Perang Berlanjut, Dua Pertiga Penduduk Yaman Alami Krisis Air Bersih

Rumah-rumah hancur akibat perang di Yaman (dok. oxfam america.org)
Rumah-rumah hancur akibat perang di Yaman (dok. oxfam america.org)

Jakarta, Villagerspost.com – Perang saudara yang terus berkecamuk di Yaman dan krisis bahan bakar minyak yang membelit akibat perang, membuat penduduk Yaman kini juga terjerat krisis air bersih. Oxfam mencatat, saat ini ada tambahan sekitar 3 juta penduduk Yaman yang mengalami krisis air minum sehingga total penduduk Yaman yang mengalami krisis air bersih kini mencapai 16 juta penduduk. Angka itu nyaris mencapai 2/3 jumlah penduduk Yaman.

Akibat krisis air tersebut, penduduk Yaman terpaksa meminum air yang tidak aman akibat hancurnya sistem pengairan setempat. Hal ini tentunya bakal berdampak pada timbulnya penyakit yang bisa mengancam nyawa penduduk Yaman seperti Malaria, Kolera dan Diare.

Jutaan orang juga terpaksa menggali sumur yang airnya juga tak aman diminum atau menggantungkan kebutuhan air pada kiriman suplai air, meskipun opsi terakhir ini tak bisa lagi dilakukan di hampir seluruh wilayah Yaman. Data Oxfam yang berasal dari empat provinsi di Yaman menunjukkan harga air bersih yang dipasok melalui truk-truk kini melonjak hampir tiga kali lipat.

Country Director Oxfam Yaman Grace Ommer mengatakan, jika peperangan, kelangkaan bahan bakar minyak dan kelangkaan suplai obat-obatan, kekurangan tidur akibat pemboman dan harga yang terus melangit tak juga cukup (menghentikan perang-red), saat ini nyaris 2/3 penduduk Yaman menghadapi risiko hidup tanpa air bersih dan layanan sanitasi.

“Angka ini setara populasi kota Berlin, London, Paris dan Roma dijadikan satu, semua membusuk dibalik tumpukan sampah di jalan, pipa-pipa air yang rusak dan tanpa air bersih selama tujuh minggu berturut-turut,” katanya dalam surat elektronik yang diterima Villagerspost.com, Selasa (26/5).

Tujuh minggu serangan udara dan peperangan telah merusak dan menghancurkan bagian besar jaringan pengairan. Di wilayah pedesaan di provinsi Hajjah dan Al Hodeidah di Barat Yaman, 40% pasokan air bersih yang dibangun Oxfam saat ini ditutup. Sejumlah 15.000 orang pengungsi dari Saada di wilayah itu juga hidup tanpa pasokan air bersih. Berdasarkan gambaran itu, Oxfam memperkirakan ada tambahan 3 juta lebih orang di seluruh negeri saat ini kehilangan akses atas air bersih akibat konflik.

Sebagai tambahan, pemerintah lokal di 11 kota termasuk Aden, Al Hodeidah dan Sanaa) telah meminta kepada organisasi bantuan kemanusiaan untuk menyediakan lebih dari 2 juta liter bahan bakar yang diperlukan agar dapat terus memompa air untuk jutaan orang yang membutuhkan air dari sistem suplai air. Pemerintah lokal juga mengingatkan mereka tidak memiliki cadangan bahan bakar yang cukup untuk terus menjalankan pompa dan melakukan pengolahan limbah yang bisa berdampak pada ancaman kesehatan bagi masyarakat. Tumpukan sampah yang membusuk kini memenuhi jalan-jalan di Yaman akibat tak berfungsinya layanan pembuangan sampah.

Penduduk di wilayah Taiz mengatakan kepada Oxfam mereka menderita kelangkaan air yang parah dan mengandalkan kiriman lewat truk. Tetapi kelangkaan bahan bakar dan pertempuran di jalanan membuat waktu pengiriman air melalui truk bisa memakan waktu sampai 4-5 hari dan harganya pun meningkat berlipat-lipat.

“Ancaman persebaran penyakit serius sangat jelas jika masalah air bersih dan sanitasi tidak diperhatikan. Rumah sakit berjuang untuk bertahan tanpa bahan bakar, air bersih dan suplai obat-obatan. Mereka jelas tak bisa menghadapi ancaman persebaran penyakit,” kata Omer.

Dia mengatakan, Yaman memerlukan adanya gencatan senjata segera dan membuka jalur perdagangan sehingga suplai barang-barang penting bisa masuk ke negeri itu agar bisa membangun kembali infrastruktur pengairan. “Tanpa ini akan mengantarkan pada bencana kesehatan dan akan menambah tumpukan penderitaan bagi rakyat Yaman,” tegasnya. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *