Pemerintah Bertindak, Titik Api Berkurang

Menteri KLHK Siti Nurbaya saat meninjau pemadaman kebakaran hutan di Kabupaten Pulangpisau, Kalimantan Tengah, bersama Presiden Joko Widodo, tahun lalu (dok. setkab.go.id)
Menteri KLHK Siti Nurbaya saat meninjau pemadaman kebakaran hutan di Kabupaten Pulangpisau, Kalimantan Tengah, bersama Presiden Joko Widodo, tahun lalu (dok. setkab.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya menegaskan, pemerintah telah bertindak tegas untuk bisa memadamkan kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah daerah. Hasilnya, kata Siti Nurbaya, jumlah titik api kini mulai berkurang.

“Saya pastikan dan tegaskan, negara tidak diam dan pemerintah terus bekerja tiada henti, dengan segala kekuatan yang ada untuk menangani karhutla. Kita tidak ingin bencana ekologis yang membuat daerah tertutup asap selama berbulan-bulan seperti tahun lalu, kembali terulang,” ujar Siti Nurbaya dalam siaran persnya, Senin (29/8).

Siti Nurbaya menegaskan, dirinya memantau asap cukup pekat yang saat ini menghampiri warga Duri, Dumai dan beberapa daerah di Riau. Sementara di Pekanbaru, pagi tadi asap kembali terlihat meski Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) terpantau masih dalam status BAIK. “Segenap hati dan perhatian saya tertuju pada rakyat di daerah yang saat ini merasakan dampak karhutla,” tegasnya.

(Baca juga: Hukum tak Tegak, Kebakaran Hutan Kembali Marak)

Siti Nurbaya mengemukakan, saat ini Indonesia tengah memasuki musim krusial kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Meski jumlah hotspot atau titik api secara nasional berkurang hingga 70-90 persen, namun kewaspadaan terus ditingkatkan seiring dengan mulai masuknya musim kering.

Ia menyebutkan, jumlah hotspot tahun 2016 dibanding tahun 2015 (Periode 1 Januari-28 Agustus) dari pantauan satelit NOAA 18/19 mengalami penurunan. Tahun lalu titik api berjumlah 8.247 titik. Tahun ini angkanya jauh berkurang menjadi menjadi 2.356 titik atau turun lebih dari 74,64 persen.

Penurunan terbesar, menurut Siti, terjadi di Provinsi Riau dan Kalimantan Tengah. Di Riau, pada periode yang sama tahun 2015 terdapat 1.292 titik api, sementara tahun ini turun jadi 317 titik. Sedangkan di Kalteng, dari 1.137 titik api tahun lalu, turun menjadi 56 titik api pada tahun ini.

Sementara berdasarkan satelit TERRA/AQUA (NASA), dengan periode yang sama, lanjut Siti, terlihat jumlah hotspot tahun 2016 berkurang 74,70 persen dibanding tahun 2015. “Tahun sebelumnya tercatat 11.690 titik api, tahun ini menjadi 2.937 titik api,” ujarnya.

Penurunan yang cukup signifikan itu, menurut Menteri LHK. tidak terlepas dari upaya tiada henti tim terpadu di lapangan. “Mereka bekerja tanpa mengenal hari libur bahkan sampai bermalam di lokasi untuk menjaga titik api tidak meluas. Lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat, dilakukan pemadaman melalui jalur udara,” ungkapnya.

Namun Menteri LHK mengingatkan, kondisi sekarang ini merupakan waktu kritis dan pemerintah bersyukur masih bisa menekan sebaran titik api. Ia menyebutkan, asap yang muncul juga bersifat fluktuatif dan bisa berubah sewaktu-waktu bergantung faktor alam seperti arah angin.

“Seiring juga dengan berbagai usaha serta kerja keras tim terpadu. Termasuk penegakan hukum bagi pelaku yang sengaja membakar lahan. Karena dari pantauan satelit terlihat, ada lahan-lahan yang sengaja dibakar dan meluas hingga membawa dampak asap,” jelas Siti.

Dia juga menegaskan, Kepala BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) dan Kepala BRG (Badan Restorasi Gambut) telah berada di Riau. Upaya pemadaman api juga dimaksimalkan dengan rencana penambahan dua helikopter lagi serta penambahan peralatan dan dukungan dari personil TNI/Polri.

Untuk memaksimalkan upaya pengendalian karhutla, lanjut Siti, Pemerintah Provinsi juga sudah menetapkan Status Siaga Darurat Penanggulangan Bencana Asap akibat karhutla. Status tersebut telah ditetapkan di Provinsi Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Jambi dan Kalimantan Selatan.

Selain itu dilakukan patroli terpadu sebagai upaya mensinergikan para pihak dalam pencegahan karhutla sampai pada tahap tapak (masyarakat). Patroli Terpadu melibatkan unsur Manggala Agni, Polhut, TNI, POLRI, pers, LSM dan aparat desa/tokoh masyarakat.

Pelaksanaan patroli ini, jelas Siti, berbasis komando bertingkat dengan operasional Posko Desa, Posko Daops, Posko tingkat Provinsi (Balai Besar/Balai KSDA/TN), dan Posko Nasional di Kementerian LHK. “Target kerja kita jelas, jangan sampai rakyat kembali merasakan derita asap seperti tahun-tahun sebelumnya. Kita ingin menekan semaksimal mungkin jumlah titik api penyebab meluasnya dampak asap,” tegas Siti.

Terkait keluhan yang disampaikan negara tetangga, Menteri LHK Siti Nurbaya mengemukakan, menghormati keluhan tersebut. Namun ia menegaskan, pemerintah tidak bekerja menangani karhutla karena desakan negara lain. “Indonesia menganut prinsip ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan perdamaian. Tidak atas desakan-desakan,” tegasnya.

Karena itu, Siti Nurbaya mengimbau agar semua pihak luar hendaknya menahan berkomentar yang tidak perlu dengan tetap melihat upaya-upaya yang telah dilakukan secara sistematis dan serius oleh pemerintah Indonesia, sebagaimana terlihat dari menurunnya titik api dan luasan sebaran asap, bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun-tahun sebelumnya.

Siti meyakini, dengan kebersamaan dan keseriusan semua pihak mengambil tanggung jawabnya, serta penuh kejujuran untuk melihat kondisi yang ada, maka masalah ekologis yang sudah menahun ini pasti bisa diatasi. Dia mengakui, semua upaya untuk membenahi apa yang telah rusak sebelumnya ini, tidak akan seketika terlihat hasilnya.

Namun upaya pemerintah, tegas Siti, jelas mengarah untuk berbuat yang terbaik bagi rakyat. Terutama agar tidak terus menerus merasakan derita asap. “Titik apinya kita kejar. Asapnya kita tangani. Pembakarnya harus diberi hukuman. Masyarakat terus kita dampingi agar membuka lahan tidak dengan cara membakar. Semuanya agar rakyat tetap bisa sejahtera hidup berdampingan dengan karunia alam pemberian Tuhan,” pungkas Siti.

Ikuti informasi terkait kebakaran hutan >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *