Penjualan Susu Kental Manis Disarankan DPR Dihentikan Sementara

Produk kental manis diminta tak lagi pakai tagline susu (dok. kaskus)

Jakarta, Villagerspost.com – Polemik seputar susu kental manis terus berlanjut. Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Saleh Partaonan Daulay menyarankan agar produk yang berlabel Susu Kental Manis (SKM) yang tak jelas kandungan nutrisinya, dihentikan sementara peredarannya dari pemasaran. Dia mendesak produsen SKM memberi penjelasan yang sebenar-benarnya soal kandungan yang ada di produk tersebut.

“Sebelum ada kejelasan soal produk tersebut, sebaiknya penjualannya dihentikan sementara. Sebab, pada kemasan itu secara eksplisit masih tertulis susu kental manis. Kalau memang tidak mengandung susu seperti temuan BPOM, tentu tidak layak dipasarkan dengan label seperti itu,” papar Saleh dalam keterangan persnya, Kamis (5/7).

Saleh mengatakan, produk SKM yang dipasarkan oleh produsen harus jelas nutrisinya. Jangan sampai masyarakat membeli produk yang tidak mengandung nutirisi yang baik seperti yang diiklankan.

“Kalau melihat iklannya, susu kental manis ini kan sangat bergizi. Lalu ada temuan seperti ini. Sudah sepatutnya kita mendapatkan penjelasan resmi dari produsennya. Jangan sampai terkesan ada unsur penipuan di dalamnya,” ungkap politikus PAN itu.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan telah menginformasikan kepada BPOM selaku pengawas izin edar untuk lebih memperhatikan produk kental manis agar tidak dikategorikan sebagai produk susu bernutrisi untuk menambah asupan gizi. BPOM telah menerbitkan 4 larangan untuk label dan iklan susu kental manis. Karena produk yang dimaksud tidak mengandung susu sapi, justru malah mengandung lebih dari 40 persen gula, sehingga selain merusak gigi, produk ini juga tidak memiliki kandungan gizi susu.

Karena yang dikandung hanya 8 persen lemak susu. Menanggapi masalah ini, Komisi IX akan kembali meminta klarifikasi dari BPOM. “Walau pernah disinggung dalam rapat, Komisi IX akan meminta klarifikasi langsung kepada BPOM terkait susu kental manis ini. Pasalnya, pernyataan media yang mereka sampaikan telah menimbulkan kegelisahan di masyarakat. Apalagi selama ini, masyarakat banyak yang mengkonsumsi susu kaleng kental manis untuk menambah nutrisi keluarga,” jelasnya.

Pada kesempatan terpisah, Ketua DPR Bambang Soesatyo juga meminta masyarakat tidak mengonsumsi susu kental manis untuk sementara. “Mengimbau masyarakat untuk tidak mengonsumsi susu kental manis sampai ada penjelasan resmi dari pihak produsen susu kental manis, mengingat negara memiliki kewajiban untuk menjaga kesehatan masyarakat,” kata Bamsoet dalam keterangan tertulisnya, Kamis (5/7).

Bamsoet meminta komisi-komisi di DPR meminta penjelasan dari mitranya soal susu kental manis. BPOM didesak memberi klarifikasi soal polemik susu kental manis. Komisi III DPR juga diharapkan mendorong Kepolisian untuk mengkaji secara mendalam motif di balik pernyataan BPOM untuk dapat membuktikan kebenaran dari pernyataan tersebut.

“Polisi agar melakukan tindakan tegas terhadap produsen susu kental manis tersebut jika terbukti benar pernyataan BPOM dengan tuduhan penipuan terhadap masyarakat dan pelanggaran terhadap UU Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen,” ujarnya.

Bamsoet meminta Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) melakukan sosialisasi bahwa masyarakat bisa melakukan class action soal susu kental manis.

Sebelumnya, Koordinator Bidang Pengaduan dan Hukum Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sularsi mengatakan, masih banyak produk makanan dan minuman yang dikonsumsi tidak sesuai dengan ketentuan. “Dari 20 produk makanan dan minuman yang kami lihat tabel kandungannya, ternyata ada 2 produk yang sering dikonsumsi oleh anak-anak dan itu sering sekali dikosumsi saat acara ulang tahun anak-anak,” kata Sularsi.

Di Indonesia, menurut dia, informasi ketentuan layak konsumsi produk makanan dan minuman tidak tertera dengan jelas sehingga masyarakat tidak menyadari sepenuhnya. Produk untuk anak seharusnya memiliki keterangan jelas soal kandungan garam, gula, dan lemak.

Di negara lain, sebutnya, produk yang memiliki kandungan gula tinggi akan diberikan label merah sehingga masyarakat mengetahui secara pasti kandungan tersebut. “Ke depan kami akan mengarah ke sana. Kalau kadar gula tinggi warnanya apa, kalau garam tinggi warnanya beda lagi. Jadi masyarakat waspada. Sekarang tulisan ketentuan umur, misalnya, boleh diminum siapa itu kecil sekali sehingga [konsumen] enggak aware,” pungkasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *