Pemerintah Impor Bawang Merah, Petani Kecewa

Komoditas bawang merah. Pemerintah impor bawang merah, petani kecewa (dok. bantenprov.go.id)
Komoditas bawang merah. Pemerintah impor bawang merah, petani kecewa (dok. bantenprov.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Para petani khususnya petani bawang merah yang tergabung dalam Forum Tani Indonesia (Fortani) menumpahkan kekecewaan mereka di hadapan para anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat. Para petani mengaku kecewa karena akhirnya pemerintah memutuskan untuk melakukan impor bawang merah.

Dalam forum Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) itu, Ketua Fortani Wayan Supadno mengatakan, dengan keputusan mengimpor bawang, pemerintah tidak konsisten dengan sikapnya. “Kami dari Forum Tani Indonesia merasa kecewa dengan keputusan pemerintah mengimpor bawang merah, artinya pemerintah tidak bisa mengantisipasi kenapa harus sampai melakukan impor,” kata Supadno, Rabu (25/5).

(Baca juga: Stok Pangan Lebaran Cukup, Impor tak Perlu)

Sebelumnya, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menegaskan, pemerintah tidak akan melakukan impor bawang karena produksi bawang merah saat ini dalam posisi surplus. Amran menerangkan, produksi bawang merah di Indonesia saat ini adalah 241.600 ton, sementara kebutuhannya 175.600 ton. “Banyak yang minta. Tidak akan saya keluarkan impor bawang. Bawang merah masih surplus,” kata Amran.

Kini, kenyataannya pemerintah malah memutuskan untuk mengimpor bawang merah sebanyak 2500 ton dengan alasan menstabilkan harga saat bulan puasa dan lebaran. Saat ini, harga bawang merah di beberapa pasar dipatok Rp40 ribu per kilogram. Dengan impor tersebut, harga ditargetkan turun menjadi Rp20 ribu/kg.

Keputusan itu, kata Supadno, menunjukkan pemerintah kurang bijak dan kurang tegas mengantisipasi kebutuhan jangka panjang. Dia menilai, dalam hal komoditas bawang, jika memang volume-nya kurang, maka itu artinya lahan tanaman kurang luas, demikian pula jumlah petani bawang yang masih kurang banyak.

“Ini harus jadi introspeksi pemerintah, dan paling mendasar di mata saya adalah kurangnya pelaku pertanian usia muda, serta kurang luasnya lahan pertanian. Hal ini tidak cukup dijawab dengan  manipulasi data, dengan operasi pasar, atau dijawab dengan impor,” tegasnya.

Supadno menilai, dengan melakukan impor pemerintah telah membunuh karakter profesi pertanian. “Maka jangan salahkan kalau setiap tahun kita kehilangan setengah juta kepala keluarga petani yang beralih profesi karena tindakan-tindakan impor yang secara manajemen tidak tepat,” ujarnya.

Menanggapi keluhan petani, khususnya para petani bawang itu, Wakil Ketua Komisi IV Herman Khaeron mengaku masih bisa memahami langkah pemerintah. Menurutnya, mendekati Ramadhan dan Idul Fitri, yang difokuskan adalah stabilitasi harga. Masuknya bawang merah impor dimaksudkan  untuk bisa mensuplai secara cukup, baik dari berbagai komoditas yang dibutuhkan oleh masyarakat, dan pada saat yang sama diharapkan stabil.

“Dengan demikian, tidak menimbulkan gonjang-ganjing atau fluktuasi harga selama Ramadhan dan Idul Fitri,” ujar Herman.

Menurutnya, bawang merah termasuk komoditas yang daya tahannya tidak terlalu panjang. Dia mengakui, ke depan hal ini menjadi pekerjaan rumah Kementerian Pertanian, supaya sejalan dengan ditingkatkannya produktivitas di budidaya, serta pasca panen, agar komoditas itu dapat lebih bertahan lama.

“Untuk hari-hari besar keagamaan yang terindikasi akan meningkatnya suplai, harusnya sudah diprediksi, dan tentu atas perwilayahan distribusi dan penyediaan berbagai pasca panennya harus disiapkan,” kata politisi Partai Demokrat itu.

Terkait sikap pemerintah yang dinilai tidak konsisten, anggota dewan dari daerah pemilihan Jabar VIII itu mengatakan, hal itu mungkin juga disebabkan oleh faktor-faktor pasca panen. Pemerintah, kata dia, bisa jadi kurang memperhitungkan komoditas bawnag merah termasuk yang tidak bisa bertahan lama atau adanya distribusi yang terhambat.

“Oleh karena itu, hal ini harus tetap dipikirkan, kalau kemudian tekadnya untuk berbagai komoditas yang bisa diproduksi di dalam negeri ini harus seutuhnya disuplai oleh dalam negeri, berarti tekadnya juga harus memperbaiki tingkat harga di tingkat petani. Supaya kuantitas produksi ditingkat petani juga bisa dipertahankan. Jangan sampai harga di tingkat pasarnya ditekan pada level tertentu, tetapi kemudian pada akhirnya merembet di tingkat petani tidak ekonomis,” tegasnya.

Jika itu terjadi, kata Herman, akan menyebabkan petani tidak bersemangat lagi untuk membudidaya bawang merah. “Kalau sedang panen bawang jatuh di tingkat petani, tetapi dalam waktu tidak terlalu lama sekitar satu bulan kemudian di tingkat pasarnya naik tinggi. Persoalan pasca panen dan distribusi memang belum terurus dengan baik,” tegasnya. (*)

Ikuti informasi terkait komoditas bawang >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *