Pemberdayaan Perempuan Penting Dalam Antisipasi Perubahan Iklim

Nelayan Langkat menanam Mangrove (dok. kiara)

Jakarta, Villagerspost.com – Penasehat Khusus Menko Maritim Bidang Perubahan Iklim, Pengentasan Kemiskinan dan Isu Gender Kartini Sjahrir mengatakan, pemberdayaan perempua sangat penting dalam mengantisipasi perubahan iklim. Hal itu dikatakan Kartini dalam kunjungan di Sumatera Utara, pada 22-24 Agustus kemarin.

Dalam kesempatan itu, dia mengunjungi kebun kopi lintong di Kabupaten Humbang Hasundutan, Taman Eden 100 Sipinsur di Kabupaten Toba Samosir dan komunitas perempuan Muara Tanjung dan KSU Muara Baibai yang berhasil mengelola mangrove di Kabupaten Serdang Bedagai.

Kartini Sjahrir, menegaskan kemiskinan cenderung telah menempatkan perempuan dalam posisi terendah atau terpinggirkan. “Padahal perempuan dapat (dan telah) memainkan peran penting dalam menghadapi perubahan iklim karena pengetahuan lokal mereka dalam manajemen sumber daya di tingkat rumah tangga dan masyarakat,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Sabtu (25/8).

Menurutnya, memberdayakan perempuan bisa menjadi solusi untuk memberantas kemiskinan dan mewujudkan kesejahteraan keluarga. Dari kunjungannya itu, Kartini mengaku terkesan dengan peran kelompok perempuan Muara Tanjung yang menjadi bagian dalam Koperasi Serba Usaha (KSU) Muara Baibai. Komunitas ini telah mengembangkan kawasan mangrove menjadi tempat wisata edukasi sekaligus mencegah abrasi.

“Perempuan dan laki-laki telah bekerja sama sebagai mitra. Perempuan aktif dalam usaha kecil membuat penganan dari mangrove dan produk lokal. Penanaman mangrove telah membantu mencegah abrasi memburuk, mangrove juga membuat nelayan tidak lagi melaut terlalu jauh karena ikan kian mendekat ke pantai. Selain itu wisata juga memberi hasil yang bisa menyejahterakan anggota koperasi dan komunitas,” tuturnya.

“Meskipun banyak yang masih harus dikerjakan, perempuan masih banyak yang terpinggirkan ditambah pemerintah, termasuk pemerintah daerah seolah kurang memberi perhatian. Tapi, pemerintah sangat serius dalam memberdayakan perempuan dan mengentaskan kemiskinan,” tambah Kartini.

Dalam kesempatan yang sama, Sutrisno, Ketua Koperasi Muara Baibai menyampaikan, ombak pernah sangat tinggi sampai merendam mangrove muda. Mangrove muda yang terus menerus terendam akhirnya mati akibatnya kini wisata mangrove tidak lagi serimbun dulu.

“Dulu (pantai ini) seperti hutan, rimbun dan sejuk, tapi sekarang seperti inilah. Kami harus mengumpulkan dana untuk mendatangkan alat berat. Alat berat ini dipakai untuk membuat saluran agar mangrove tidak terendam lama saat ombak atau pasang tinggi,” paparnya.

Sutrisno tidak bisa memastikan apakah pasang tinggi ini adalah dampak perubahan iklim atau dampak dari angin musiman, tapi Koperasi dan komunitas telah meminimalisir dampak dengan pembuatan saluran air. Hal ini menunjukkan kesejahteraan koperasi membuat keberdayaan untuk memiliki solusi suatu masalah, lebih mandiri, tidak lagi terlalu tergantung pada pemerintah.

Dalam kunjungannya di kebun kopi Lintong yang jadi salah satu produk hasil bumi andalan Sumatera Utara, Kartini Sjahrir mengatakan 90% petani kopi adalah perempuan. “Dari pembibitan, panen, pengolahan hasilnya hampir semuanya dilakukan oleh perempuan. Hal ini menunjukkan perempuan telah berdaya sejak dulu, tetapi hanya dianggap sebagai bantu-bantu,” keluhnya.

Bupati Humbang Hasundutan Dosmar Banjarnahor mengatakan peran perempuan dalam produksi kopi memang luar biasa. “Memetik biji kopi harus dilakukan oleh tangan perempuan yang biasanya jauh lebih telaten daripada laki-laki,” ujar Dosmar.

“Mungkin itu juga yang membuat Kopi Lintong menjadi kopi yang terenak di dunia,” tambahnya setengah berpromosi.

Sebagai informasi, pada COP 23 di Bonn tahun 2017, Gender Action Plan (GAP) masuk untuk pertama kalinya dalam UNFCCC (United Nations Frameworks Conventions on Climate Change). Bahkan dalam Keputusan 3/COP 23 ditegaskan bahwa GAP akan menjadi salah satu focus dalam COP 24.

“Ternyata perubahan iklim memiliki dampak yang lebih besar pada perempuan. Perempuan biasanya menghadapi risiko yang lebih tinggi dan beban yang lebih besar dari dampak perubahan iklim,” kata Kartini.

Partisipasi perempuan yang tidak setara dalam proses pengambilan keputusan dan pasar tenaga kerja sering mencegah perempuan berkontribusi sepenuhnya terhadap perencanaan, pembuatan kebijakan dan implementasi kebijakan. Kartini menambahkan, tujuan dari rangkaian kunjungan kerja ini, selain untuk menghasilkan pemetaan dan identifikasi masalah kemiskinan, pemberdayaan perempuan terkait masalah perubahan iklim di Indonesia.

Tim kunjungan kerja juga sedang menyiapkan materi showcase Paviliun Indonesia pada COP 24 mendatang. Isu gender menjadi perhatian setelah komitmen Gender Action Plan (GAP) ini diadopsi pada COP 23 Bonn. Di sisi lain, Kartini juga merencanakan untuk mengajak para pegiat dan komunitas untuk berbicara dalam COP 24.

“Perempuan-perempuan ini telah menjadi solusi dan menunjukkan perempuan yang berdaya dapat menjadi manfaat tidak hanya bagi keluarganya tapi juga komunitasnya. Produk yang dibuat, misalnya Andaliman ini yang dulu cuma dijual tanpa diolah, dari hutan langsung ke pasar, ditangan perempuan telah menjadi produk olahan yang memberi nilai tambah bernilai ekonomis. Misalnya Sasagun Andaliman, sambal Andaliman dan lain-lain,” pungkasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *