Pendekatan Ekologis untuk Bawang Berkelanjutan

Ketua Gerakan Petani Nusantara Hermanu Triwidodo memberikan pemaparan di acara Seminar Nasional Membangun Regenerasi Petani untuk Mewujudkan Kedaulatan Pangan (dok. gerakan petani nusantara)
Ketua Gerakan Petani Nusantara Hermanu Triwidodo memberikan pemaparan di acara Seminar Nasional Membangun Regenerasi Petani untuk Mewujudkan Kedaulatan Pangan (dok. gerakan petani nusantara)

Brebes, Villagerspost.com – Bawang merah merupakan salah satu komoditas yang mendapat perhatian cukup besar dari pemerintah karena menjadi komoditas yang turut menyumbang terjadinya inflasi. Fluktuasi produksi dan harga bawang terus terjadi, namun sayang situasinya belum banyak berubah. Bahkan setelah minggu lalu presiden Joko Widodo melakukan blusukan ke kebun bawang di Brebes dan menemukam hama ulat grayak.

“Sebenarnya persoalan yang menimpa petani bawang merah di Brebes bukan hanya terjadi saat ini namun sepanjang waktu, sejak dahulu. Setiap musim petani bawang merah dihadapkan pada persoalan hama penyakit dan ketidakpastian harga,” kata Pengurus Nasional Gerakan Petani Nusantara (GPN) Mashadi, Minggu (24/4).

Mashadi mengungkapkan hal itu, dalam acara Seminar Nasional Membangun Regenerasi Petani untuk Mewujudkan Kedaulatan Pangan, yang dihelat di Kampus Universitas MUhadi Setiabudi (UMUS), Brebes, Jawa Tengah. Acara itu diselenggarakan oleh Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Gerakan Petani Nusantara (GPN), Klinik Tanaman, Departemen Tanaman IPB dan BEM Universitas Muhadi Setiabudi (UMUS).

(Baca juga: Kunjungi Petani Brebes, Jokowi “Dihadiahi” Bawang Berulat)

Menurut Mashadi persoalan yang berulang ini menunjukkan solusi yang ditawarkan belum menjawab akar persoalan. Oleh karenanya diperlukan upaya membangun dari bawah dengan menemukenali persoalan supaya menjawab persoalan riil yang dibutuhkan petani.

“Pada sisi lain perlu menata dari atas untuk membangkitkan pertanian. Selama pemimpinnya tak memiliki kepedulian terhadap petani akan sama saja,” tegasnya.

Ketua Departemen Proteksi Tanaman IPB Suryo Wiyono mengungkapkan hal senada. Menurutnya pertanian harus dilakukan dengan pendekatan berkelanjutan atau ekologis. “Dalam kasus bawang misalnya kenapa ulat dan fusarium (sejenis jamur) atau moler terus ada ditanaman bawang karena praktik budidaya justru mendorong lestarinya hama penyakit itu,” tegasnya.

Suryo menegaskan, seharusnya pemerintah mengubah pendekatan itu. Misalnya melepaskan input racun dalam paket peningkatan produksi bawang merah, dengan demikian penggunaannya dapat ditekan. “Selain itu juga perlu diupayakan pendampingan kepada petani secara intensif sehingga terjadi perbaikan proses budidaya menjadi lebih berkelanjutan,” kata Suryo.

Sementara itu Koordinator KRKP Said Abdullah mengungkapkan, sektor pertanian sedang mengalami situasi sulit. Perlu komitmen politik yang kuat dari pemerintah untuk hal ini. Tanpa itu cita-cita berdaulat pangan hanya akan jadi slogan semata.

“Padahal kedaulatan pangan adalah mandat undang-undang. Jangan sampai program yang dibuat hanya sekedar bussiness as usual belaka,” ujarnya.

Ketua Umum GPN Hermanu Triwidodo mengungkapkan, ditengah situasi sulit di dunia pertanian ini perlu terobosan dengan menggerakan generasi muda kembali ke pertanian. “Selain itu perlu juga sikap hati hati pemerintah dalam melakukan program atau kebijakan jangan sampai kebijakan yang dimunculkan malah melemahkan petani padahal harusnya dimuliakan,” tegas Hermanu. (*)

Ikuti informasi terkait komoditas bawang >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *