Panen Bawang Merah Tanam Biji di Sumba Timur

Hasil panen bawang tanam dari biji di Sumba Timur (dok. villagerspost.com/yulius tondu tay)

Sumba Timur, Villagerspost.com – Di banyak tempat, bertanam bawang merah umumnya dilakukan dari umbinya. Namun di Sumba, bertanam bawang merah, dimulai dari bijinya. Dan ternyata, hasilnya cukup luar biasa. Para petani bawang di Desa Lumbu Manggit, Kecamatan Wula Walijiu, Sumba Timur, ternyata bisa menuai hasil panen yang luar biasa.

“Awalnya terasa aneh juga kok ada ya tanam bawang merah dari biji, kan selama ini yang kami tahu hanya dari umbinya,” ujar Yulius Dondu Tay, seorang petani warga Tanamiting, Desa Lumbu Manggit, Kecamatan Wula Weijilu, kepada Villagerspost.com.

Hasil panen lebih banyak dan besar, harganya pun cukup tinggi (dok. villagerspost.com/yulius tondu tay)

Jika merunut pada sejarahnya, awal mula tradisi tanam bawang merah dari biji tersebut mulai dikenalkan pada bulan Juni tahun 2012 oleh Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI) di Desa Makamenggit, Kecamatan Nggoa, Kabupaten Sumba Timur, lewat Program Sekolah Lapang Pertanian Organik, SLPO Makamenggit, bekerja sama dengan GKS Sumba dengan pendonor dari DKH Jerman.

Seiring dengan bergulirnya waktu,budidaya bawang merah dengan tanam dari biji mulai dikembangkan oleh beberapa lembaga lokal yang ada di Pulau Sumba, seperti Yayasan Radio Max Foundatian Waingapu, KOPPESDA, MARADA, MASSTER ke beberapa petani bimbingannya. Selain itu ada pula petani secara perorangan mengembangkannya sendiri.

Yulius adalah salah satu petani yang menerapkan cara tanam tersebut. “Kebetulan ada lahan sekitar 25 are, jadi kita coba tanam bawang dari bijinya. Mulanya agak repot juga sebab harus disemaikan terlebih dahulu, kalau dari umbi kan langsung tanam tanpa ada proses penyemaian,” kata warga dusun Tanamiting itu.

Hamparan tanaman bawang merah yang ditanam dari biji (dok. villagerspost.com/yulius tondu tay)

Menurutnya, ada kepuasan tersendiri saat membudidayakannya. Sebab dari sisi produksi cukup memuaskan walau ada kendala dari sisi penyiraman. “Saya bersyukur bisa berhasil hingga mencapai panen,” katanya.

Dia menilai pola tanam bawang merah dari biji ini peluang bagi masyarakat Sumba utamanya para generasi muda. “Sebab untuk sisi iklim sangat cocok, budidayanya tidak ribet dan tidak pakai kimia semua serba organik. Kemudian harga bawang kan cukup relatif mahal. Masa segala jenis barang harus tergantung ke daerah lain terus?” kata Yulius.

Di pulau Sumba bila menilik pada pengalaman, harga bawang merah paling mahal jatuh mulai bulan Februari hingga bulan Mei. Pada bulan-bulan tersebut harganya bisa mencapai harga Rp45.000 perkilogram. “Semoga ini menjadi awal yang baik bagi kami petani di Wula Weijilu, tanah ada, air bisa diusahakan tinggal kemauan saja,” pungkas Yulis.

Laporan: Rahmat Adinata, Praktisi Pertanian Organik, Anggota Gerakan Petani Nusantara NTT, Jurnalis Warga untuk Villagerspost.com
Foto-foto: Yulius Tondu Tay, Petani Bawang Dusun Tanamiting, Desa Lumbu Manggit, Sumba Timur

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *