Pandemi Covid-19, Permintaan Nanas Banasari Meningkat

tanaman nanas (pixabay)

Jakarta, Villagerspost.com – Pandemi Covid-19 ternyata bisa membawa kabar positif juga bagi petani. Petani nanas Banasari, di kawasan lereng timur Gunung Kelud Blitar Jawa Timur, justru mengalami peningkatan penjualan di tengah pandemi ini. Permintaan nanas Banasari dari daerah tersebut tidak pernah sepi, terlebih pada saat situasi pandemi Covid-19

Ketua Kelompok Tani Mulyo Dusun Tegalrejo Desa Semen Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar mengatakan, selain pesanan meningkat, harganya jualnya pun terbilang bagus dan menguntungkan petani. “Setiap kali panen, nanas banasari langsung ludes diserap pasar,” ujar Andrias, Senin (11/5).

Andrias mengungkapkan, di tengah Pandemi Covid-19, permintaan nanasnya meningkat signifikan. Varietas Banasari sudah dilepas oleh Kementerian Pertanian sejak 2015 lalu. “Jadi nama Nanas Banasari sendiri diambil dari akronim Blitar-Nenas-Semen-Gandusari, yang mencirikan nenas unggul spesifik lokasi setempat,” papar Andrias.

Menurut Andrias, harga jual di tingkat petani saat ini cukup bagus. Harga Nenas Banasari saat ini untuk grade A Rp10.000/biji, grade B Rp8.500/biji, Grade C Rp7.000/biji, Grade D dan E di kisaran Rp2.000–Rp 3.000 per biji. “Harganya bagus, menguntungkan petani. Penjualannya juga mudah karena langsung diambil mitra-mitra pedagang,” katanya.

Keunggulan jenis nenas Benasari, lanjut Andrias, diantaranya bisa dipanen hingga 8 kali dalam 4 tahun. Ukuran buahnya pun cukup besar serta rasanya yang manis asam segar dengan kadar brix 14-15. “Gambarannya, kalau nanas jenis queen biasa, grade A nya hanya seberat 7 ons keatas, maka untuk nanas banasari bisa 1,3 kilogram keatas,” imbuhnya.

Andrias menyebutkan, hampir setiap hari ada panen nenas di daerah tersebut. Pada musim panen biasa pihaknya bisa menjual 1 pick-up per hari. Sementara saat memasuki panen raya yakni pada bulan puasa dan Agustus bisa menjual hingga 1 truk besar per harinya.

“Untuk grade A biasanya disetor ke supermarket di Surabaya. Yang grade B untuk pasar Malang Raya, grade C untuk pasaran lokal. Yang grade D dan E sudah diserap untuk industri olahan minuman nanas segar yang sudah banyak berkembang disini. Jadi setiap kali panen nyaris langsung ludes terjual,” kata Andrias.

Untuk menjaga agar harga nanas stabil, kelompok tani yang dikoordinir Andrias sudah menerapkan manajemen pola tanam atau sistem siklus. Dalam satu hektar lahan rata-rata petani menanam 19.000 rumpun Nanas Banasari, dengan ongkos produksi dari awal tanam hingga panen pertama diperkirakan sekitar Rp67 juta.

“Kalau diambil rata-rata panen pertama 18.000 biji dengan harga per bijinya Rp6.500, untungnya kan sudah lumayan itu. Sudah balik modal plus untung. Untuk panen selanjutnya, petani tinggal merawat dan menikmati panen,” ungkapnya antusias.

Diakuinya, selama ini bantuan dari pemerintah terutama Kementerian Pertanian dan Dinas Pertanian setempat turut membantu petani meringankan beban biaya produksi. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, Kabupaten Blitar, Wawan Widianto menyebut pengembangan nenas di daerahnya telah berlangsung cukup lama.

“Secara agroklimat, kawasan lereng Gunung Kelud memang sangat cocok untuk pengembangan nenas. Jenis yang sekarang banyak dikembangkan yaitu queen ponggok di lereng barat dan smooth cayenne banasari di lereng sisi timur atau Kawan Nari, Kawasan Nenas Banasari. Kami terus dorong produksi dan fasilitasi pemasarannya,” ujar Wawan.

Menurut Wawan, kedua varietas nanas ini memiliki potensi pasar yg berbeda, dimana nanas banasari banyak dipasarkan ke pasar modern atau supermarket sedangkan nanas queen ponggok banyak ke pasar lokal tradisional. “Untuk ekspor masih dijajaki,” tukasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published.