Panen Jagung, Kementan Minta Semua Pihak Jaga Stabilitas Harga | Villagerspost.com

Panen Jagung, Kementan Minta Semua Pihak Jaga Stabilitas Harga

Jagung produksi lokal untuk kebutuhan pakan ternak (dok. jabarprov.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Gatot Irianto mengatakan, panen jagung di sejumlah sentra produksi diperkirakan berlangsung selama dua bulan ke depan. Untuk itu, Kementan mengimbau agar semua pihak berupaya menjaga agar harga jagung tetap stabil dan tidak mengalami penurunan drastis.

“Perlu kita ketahui bahwa komponen utama pakan ternak sekitar 60 persen adalah jagung. Dengan demikian penyerapan jagung untuk pakan ini dapat bertahan dari anjloknya harga akibat oversupply, sekaligus bisa menekan harga pakan ternak,” kata Gatot, di Jakarta, baru-baru ini.

Saat ini, sebagian besar sentra produksi jagung menunjukkan harga jagung pipilan kering dengan kadar air 15-17 persen menurun signifikan dari Rp5.400/kg menjadi Rp 3.650/kg. Namun, harga tersebut diharapkan akan kembali naik sesuai kualitas. Adapun sentra produksi yang sedang panen ini antara lain berada di lokasi: Tanah Karo, Simalungun, Lampung Timur, Gorontalo, Tanah Laut, Pandeglang, Grobogan, Blora, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Sragen, Wonogiri, Boyolali, Bone, Jeneponto, Bolmong, dan Minahasa Selatan.

Terkait anjloknya harga ini, Gatot mengatakan, pihak Kementan telah membahas secara langsung dengan melibatkan kelompok Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT). Panen ini diharapkan mampu diserap GPMT secara maksimal. Langkah penyerapan perlu dilakukan supaya kondisi harga tetap stabil.

Upaya lain yang juga sedang dilakukan Kementan adalah turun langsung ke lapangan dan menghimbau seluruh Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) agar terus memaksimalkan mesin pengering/dryer bantuan pemerintah sehingga jagung hasil panen dapat disimpan 2-3 bulan ke depan.

“Jika petani melakukan pengeringan jagung saat panen raya, maka pasokan jagung di pasar tidak oversupply, sehingga harga tidak akan jatuh. Pengeringan dan penyimpanan serta penjualan jagung di luar periode panen raya dapat menaikkan harga jual jagung petani dan menambah pasokan jagung di luar panen raya,” katanya.

Meski demikian, kata Gatot, manajemen pasca panen dan pengolahan hasil juga perlu direspons Perum Bulog mulai dari penyerapan saat panen, pengolahan, penyimpanan, hingga pemasaran jagung. “Melalui cara ini, harga jagung akan stabil. Saya dengar GPMT juga menyambut baik permintaan kami dan mau beekomitmen akan menyerap jagung dari petani hingga 1 juta ton per bulan secara cepat,” katanya.

Sementara itu, Kasubdit Direktorat PPHTP Kementerian Pertanian (Kementan) Mochammad Amir meminta para penyebar informasi bohong, yang mengatakan harga jagung tinggi mau turun secara langsung dan menanyakan ke petani di sejumlah sentra produksi. “Coba sekali-sekali turunlah ke lapangan, tanyakan ke petani langsung di Playen dan Semin di Gunung Kidul, bagaimana kondisi harga saat ini, terutama sebelum dan sesudah panen raya ini. Jangan hanya bicara berdasarkan informasi yang tidak jelas dan syarat pesan impor,” kata dia.

Amir berharap peran GPMT dalam menyerap jagung petani bisa dibuktikan dan dilakukan secara cepat supaya harga tetap stabil. “Bukan malah berkoar-koar tanpa data. Ini sangat ironis sekali karena GPMT harusnya jadi mitra petani bukan justru mendistruksi hubungan mutualistik itu. Harusnya Sudirman selaku Dewan Pembina GPMT mendukung upaya tersebut, bukan malah memberikan pernyataan yang kontroversial,” pungkasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *