Peran Penting Petani Sawit Mandiri Menuju Nol Deforestasi

Investigator Greenpeace mengambil data koordinat GPS pada lahan gambut yang menjadi habitat orangutan yang baru saja dibakar untuk ditanami sawit di Ketapang, Kalimantan Barat (dok. greenpeace/ulet ifasanti)
Investigator Greenpeace mengambil data koordinat GPS pada lahan gambut yang menjadi habitat orangutan yang baru saja dibakar untuk ditanami sawit di Ketapang, Kalimantan Barat (dok. greenpeace/ulet ifasanti)

Jakarta, Villagerspost.com – Petani sawit mandiri bisa berperan penting dalam transformasi menuju nol deforestasi. Hal itu dibuktikan dengan diluncurkannya panduan untuk pengelolaan perkebunan rakyat bebas deforestasi oleh Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) dan Greenpeace. Peluncuran panduan dilakukan hari ini, Selasa (30/8) di Jakarta.

Hadir dalam peluncuran itu, beberapa narasumber dari Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian dan Wetlands International. Dalam acara itu, Mansuetus Darto dari SPKS mengatakan, peluncuran panduan atau SOP ini adalah bertujuan untuk menyediakan panduan untuk petani mandiri agar dapat mengidentifikasi area konservasi dan lahan budidaya sekaligus untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksinya.

“Untuk itu, penting adanya panduan bagi petani untuk bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas produksinya, tanpa harus membuka lahan hutan dan gambut,” ujarnya dalam pernyataan tertulis yang diterima Villagerspost.com.

Darto memaparkan, saat ini, luas perkebunan sawit rakyat telah mencapai 43% dari luas keseluruhan perkebunan sawit di Indonesia. Sayangnya, produksi dari petani sawit hanya mencapai 12-14 ton/ha/tahun dari produksi optimal 36/ha/ton/tahun.

Sebagian besar dari petani sawit mandiri memproduksi TBS (tandan buah segar) tanpa bantuan dari pihak luar, termasuk dukungan teknis. “Hasilnya, produksi yang dihasilkan petani cenderung lebih rendah dibanding perkebunan skala besar,” terangnya.

Industri minyak sawit global sedang bertransformasi menuju nol deforestasi, ke arah yang lebih bertanggungjawab dan berkelanjutan di berbagai tingkat pasok. Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi, seringkali menyudutkan para petani sawit mandiri.

Terkait hal itu, Jurukampanye Hutan Greenpeace Ratri Kusumohartono mengatakan, SOP ini menjadi jawaban kepada tantangan berbagai pihak yang kerap meragukan kemampuan petani untuk menghasilkan produk yang bebas dari deforestasi.

Dengan adanya SOP pengelolaan tersebut, petani sawit mandiri akan berperan aktif dalam nilai-nilai keberlanjutan. “Sekarang saatnya, pemerintah dan para pelaku industri sawit mendukung upaya ini agar petani mandiri bisa memproduksi sawit yang berkelanjutan hingga mampu bersaing di pasar internasional. Jika petani bisa menghasilkan minyak sawit yang bebas dari deforestasi, tidak ada alasan lagi bagi para pengusaha sawit skala besar untuk terus membuka hutan,” ujarnya.

Perlunya dukungan dari pemerintah dan para pelaku industri sawit menjadi kunci agar SOP ini bisa diimplementasikan dengan baik, sehingga nol deforestasi dapat terwujud. Hal ini juga sejalan dengan visi ekonomi kerakyatan Presiden Joko Widodo untuk memajukan dan meningkatkan taraf hidup petani skala kecil dan mengoptimalkan hasil perkebunan yang bebas dari kebakaran hutan.

Ikuti informasi terkait perkebunan sawit >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *