Pemerintah Paparkan Studi Terkait Pengelolaan Sawit Berkelanjutan

Perkebunan kelapa sawit (dok. palmoilpledge.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, pemerintah terus mengupayakan solusi untuk memenuhi hajat hidup orang banyak, dengan tetap mengutamakan keberlanjutan lingkungan. “Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi oleh industri kelapa sawit, utamanya di Indonesia, fakta berbasis ilmiah seperti ini diperlukan untuk memberikan pemahaman kepada publik, terkait pengembangan kelapa sawit di Indonesia,” ujar , usai penyerahan hasil studi yang dilakukan Satuan Tugas Kelapa Sawit Internasional Union for Conservation of Nature (IUCN), di Jakarta, Senin (4/2).

Hasil studi menunjukkan, komoditas minyak nabati lainnya membutuhkan lahan sembilan kali lebih besar dibandingkan kelapa sawit. Sebagai perbandingan, produksi 1 ton minyak nabati, kelapa sawit memerlukan lahan seluas 0,26 hektare. Sementara itu, untuk menghasilkan jumlah yang sama, minyak bunga matahari dan kacang kedelai memerlukan lahan masing-masing 1,43 hektare, dan 2 hektare.

“Kaitannya dengan lingkungan dan keanekaragaman hayati, studi ini merupakan permulaan bagus untuk kemudian melahirkan pemahaman yang lebih baik dari berbagai pihak,” ujar Darmin.

Sementara itu, Kepala Badan Litbang dan Inovasi KLHK Agus Justianto, mewakili Menteri LHK Siti Nurbaya menyampaikan, studi-studi yang dilakukan di Indonesia sebenarnya sudah banyak. “Kami menawarkan untuk melakukan diskusi lanjutan dengan KLHK, untuk menyelaraskan dengan hasil-hasil studi kita. Dari sisi biodiversity, mereka tidak menyampaikan data yang cukup banyak dalam hasil studinya. Hal ini bisa didukung dengan hasil studi kita,” jelas Agus.

Salah satu studi KLHK menunjukkan, ternyata di kebun sawit itu banyak ditemukan ular piton, dan orangutan. Jenis satwa ini sudah bisa beradaptasi dengan adanya perubahan tutupan lahan menjadi kebun sawit. “Sekarang tinggal bagaimana mengatur supaya keberadaan mereka itu tidak terancam oleh aktivitas manusia,” kata Agus.

Agus juga menyampaikan sudah ada kebijakan pemerintah yang menjadi corrective action terkait dengan biodiversity. Misalnya petunjuk pelaksanaan (juklak) dan pengaturan tentang orangutan yang ada di kebun sawit. Selanjutnya, sosialisasi agar keberadaan ular piton tidak dianggap sebagai suatu ancaman terhadap masyarakat. “Yang penting adalah bagaimana bersama-sama melindungi, dan untuk bisa hidup bersama,” tegas Agus.

Erik Meijaard, penulis utama studi tersebut menyatakan tidak ada solusi yang sederhana jika melihat dampak terhadap keanekaragaman hayati yang ditimbulkan oleh kelapa sawit dengan perspektif global. “Kita ingin melihat apa imbasnya kelapa sawit ini, bisa mengurangi kemiskinan signifikan kah, pengaruh pada lingkungan, keanekaragaman hayati, apa lebih besar keuntungannya untuk SDG atau ada pengorbanan (trade in),” kata dia.

IUCN mengacu pada fakta bahwa pada 2050 dunia masih membutuhkan minyak nabati hingga 310 juta ton. Saat ini minyak kelapa sawit berkontribusi sebesar 35 persen dari total kebutuhan minyak nabati dunia, dengan konsumsi terbesar di India, Cina dan Indonesia.

Adapun proporsi penggunaannya adalah 75 persen untuk industri pangan dan 25 persen untuk industri kosmetik, produk pembersih dan biofuel. IUCN melakukan studi selama sembilan bulan dan rampung pada Juni 2018.

Laporan berupa aalisis obyektif tentang dampak kelapa sawit terhadap keanekaragaman hayati secara global, serta menawarkan solusi untuk pelestarian lingkungan. Hasil studi menyimpulkan bahwa komoditas minyak nabati lainnya membutuhkan lahan sembilan kali lebih besar dibandingkan kelapa sawit.

Dengan demikian, mengganti komoditas kelapa sawit dengan komoditas minyak nabati lainnya, akan secara signifikan meningkatkan total kebutuhan lahan untuk memproduksi minyak nabati non kelapa sawit dalam rangka pemenuhan kebutuhan global atas minyak nabati.

Lebih lanjut Erik menyampaikan bahwa separuh dari populasi dunia menggunakan minyak kelapa sawit dalam bentuk makanan. Jika penggunaan minyak sawit dilarang atau diboikot, minyak nabati lainnya, yang membutuhkan lahan lebih luas, akan menggantikan kelapa sawit.

“Kelapa sawit akan tetap dibutuhkan, dan kita perlu segera mengambil langkah untuk memastikan produksi kelapa sawit yang berkelanjutan, memastikan semua pihak, baik pemerintah, produsen, dan rantai pasok, menghargai komitmen mereka terhadap keberlanjutan,” pungkasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *