Pengendalian Hama Terpadu, Solusi Memutus Lingkaran Setan Hama Wereng dan Virus Padi

Para petani menunjukkan tanaman padinya yang mati akibat serangan wereng dan virus hampa (dok. villagerspost.com/deni nurhadiansyah)

Bogor, Villagerspost.com – Terjadinya serangan hama virus kerdil dan wereng coklat di Indonesia, menyisakan catatan buruk bagi pertanian nasional. Pada tahun 2017 lalu, ledakan hama wereng coklat, dan virus kerdil telah melumpuhkan sentra produksi beras di sekitar 30 kabupaten di Indonesia. Hal ini membuat sejumlah praktisi pertanian menggalakkan lagi program Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Di Indonesia, PHT mempunyai sejarah monumental.

Program ini telah ada sejak tahun 1986 lalu lewat kebijakan Inpres no. 3 tahun 1986. Kebijakan itu diperkuat dengan UU no. 12 tahun 1992, dan PP no. 6 tahun 1995. “Setelah tahun 1986 itu, Indonesia menjadi acuan masyarakat internasional dalam pencapaian swasembada pangan, dn pelaksanaan PHT,” ujar Kepala Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian (Faperta) Institut Pertanian Bogor (IPB), Suryo Wiyono dalam keterangan tertulis yang diterima Villagerspost.com, Kamis (22/3).

PHT dan Sekolah Lapang PHT (SLPHT) di Indonesia, kata Suryo, telah dicatat dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bergengsi. Namun, di saat negara lain mengadopsi program ini, pelaku pertanian di Indonesia justru meninggalkan sistem pengendalian hama dan penyakit tanaman tersebut.

“Akibatnya terjadi ledakan wereng coklat padi, virus kerdil hampa, dan kerdil rumput pada tahun 2017 lalu. Kondisi ini disebabkan oleh kemarau yang basah, juga penanaman padi terus menerus dalam lahan yang sama. Diperparah oleh penggunaan pestisida yang salah dan berlebihan,” ungkap Suryo.

Ditinggalkannya konsep PHT, kata Suryo, mempunyai andil dalam ledakan hama wereng dan virus kerdil tersebut. Tahun ini, lanjut pakar penyakit tanaman itu, serangan wereng, dan virus masih menjadi ancaman. Untuk itu, Suryo bersama tim Proteksi Tanaman Faperta IPB menilai Indonesia perlu merancang langkah strategis untuk menghadapi ancaman hama tersebut.

Setelah lebih dari 30 tahun kelahiran PHT, Suryo menilai prakitisi pertanian dan pemerintah perlu mennggelar diskusi  ilmiah. Dikusi ini harus melibatkan para pakar hama dan penyakit dari seluruh Indonesia. “Diskusi ilmiah perlu dilakukan untuk menengok, mengkaji  kembali PHT dari aspek kesejarahan, landasan ilmiah,  hambatan pelaksanaan, sesuai dengan  perkembangan sains dan kehidupan sosial  politik nasional dan internasional,” tukas Suryo.

Atas dasar itu lah, Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB, bekerjasama dengan Perhimpunan Entomologi Indonesia, dan Perhimpunan Fitopatologi Indonesia menggelar seminar nasional bertajuk “Menemukan Kembali PHT Kita: Memutus Lingkaran Setan Ledakan Wereng Coklat dan Virus Padi“. Seminar yang digelar di IPB ini dihadiri oleh ratusan praktisi dan pengamat pertanian nasional.

Hadir sebagai narasumber para ahli pertanian, antara lain Prof Soemartono Sosromarsono (IPB), Prof Dr. Aunu Rauf (IPB), Prof Dr. Damayanti Buchori (IPB),  Prof Dr. Sri Hendrastuti Hidayat (IPB), Dr Ir Hermanu Triwidodo (IPB), Prof Dr. Y Andi Trisyono (UGM), Dr Sri Sulandari (UGM)  Dr. Gatot Mujiono (Univ Brawijaya), Dr Fauziah Laja (Loka Penelitian Tungro), Sebagai moderator :  Prof Dr A Latief Abadi (Unibraw),  Prof Dr. Siti Herlinda (Unsri), Ir Sarsito Gaib WS MM (praktisi),  Ir Nandang M Kholil MM, Dr Martua Suhunan Sianipar (Unpad) . Seminar dibuka oleh  Ketua LPPM IPB  Dr Aji Hermawan, mewakili Rektor IPB; dihadiri oleh Dekan Fakultas Pertanian IPB Dr Ir Suwardi.

“Acara ini  merupakan  ajang untuk sharing informasi, pengalaman, pengetahuan   terkait dengan masalah ledakan wereng cokelat dan virus kerdil. Melalui acara ini diharapkan akan dirumuskan  strategi penguatan kembali PHT di tingkat praktis, gerakan, sains, maupun policy,” tandas Suryo. (*)

Editor: Rizaldi Abror

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *