Pandu Sungai: Aksi Ajak Warga Jakarta Ikut Rawat Sungai

Pemukiman kumuh di pinggir sungai Ciliwung (dok. kongres sungai indonesia)
Pemukiman kumuh di pinggir sungai Ciliwung (dok. kongres sungai indonesia)

Jakarta, Villagerspost.com – Kondisi sungai-sungai di Jakarta yang kotor, bau dan disesaki sampah telah membawa berbagai bencana ekologi terutama banjir yang selalu terjadi setiap tahun. Pemerintah provinsi DKI Jakarta pun dinilai telah berusaha sekuat tenaga agar alur dan aliran sungai bisa dinormalisasi untuk mencegah penumpukan sampah dan banjir.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok juga dinilai telah memperlihatkan langkah-langkah maju dalam upaya merevitalisasi sungai-sungai di Jakarta, melalui pengerukan kali, memindahkan hunian pinggir sungai ke rumah-rumah susun, sampai menertibkan perilaku warga membuang sampah ke sungai. Namun upaya pemerintah DKI Jakarta ini tidak mungkin dilakukan semata oleh pemerintah.

“Ibarat menenggelamkan bola, maka sampah itu datang dan datang lagi. Warga kelurahan-kelurahan di kawasan muara sungai sudah pasti hidup selamanya menerima kiriman sampah dari kelurahan-kelurahan di hulu sungai,” kata Lurah Pejagalan Alamsah dalam acara peluncuran hasil survei Relawan Pengerak Jakarta Baru (RPJB) tanggal 25 Mei 2015 lalu.

Karena itu, untuk meningkatkan partisipasi dan kepedulian warga untuk ikut menjaga kebersihan sungai-sungai di Jakarta, pada Minggu (5/7) kemarin, bertempat di kelurahan Kwitang, RPJB kembali menyerukan perlunya menggerakkan masyarakat untuk berpartisipasi merawat sungai. Hal itu dilakukan dengan mengundang semua kaum muda yang tengah dipersiapkan menjadi Pandu Sungai.

Pandu Sungai adalah mereka, kaum muda yang siap merawat sungai. Mereka datang dari kelurahan Kwitang, Balekambang (Jakarta timur), Angke (Jakarta Barat), Pejagalan (Jakarta Utara). Sekitar 100 orang anak-anak muda usia 15-21 tahun, telah siap mengikuti pelatihan untuk menjadi Pandu Sungai. Sekaligus dalam acara pembekalan Pandu Sungai tersebut, RPJB meresmikan terbentuknya Program Pandu Sungai dan dimulainya pelatihan kepada calon-calon Pandu Sungai.

Hadir pula dalam pertemuan itu, Lurah Kwitang beserta jajarannya, Camat Kecamatan Senen, utusan dinas pertamanan dan dinas kebersihan Pemerintah Propinsi DKI Jakarta. Disamping itu RPJB juga mengajak anggota DPRD DKI Jakarta untuk terlibat untuk mendengarkan masukan-masukan dari warga sekaligus memberikan informasi mengenai perjuangan wakil rakyat dalam merawat sungai.

RPJB juga mengundang Putri Indonesia Lingkungan 2015, Chintya Fabyola untuk turut meresmikan program Pandu Sungai ini dengan menyematkan pin Pandu Sungai kepada calon pandu sungai perwakilan dari kelurahan-kelurahan. Dr. Nur Fauzi Rahman, ahli tata ruang, yang menjadi narasumber dalam pertemuan ini mengatakan, warga memang harus memperlakukan sungai selaiknya memperlakukan saudara sendiri.

“Kita harus mulai memperlakukan sungai sebagai makhluk hidup, bukan benda mati, dimana di sana ada tetumbuhan dan binatang yang hidup. Kita pun hidup darinya,” kata Nur Fauzi dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Senin (6/7).

RPJB meyakini bahwa tanpa mencintai sungai, seberapapun upaya yang dilakukan pemerintah senantiasa menghadapi tantangan jika dilakukan tanpa melibatkan masyarakat. Sementara Chintya Fabyola, Putri Indonesia Lingkungan 2015, menantang anak-anak muda untuk tidak Cuma mencintai manusia tetapi juga sungai dan lingkungan sekitarnya.

Nur Fauzi sendiri menyerukan bahwa menjadi Pandu Sungai adalah titipan ibu pertiwi, sebagaimana tertuang dalam lagu kebangsaan Indonesia. “disanalah aku berdiri, jadi pandu ibuku,” katanya. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *