Panen Jagung di Blitar, Kementan Minta Semua Pihak Jaga Stabilitas Harga | Villagerspost.com

Panen Jagung di Blitar, Kementan Minta Semua Pihak Jaga Stabilitas Harga

Jagung produksi lokal untuk kebutuhan pakan ternak (dok. jabarprov.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Petani jagung di Blitar saat ini sedang menikmati musim panen raya jagung. Berdasarkan data dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Blitar dilaporkan bahwa luas lahan yang dipanen pada Kecamatan Wates 3.033 Ha dengan perkiraan panen jagung sebanyak 15.000-18.000 ton.

Memasuki musim panen ini, stabilitas harga jagung menjadi persoalan yang sangat diseriusi pihak pemerintah, khususnya Kementerian Pertanian. Dalam rangka ini, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan I Ketut Diarmita mengatakan, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan telah menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 96 Tahun 2018 Tentang Harga Acuan Pembelian Di Tingkat Petani Dan Harga Acuan Penjualan Di Tingkat Konsumen.

Tujuannya agar harga jagung di tingkat petani tidak jatuh dan merugikan petani. “Dalam Permendag ini telah ditetapkan harga acuan pembelian jagung di tingkat petani dengan kadar air 15% sebesar Rp3.150/kg dan harga acuan penjualan di industri pengguna (sebagai pakan ternak) sebesar Rp4.000/kg,” ungkap Ketut, saat menghadiri acara panen raya jagung di Desa Tulungrejo, Blitar, Selasa (5/3).

Di desa itu sendiri, luas panen jagung mencapai 452 Ha dengan perkiraan panen jagung sebanyak 2.200 ton-2.700 ton. I Ketut berharap agar Perum BULOG dapat menjembatani kepentingan petani sebagai produsen serta kepentingan peternak dan industri pakan sebagai pihak konsumen, sehingga harga jagung tetap stabil saat pada saat panen raya seperti ini.

“Selamat kepada petani yang pada hari ini melakukan panen raya jagung, semoga hasil panen ini kian menambah motivasi para petani untuk lebih meningkatkan luas tanam maupun produktivitas,” kata Ketut.

Selain dengan Bulog, Kementan, kata Ketut juga menjembatani antara petani jagung dan peternak, agar jagung petani terserap. “Di sini saya juga meminta partisipasi aktif dari peternak dan industri pakan dalam menjaga stabilitas harga jagung melalui optimalisasi penyerapan jagung oleh para peternak mandiri dan pabrik pakan,” tambahnya.

Ketut menegaskan, pemerintah hanya memfasilitasi dalam negosiasi antara petani, peternak dan feedmil, sehing petani, peternak dan pihak feedmill mendapatkan harga yang saling menguntungkan semua pihak. “Bila terjadi situasi yang tidak stabil, mari dibicarakan bersama-sama untuk mencari solusi yang terbaik,” tegasnya.

Ketut menuturkan, jagung tidak saja dimanfaatkan sebagai konsumsi langsung untuk pangan, namun juga dimanfaatkan oleh industri pakan, para peternak ayam petelur (layer) serta industri benih. “Ini alasannya kenapa saya Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan ditugaskan oleh Bapak Menteri Pertanian hadir dalam acara panen jagung di sini. Saya mengajak bapak dan ibu sekalian untuk meningkatkan produksi jagung dan meningkatkan populasi ternak,” ucap Ketut.

Ia mengatakan, pengguna jagung terbesar di Indonesia peternak dan pabrik pakan sebagai bahan pakan terutama pakan unggas. Berdasarkan data prognosa jagung tahun 2018 Badan Ketahanan Pangan dari total penggunaan jagung di Indonesia sebesar 15,58 juta ton dan sekitar 66,1 persen atau sekitar 10,3 juta ton adalah industri pakan dan peternak mandiri.

“Untuk tahun 2019, kebutuhan jagung industri pakan diperkirakan sebesar 8,6 juta ton ditambah kebutuhan jagung peternak mandiri sebesar 2,9 juta ton,” kata Ketut.

Hal ini menurutnya dapat menjadi pendorong bagi berkembangnya agribisnis jagung di Indonesia dalam rangka peningkatan produksi dan kesejahteraan petani dan motor penggerak pembangunan di pedesaan. Namun demikian Ia ungkapkan bahwa permasalah pokok terkait jagung, yaitu adanya fluktuasi produksi jagung.

“Sekitar 75 persen total produksi jagung terjadi pada bulan Januari hingga Agustus, sedangkan kebutuhan industri pakan dan peternak mandiri relatif konstan sepanjang tahun. Fluktuasi produksi inilah yang akan menimbulkan peluang terjadinya goncangan terhadap harga jagung domestik, untuk itu kita harus mengelolanya dengan baik,” ujarnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *