Jakarta, Villagerspost.com – Lewat laporan terbarunya bertajuk “Prescription for Poverty” atau “Resep untuk Kemiskinan” mengungkapkan, banyak perusahaan obat atau farmasi yang mencurangi negara dengan menggelapkan pajak penghasilan hingga miliaran dolar Amerika Serikat (AS). Dalam laporan yang dirilis pada Rabu (19/9) itu, Oxfam mengungkapkan, perusahaan farmasi terbesar tampak menggelapkan pajak sekira US$3,8 miliar per tahun di 16 negara.

Dalam laporannya tersebut, Oxfam menganalisis laporan keuangan akhir perusahaan farmasi raksasa seperti Pfizer, Merck, Johnson & Johnson and Abbott, antara tahun 2013-2015. Dari analisis itu mereka menemukan, perusahaan-perusahaan tersebut tampak melakukan penggelapan pajak senilai US$3,7 miliar di sembilan negara maju termasuk Australia, Denmark, Perancis, Jerman, Italia, Selandia Baru, Spanyol dan Inggris serta Amerika Serikat.

Dari jumlah itu, sekira US$2,3 miliar merupakan buah penghindaran pajak per tahun di Amerika Serikat. Jumlah tersebut sangat cukup untuk membiayai asuransi kesehatan bagi 1 juta anak-anak miskin.

Perusahaan-perusahaan tersebut juga tampak melakukan penghindaran pajak sekira US$112 miliar per tahun di tujuh negara berkembang termasuk Thailand, India, Ekuador, Kolombia, Pakistan, Peru, dan Chile. Jika negara-negara tersebut meginvestasikan dana sejumlah itu untuk jaminan kesehatan, dana tersebut bisa digunakan untuk membayar vaksinasi virus kanker serviks untuk 10 juta anak-anak perempuan.

Seperti diketahui, kanker serviks atau kanker mulut rahim merupakan jenis kanker paling mematikan yang bertanggung jawab atas kematian satu perempuan setiap dua menit di seluruh dunia. Hampir 90 persen kematian ini terjadi di negara berkembang.

“Tidak seorang pun seharusnya melihat anak-anak mereka menderita tanpa jaminan kesehatan atau dipaksa untuk memilih antara membeli makanan atau obat-obatan yang mereka butuhkan untuk tetap hidup. Namun hal ini nyata terjadi setiap hari dan cara perusahaan (farmasi tersebut-red) melakukan bisnisnya berkontribusi atas tragedi ini,” kata Direktur Eksekutif Oxfam Internasional Winnie Byanyima, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com.

Dia menegaskan, perusahaan obat-obatan tampak mencurangi pemerintah dari penghindaran pajak yang seharusnya dapat diinvestasikan untuk jaminan kesehatan. “Mereka menetapkan harga obat-obatan di luar jangkauan orang-orang miskin dan mereka menggunakan kekuasaan mereka dan mempengaruhi untuk mentorpedo setap upaya untuk memangkas harga obat-obatan dan mengawasi praktik pajak mereka,” tambah Byanyima.

Pfizer, Merck, Johnson & Johnson, and Abbot memproduksi merek ternama seperti Neutrogena, Anadin, and Tylenol, sebagaimana obat-obatan lainnya. Mereka adalah di antara perusahaan farmasi terbesar dengan penghasilan global mencapai US$1,8 triliun dalam 10 tahun antara 2006-2015.

Hasil analisis Oxfam menduga, keempat perusahaan ini mengalihkan keuntungan dari negara-negara di mana mereka melakukan bisnis mereka dan memasukkannya ke negera-negara surga pajak atau tax havens yang membebankan sedikit atau tidak membebani pajak sama sekali. Perusahaan-perusahaan ini merahasiakan keuangan mereka tetapi data yang tersedia menunjukkan margin laba sebelum pajak rata-rata hanya enam persen di negara-negara dengan tarif pajak standar, dibandingkan dengan 31 persen di negara-negara bebas pajak Belanda, Belgia, Irlandia dan Singapura. Praktik-praktik semacam itu, meski tidak selalu ilegal, tidak sejalan dengan semangat hukum.

Laporan “Resep untuk Kemiskinan” juga menguraikan bagaimana perusahaan merongrong kesehatan orang miskin dengan obat-obatan yang terlalu mahal– menempatkan mereka di luar jangkauan untuk layanan kesehatan masyarakat yang kekurangan uang tunai dan pasien miskin. Misalnya, pengobatan standar kanker payudara untuk 12 minggu milik Pfizer, dapat diproduksi seharga US$1,16 namun dijual seharga US$276 di AS dan US$ 912 di Inggris.

Laporan ini juga merinci bagaimana industri farmasi menggunakan pengaruh ekonomi dan politik mereka untuk membentuk kebijakan pemerintah pada pajak, perdagangan dan kesehatan untuk kepentingan mereka sendiri–terutama di AS di mana industri menghabiskan lebih dari US$ 200 juta setiap tahun pada pelobi dan sumbangan politik. Penghindaran pajak memicu krisis ketimpangan, memperluas kesenjangan antara kaya dan miskin.

Ketika perusahaan obat menghindari pajak, maka yang paling menderita adalah mereka yang termiskin di masyarakat, ketika pemerintah berusaha menyeimbangkan anggaran mereka dengan memotong layanan penting dan meningkatkan bentuk pajak lainnya. Seringkali perempuan miskin yang sangat bergantung pada layanan perawatan kesehatan umum, memberikan perawatan bagi orang-orang tercinta ketika sistem kesehatan gagal, dan membayar tagihan untuk pajak regresif, yang membayar harga tertinggi.

Sama halnya, sementara angka penghindaran pajak tampak lebih rendah di negara berkembang, dampaknya bisa lebih parah karena negara-negara miskin sering memiliki layanan publik yang lebih lemah, memiliki tingkat kemiskinan yang lebih tinggi, dan lebih bergantung pada pajak perusahaan untuk mendanai layanan publik. PBB memperkirakan, penghindaran pajak perusahaan menghabiskan biaya negara-negara miskin senilai US$ 100 miliar per tahun.

Byanyima mengatakan, perusahaan-perusahaan obat ini menampilkan diri sebagai benteng tanggung jawab sosial, tetapi praktik bisnis mereka menceritakan kisah yang berbeda. “Pfizer, Merck, Johnson & Johnson dan Abbot harus membayar pajak mereka, membuat obat-obatan mereka terjangkau, dan berhenti mencurangi peraturan pemerintah dengan cara yang merongrong perang melawan kemiskinan dan ketidaksetaraan,” ujarnya.

“Pemerintah juga harus bersikeras bahwa perusahaan mempublikasikan informasi keuangan untuk setiap negara tempat mereka berbisnis, jadi jelaslah jika mereka membayar bagian pajak yang adil,” tambah Byanyima.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *