Pemerintah Harus Perbaiki Produktivitas dan Rendemen Gula Nasional | Villagerspost.com

Pemerintah Harus Perbaiki Produktivitas dan Rendemen Gula Nasional

Pabrik gula tua di Solo (dok. bekraf.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Pemerintah diminta agar memperbaiki dua hal utama yang menjadi penyebab gula nasional kalah bersaing dengan gula impor. Kedua hal tersebut adalah produktivitas (on farm) dan rendemen gula lokal (off farm).

“Dari sisi on farm, produktivitas perkebunan tebu ditentukan oleh kesuburan tanah, ketersediaan tenaga kerja, sistem irigasi dan penerapan teknologi. Sementara itu, dari sisi off farm, pemerintah perlu menjalankan upaya revitalisasi pabrik gula dan penggilingan tebu. Tujuannya, memperbaiki tingkat rendemen gula,” kata peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Kamis (24/1).

Ilman menjelaskan, faktor lain yang mempengaruhi produktivitas gula nasional adalah dampak buruk dari cuaca, ketidaksesuaian antara varietas tebu dengan lokasi pertanian yang tersedia. Relatif tidak tersedianya tenaga kerja yang mampu menerapkan teknik budidaya tebu yang tepat turut menjadi faktor penyebab.

Tidak kalah penting, Ilman menambahkan, distribusi pupuk yang masih perlu ditingkatkan efisiensinya dan juga minimnya pengawasan terhadap penggunaan subsidi pertanian. “Perusahaan gula juga sering dihadapkan pada sulitnya mendapatkan lahan pertanian yang lokasinya berdekatan dengan pabrik gula dan penggilingan tebu,” katanya.

Mengutip data dari United States Department of Agriculture (USDA) 2018, Ilman mengatakan, produktivitas perkebunan tebu di Indonesia hanya mencapai 68,29 ton per hektare di tahun 2017. Jumlah ini lebih rendah daripada negara-negara penghasil gula lainnya seperti Brazil yang sebesar 68,94 ton per hektare. Selain itu, India yang sebesar 70,02 ton per hektare dalam periode sama.

Sementara itu, berdasarkan data USDA 2017, tingkat rendemen pabrik gula dan penggilingan tebu di Indonesia hanya mencapai 7,50 persen pada 2017/2018. Angka ini lebih rendah daripada di negara-negara tetangga seperti Filipina, Thailand dan Australia yang tingkat rendemennya masing-masing mencapai 9,20 persen, 10,70 persen, dan 14,12 persen.

Ilman menilai, rendahnya tingkat rendemen ini tidak lepas dari usia pabrik penggilingan gula di Indonesia Dari 63 pabrik di negara ini, sekitar 40 di antaranya berusia lebih dari 100 tahun. Bahkan, yang tertua ada yang mencapai 184 tahun. Selain karena usia pabrik gula dan penggilingan tebu yang kebanyakan sudah tua, nilai rendemen juga dipengaruhi oleh kualitas tebu serta waktu potong dan kualitas mesin pabrik.

Untuk meningkatkan nilai rendemen, pemerintah dan industri seharusnya fokus pada efisiensi pabrik gula. Tapi, yang terjadi, belum ada perubahan signifikan pada kinerja mesin pabrik penggilingan tebu. Padahal, pemerintah sudah menawarkan dukungan finansial. Hal ini dikarenakan pemilik pabrik enggan menghentikan proses produksi selama proses revitalisasi dilakukan. “Revitalisasi dapat memakan waktu selama sekitar delapan bulan,” kata Ilman.

Solusi lain yang dapat dilakukan pemerintah terhadap para petani tebu, pabrik gula dan penggilingan tebu adalah pendampingan. Khususnya, dalam penerapan praktek budidaya tebu yang lebih efisien.

Pemerintah juga sebaiknya berinvestasi dalam pengembangan teknologi industri gula nasional. Tapi, bantuan ini juga harus diikuti adanya target yang jelas agar hasilnya tepat sasaran dan mempengaruhi produktivitas dan tingkat rendemen gula.

Alasan Menggunakan Gula Impor

Sementara itu, pada kesempatan terpisah, Ketua Asosiasi Industri Kecil dan Menengah Agro Suyono mengatakan, pengusaha makanan dan minuman kelas kecil dan menengah masih membutuhkan gula impor bagi keberlangsugan usaha. Ia pun menyebut tiga alasan utama industri masih bergantung gula impor.

“Yang pertama gula rafinasi itu tidak mengandung molasis, yaitu sampah mikro, bakteri dan kuman, yang masih menempel di gula. Ketika ada molasis, makanan kami akan cepat kedaluwarsa,” ujar Suyono, dalam keterangan tertulisnya, beberapa waktu lalu.

Suyono yang juga pengusaha dodol menjelaskan, jika menggunakan gula lokal, saat makanan diekspor, misalnya dodol ke Timur Tengah, makanan semisal dodol, akan berjamur dan kedaluwarsa karena adanya bakteri tersebut. Pasalnya, perjalanan ke Abu Dhabi bisa mencapai 20 hari, sementara kondisi panas dalam kontainer membuat bakteri yang membusukkan makanan tersebut lebih cepat berkembang.

Alasan kedua, kata Suyono, adalah karena gula rafinasi selalu tersedia dari Januari sampai Desember. Sedangkan jika menggunakan gula lokal, mesti menunggu musim panen. Selain ketersediaan, pengusaha juga mengeluhkan masalah harga. “Harga gula lokal bisa lebih mahal hingga Rp2.000 per kilogramnya dibandingkan gula rafinasi. Jadilah pengusaha lebih memilih gula rafinasi karena lebih murah,” ujarnya.

Pilihan menggunakan gula rafinasi impor, ditegaskannya, tidak serta-merta menunjukkan para pengusaha anti produk dalam negeri. Menurut Suyono, pengusaha siap membeli gula dalam negeri jika kualitasnya mampu memenuhi yang ia butuhkan.

“Kami siap beli gula dalam negeri. Nasionalisme saya tidak perlu dipertanyakan lagi. Saya ini anak petani asli Ciamis, saya juga ingin petani tebu Indonesia sejahtera,” jelasnya.

Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Agus Pakpahan mengamini, beberapa industri memang membutuhkan impor gula sebagai bahan baku untuk produksinya. Contohnya industri makanan dan minuman yang memerlukan gula dengan ICUMSA rendah serta industri kesehatan yang membutuhkan gula khusus.

Khusus untuk industri tersebut, ia mengakui, keperluan memakai gula impor lebih dikarenakan harganya yang lebih terjangkau. “Di samping itu, gula impor yang memiliki tingkat ICUMSA di kisaran 45 membuat tampilan makanan dan minuman jauh lebih baik,” jelasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *