Peneliti Litbang LHK Ungkap Motif Masyarakat Bengkulu Gemar Budidaya Kayu Bawang | Villagerspost.com

Peneliti Litbang LHK Ungkap Motif Masyarakat Bengkulu Gemar Budidaya Kayu Bawang

Tanaman Kayu Bawang (dok. klhk)

Jakarta, Villagerspost.com – Peneliti dari Balai Litbang LHK (BP2LHK) Palembang Bambang Tejo Premono dan Sri Lestari penasaran dengan banyaknya masyarakat Bengkulu yang memilih menanam kayu bawang (Azadirachta excelsa (Jack) M. Jacobs), dibanding tanaman lain di lahan mereka. Keduanya pun melakukan penelitian untuk mencari tahu jawabnya.

Hasil penelitian itu dituangkan dalam laporan berjudul “Agroforestri Berbasis Tanaman Lokal: Upaya Rasionalitas Petani dalam Menanam Kayu Bawang (Azadirachta excelsa (Jack) M. Jacobs)”. Kedua peneliti ini mengupas motivasi petani dalam memilih tanaman ini lewat uji kelayakan finansial yaitu seberapa besar kelayakan usaha dan luas lahan minimum yang dibutuhkan serta bagaimana pasar kayu bawang yang ada di lapangan.

Dalam tulisannnya disebutkan, hasil analisis finansial dengan tingkat suku bunga 11% dan 13%, pola agroforestri kayu bawang dengan karet alam, coklat, karet unggul dan sawit dianggap layak atau menguntungkan untuk diusahakan pada lahan milik. Namun, secara proporsi alokasi lahan yang optimum, nilai tertinggi terdapat pada pola agroforestri kayu bawang dan karet unggul.

“Elastisitas kelayakan ditunjukkan pada pola agroforestri kayu bawang dan karet unggul yang memiliki tingkat pengembalian modal yang paling tinggi apabila modal usaha penanaman kayu bawang diperoleh dari pinjaman/kredit usaha,” jelas Bambang, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Selasa (4/9).

Lebih lanjut dijelaskan, terkait pemasaran, petani di Bengkulu sudah memiliki mekanisme tersendiri. Umumnya, petani ini menjual kayu ke para penggesek yang ada di desa. Penggesek ini kemudian akan menjual kayu bawang dalam bentuk balok kaleng ke para tengkulak/pengumpul yang ada di desa atau dari kota. Pemasaran kayu bawang ini dapat dikatakan efisien, karena konsumen hanya membayar sepertiga dari nilai yang harus dibayarkan.

Selain itu, pemasaran ini juga didukung dengan berkembangnya usaha perkayuan dan tata usahanya. Hampir di setiap desa-desa yang menjadi sumber kayu bawang telah memiliki usaha pengolahan kayu bawang skala kecil. Disamping itu, jumlah pelaku pemasaran kayu bawang cukup banyak sehingga memudahkan petani untuk mendapatkan informasi harga dan melakukan transaksi proses tawar menawar.

Dari penelitian juga terungkap, kesukaan bertanam kayu bawang juga terkait dengan budaya. “Kayu bawang dipilih masyarakat Bengkulu karena tanaman ini merupakan identitas budaya bagi masyarakat Bengkulu terutama pada suku Rejang, Lembak, dan Serawai yang merupakan suku yang ada di Provinsi Bengkulu,” kata Bambang.

“Selain itu, kayu bawang memiliki nilai ekonomi yang tinggi, selain digunakan untuk kebutuhan sendiri, kayu bawang juga ditanam untuk tabungan atau investasi untuk anak atau cucu,” tambah Bambang.

Sebagaimana diketahui, kayu bawang merupakan salah satu jenis unggulan di hutan rakyat, karena memilki kualitas kayu yang baik, pertumbuhan yang cukup cepat, serta tidak mengganggu tanaman pokok apabila ditanam secara bersama-sama. Prospek pasar dan harganya pun cukup baik.

“Dari hasil penelitian di lapangan ditemukan, rata-rata kepemilikan lahan oleh masyarakat pada lokasi penelitian antara 1,03-3 hektare, sementara itu kebutuhan minimal sesuai pola penanaman campuran kayu bawang antara 0,34 -1,01 Ha. Dengan demikian, pola agroforestri kayu bawang bisa diterapkan di lahan tersebut,” jelas Bambang.

Selain itu, pada umumnya masyarakat Bengkulu memanen kayu bawang pada umur 15 tahun dengan volume per batang 0,83 m, baik untuk konsumsi rumah tangga sendiri maupun dijual pada tengkulak kayu. Pada umur 15 tahun, kayu bawang sudah memiliki harga jual yang cukup tinggi dan tengkulak sudah bersedia membeli dengan harga yang pantas.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *