Pelatihan Penerapan Pupuk Berimbang di Luwu Utara

Para petani dari Desa Sassa dan Baebunta mendapatkan materi pemupukan berimbang untuk meningkatkan hasil panen (dok. perkumpulan katalis)

Luwu Utara, Villagerspost.com – Salah satu permasalahan yang ditemukan dalam audit sosial pupuk bersubsidi yang dilaksanakan oleh Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) bersama mitranya, Perkumpulan Katalis, di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan adalah ketidaktahuan petani dalam menerapkan penggunaan pupuk berimbang. Sebagai salah satu solusi mengatasi masalah tersebut, Perkumpulan Katalis pada Selasa-Rabu (27-28 Februari 2018), menggelar pelatihan penerapan pupuk berimbang.

Acara pelatihan penerapan pupuk berimbang tersebut dilaksanakan di Desa Sassa dan Baebunta Kecamatan Baebunta Kabupaten Luwu Utara. Acara tersebut diikuti oleh 25 orang peserta dari unsur Kelompok Tani, Gapoktan, PPL, dan Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) dari kedua desa tersebut. Hadir sebagai moderator adalah Muhammad Sahaka selaku koordinator project di Luwu Utara dan sebagai pemateri Ir. Armiadi, M. Si, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Luwu Utara.

Acara pelatihan dimulai pada pukul 08.55 wita di gubuk sawah salah satu anggota kelompok tani di desa Sassa. Dalam kesempatan itu, Armiadi selaku pemateri memberikan materi tentang penggunaan pupuk berimbang untuk tanaman khususnya padi. Pemaparan materi berlangsung selama kurang lebih 2 (dua) jam, lalu dipraktikkan di sawah dekat tempat berlangsungnya acara.

Praktik menakar dan mencampurkan pupuk dengan tepat (dok. perkumpulan katalis)

Armiadi mengatakan, pemupukan merupakan salah satu dari 10 paket teknologi peningkatan produksi padi. “Dalam proses pemupukan juga ada hal yang harus diperhatikan, yaitu penggunaan pupuk secara berimbang yang memenuhi 5T,” kata Armiadi.

Unsur “T” yang pertama adalah tepat jenis, yaitu pupuk yang digunakan memenuhi unsur N yang ada dalam UREA, unsur K yang ada dalam KCL, unsur P yang ada dalam SP36. “Saat ini KCL dalam SP36 sudah langka di pasaran sehingga yang digunakan petani hanya UREA dan NPK,” tambahnya.

Hal lain yang perlu diperhatikan para petani, terang Armiadi, adalah pengolahan jerami padi. “Sebaiknya jerami padi yang sudah jadi limbah agar tidak dibakar, sebaliknya dikembalikan ke sawah dengan cara dibenamkan, agar bisa memenuhi unsur K dalam tanah,” paparnya.

Unsur “T” yang kedua adalah tepat dosis yaitu pupuk yang digunakan dengan perbandingan Urea 4 sak dan NPK 6 sak. Unsur “T” yang ketiga adalah tepat waktu, yaitu pemupukan dasar dilakukan pada umur tanaman padi 0-12 hari. “Pemupukan kedua pada umur 20 hari, lalu pemupukan 3 pada saat 45 hari,” kata Armiadi.

Petani juga melaksanakan praktik menebar pupuk dengan baik (dok. perkumpulan katalis)

Unsur “T” keempat adalah tepat cara yaitu pemupukan menebar secara merata, dengan kondisi air macak-macak dan dilakukan pada pagi hari dan sore hari. Unsur “T” yang kelima adalah tepat harga/ekonomis yaitu penggunaan pupuk pada padi secara ekonomis sebesar ± 1.150.000 per Ha per Musim Panen. “Hasil ubinan pada musim tanam yang lalu daerah kecamatan Baebunta menghasilkan lebih kurang 7 ton per hektare gabah kering panen,” tegas Armiadi.

Dia juga mengatakan, sebaiknya dalam pemupukan, agar dipastikan sawah dalam keadaan bebas gulma. Pada sesi selanjutnya, Armiadi dengan menggunakan alat Bagan Warna Daun, memaparkan cara untuk mengetahui kondisi unsur hara yang ada pada tanaman padi yang ada sawah sekitar.

Terkait pelatihan ini, Sahaka mengatakan, pelatihan penggunaan pupuk berimbang adalah salah satu dari tindak lanjut hasil temuan yang dilakukan oleh NGO Luwu Utara bekerjasama dengan KRKP dan Perkumpulan Katalis. “Pelatihan ini, akan diadakan di dua desa yang sebelumnya dijadikan wilayah sampel yaitu Desa Sassa dan Desa Baebunta,” ujarnya.

Pelatihan itu sendiri juga dilengkapi dengan praktik pemupukan disawah dan kebun kelompok tani desa Sassa dan Baebunta. Selanjutnya, kata Sahaka, akan diadakan diskusi dan evaluasi dari dua kegiatan, dengan mengundang perwakilan masing-masing desa, untuk mengevaluasi cara pemupukan para petani di dua desa tersebut.

“Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu petani yang telah hadir hari ini, dimohon untuk dengan seksama memperhatikan materi dan arahan yang disampaikan oleh Pak Kadis Ketahan Pangan nanti. Materi yang nanti akan disampaikan oleh Pak Kadis Ketahanan Pangan saya rasa akan sangat bermanfaat bagi hasil produksi sawah dan juga tambahan ilmu yang telah didapat oleh para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL),” terang Sahaka saat memberikan sambutan dalam pembukaan pelatihan itu.

Menanggapi dilaksanakan pelatihan ini, Lenni, seorang PPL Desa Sassa berharap, setelah pelatihan ini, para petani bisa mempraktikkan ilmu yang didapat. “Karena dengan penggunaaan pupuk yang berimbang akan meningkatkan hasil panen. Dengan meningkatnya hasil panen maka, kesejatraan para petani juga akan meningkat,” imbuhnya .

Laporan/Foto: Amal Alba, Tim Audit Sosial Kebijakan Pupuk Bersubsidi di Kabupaten Luwu Utara, Anggota Perkumpulan Katalis

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *