Pakan Ayam Dikuasai Korporasi, Harga Telur Meroket

Harga telur ayam melonjak diduga karena ada permainan oleh korporasi (dok. cybex ipb)

Jakarta, Villagerspost.com – Anggota Komisi XI DPR RI Hery Gunawan menegaskan, meroketnya harga telur ayam hingga menyentuh angka Rp30 ribu per kilogram lebih banyak dipengaruhi oleh dikuasainya pakan ayam oleh korporasi besar. Penguasaan itu membuat mereka leluasa memainkan harga pasar.

“Simpelnya begitu. Sebenarnya bisa diurai, tapi mereka punya kepentingan,” kata Hery, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (17/7).

Dengan struktur penguasaan pakan oleh korporasi itu, menurut Hery, akan percuma jika pemecahan masalah harga hanya berupa operasi pasar. “Semua kembali kepada para pemilik modal atau pengusaha dan penguasa. Kalau mereka berjiwa merah putih maka bicara dan tindakannya juga harus merah putih. Tapi kalau bicaranya bisnis, semua diserahkan ke pasar, tidak ada kewajiban negara untuk melindungi rakyatnya,” kata politikus Partai Gerindra itu.

Heri mengingatkan, adalah kewajiban negara untuk memberikan perlindungan kepada rakyatnya. “Kalau demikian, seharusnya pemimpin kita tegas. Kalau para pengusaha mau ambil untung silahkan, tapi jangan banyak-banyak. Sekarang ini semua diserahkan ke pasar,” tambahnya.

Menurutnya, untuk mengatasi masalah ini semua kembali kepada kebijakan mau dijalankan atau tidak. “Kalau masalah monopoli, itu banyak dan bukan rahasia umum lagi. Jadi mau ngomong apa saja kalau kebijakannya berpihak pada rakyat dan bisa dikawal, saya yakin hal-hal seperti meroketnya harga telur itu tidak akan terjadi,” tegasnya.

Dia juga menilai peran Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) juga tak maksimal karena badan atau lembaga pengawas yang ada anggarannya kecil. “Jangankan KPPU, Badan Pengawasan Keuangan (BPK) dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) serta LKPP anggarannya kecil, sementara yang harus diperiksa anggarannya triliunan,” ujarnya.

Hal ini membuat lembaga-lembaga tersebut tidak mempunyai ruang gerak melakukan pengawasan. “Semua berbalik kepada pemerintahnya untuk tetap berpegang pada Pasal 33 UUD 45. Bumi, air dan kekayaan alam yang dikandung didalamnya dikuasai negara dan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat,” ujar Heri.

Hal senada juga disampaikan anggota Komisi IV DPR RI Hermanto. Dia meminta ketegasan pemerintah menangani harga telur ayam yang terus meroket. “Kemungkinan ini ada suatu agenda tertentu dengan sengaja menaikkan harga telur, sehingga nanti mengundang pengusaha-pengusaha besar untuk memasukkan telur ke pasar dengan harga yang relatif tinggi,” terang Hermanto.

Hermanto meminta pemerintah untuk mendalami, mengapa bisa terjadi kurangnya pasokan telur di pasar. Seperti diketahui, pengadaan telur ini berada pada dua cluster supplier. Yaitu supplier besar dalam hal ini korporasi dan ada juga petani telur kelas menengah ke bawah.

Bila dicermati pemasok telur terbesar serta seluruh komponen biaya daripada ayam itu atau telur itu dikuasai oleh para korporasi. Misalnya Day Old Chicken (DOC) atau ayam yang umurnya kurang dari sepuluh hari, pakannya semuanya itu adalah supplier-nya dikuasai korporasi.

“Nah di sini siapa yang diuntungkan? Tentunya yang diuntungkan adalah pengusaha besar. Jadi seperti ada upaya menekan perusahaan menengah ke bawah menjadi dirugikan dan yang paling dirugikan adalah para konsumen,” kata politikus PKS itu.

Gandeng Pelaku Usaha

Pemerintah sendiri melalui Kementerian Perdagangan telah menggelar pertemuan dengan para peternak dan pelaku usaha untuk mengupayakan agar harga daging ayam ras dan telur turun, pada Senin (16/7) kemarin di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta. “Menyikapi kondisi fluktuasi harga daging ayam ras dan telur yang meningkat belakangan ini, Kementerian Perdagangan merangkul para peternak dan pelaku usaha agar harga daging ayam ras dan telur turun,” jelas Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita.

Enggar mengimbau dengan tegas kepada para pelaku usaha untuk tidak mengambil tambahan keuntungan dari kondisi ini. “Kami meminta para pelaku usaha dan distributor untuk membatasi keuntungan dan mendaftarkan usaha distribusinya,” ujarnya.

Enggar dan para pemangku kepentingan menargetkan harga daging ayam ras dan telur harus dapat turun secara bertahap dalam seminggu ke depan. “Kami sepakat untuk memberi batas waktu selama satu minggu agar harga dapat turun secara bertahap. Jika tidak terjadi penurunan, maka Kemendag akan menyiapkan langkah-langkah untuk melakukan intervensi pasar,” ungkapnya.

Beberapa langkah jangka pendek yang akan diambil, antara lain dengan meminta integrator untuk mengeluarkan stoknya dan melakukan penjualan langsung di pasar. Sedangkan untuk jangka menengah, akan disusun peta jalan (roadmap) pemasukan impor grand parent (GP) setelah Kementerian Pertanian memperoleh data yang valid. “Data ini akan menjadi dasar bagi Pemerintah untuk menetapkan kebijakan yang akan diambil dan menjaga ketersediaan pasokan sehingga harga dapat terjaga stabil,” jelasnya.

Terkait penyebab kenaikan harga, Enggar menjelaskan, kenaikan harga daging ayam ras dan telur disebakan tingginya permintaan yang tidak dapat dipenuhi oleh pasokan yang ada. Tingginya permintaan disebabkan atas berbagai momen, seperti libur sekolah hingga euforia sepak bola dunia.

Sementara itu, rendahnya pasokan juga disebabkan oleh sejumlah faktor, seperti gangguan produktivitas, cuaca ekstrim, serta harga pakan yang mahal dikarenakan adanya komponen impor yang terpengaruh atas kurs dolar Amerika Serikat yang terus menguat atas rupiah. Keputusan untuk mengurangi kadar obat-obatan agar lebih sehat, terutama antibiotik, juga ternyata memberi risiko lebih besar terhadap jumlah kematian ayam ras.

“Faktor-faktor itulah yang kemudian terakumulasi sehingga menyebabkan meningkatnya harga daging ayam ras dan telur. Namun, Kementerian Perdagangan dan para pemangku kepentingan terkait berupaya memberikan solusi terbaik agar harga daging ayam ras dan telur dapat kembali terjangkau oleh masyarakat,” pungkas Enggar.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *