Panen Raya, Mentan Minta Bulog Serap Gabah Petani

Menteri Pertanian Amran Sulaiman saat melakukan panen raya di Cilacap, Jawa Tengah (dok. pertanian.go.id)
Menteri Pertanian Amran Sulaiman saat melakukan panen raya di Cilacap, Jawa Tengah (dok. pertanian.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Panen raya di tujuh provinsi yang dilaksanakan pada Senin (29/2) kemarin dan akan tibanya masa panen raya di bulan Maret-April mendatang membawa keyakinan cadangan beras nasional akan aman. Meski begitu, Menteri Pertanian Amran Sulaiman tetap mengingatkan agar Perum Bulog mampu menyerap gabah petani semaksimal mungkin pada menjelang dan selama masa panen raya untuk lebih memastikan ketersediaan cadangan beras.

“Saya sudah minta agar Bulog mau membeli gabah petani yang akan alami panen sehingga produksinya meningkat dalam waktu dekat dan Bulog sanggup,” kata Amran saat melaksanakan panen raya di Cilacap, Jawa Tengah.

(Baca Juga: Raskin Ditahan Bulog, Gubernur NTB Naik Pitam)

Amran mengatakan, memasuki masa panen raya Maret-April ini pasokan beras di pasar bakal melimpah sehingga pemerintah mengharapkan Bulog segera menyerap gabah langsung ke petani. “Hal ini dilakukan guna mencegah harga gabah petani tidak anjlok sehingga petani rugi,” tegasnya.

Pemerintah telah menetapkan harga patokan pembelian Gabah Kering Panen (GKP) Rp3.700 per kilogram. Untuk itu, pemerintah menjamin harga gabah/beras tidak turun pada saat musim panen raya. Kepada Bulog, Mentan mengingatkan mulai saat ini sudah terjadi panen, maka Bulog harus beli langsung gabah lima juta ton dalam dua bulan. “Ini momentun terbaik dimana harga turun dan produksi pada puncaknya,” ujarnya.

Terkait permintaan ini, Direktur Pelayanan Perum Bulog Wahyu Suparyono mengatakan, pihaknya siap membeli gabah petani berapapun banyaknya produksi yang dihasilkan. “Bulog akan proaktif mencari daerah yang sedang panen untuk membeli gabah. Kita tidak menunggu petani yang menjual ke kita, tapi kita yang mendatangi petani,” kata Wahyu.

Meski Bulog bersedia membeli gabah, kata Wahyu, petani tetap harus memenuhi syarat yang ditentukan pemerintah, seperti kadar air sebesar 13%. Bulog, tambah dia, saat ini sudah berbeda dari sebelumnya. Dulu, Bulog selalu dikritik keras karena dianggap terlalu lemah dalam menyerap gabah petani menjadi cadangan beras nasional. “Sekarang Bulog siap bersaing dengan swasta dalam mendapatkan beras langsung dari sentra-sentra produksi,” tegas Wahyu.

Dia mengakui, penyebab utama rendahnya kemampuan Bulog menyerap gabah petani adalah akibat harga pembelian pemerintah (HPP) beras dianggap terlalu rendah. “Bila mengacu pada HPP sebelumnya, maka Bulog hanya membeli gabah dari petani dengan harga Rp6.600 per kilogram,” tambahnya.

Terkait, adanya usulan agar pemerintah menaikkan HPP beras sebesar 10,7% tahun ini menjadi Rp7.260 per kg, menurut Wahyu, pihaknya masih menunggu instruksi presiden.

Ikuti informasi terkait Bulog >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *