Perempuan Nelayan Tanam 10.000 Bibit Mangrove untuk Kehidupan

Nelayan Langkat menanam Mangrove (dok. kiara)
Nelayan Langkat menanam Mangrove (dok. kiara)

Jakarta, Villagerspost.com – Perempuan nelayan di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, bergerak menyelamatkan ekosistem pesisirnya dengan menanam 10.000 bibit mangrove. Aksi peduli pesisir ini dilatarbelakangi oleh pentingnya melestarikan mangrove karena besarnya manfaat mangrove bagi kehidupan masyarakat pesisir.

Penanaman mangrove yang dilakukan pada Kamis (8/10) ini merupakan bentuk kepedulian masyarakat pesisir di Langkat bersama dengan Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI) Kabupaten Langkat, Dompet Dhuafa, dan Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA). Sebelumnya, sejak tahun 2006 hutan mangrove seluas 16.466 hektare di DAS Tanjung Balai dan Sei Babalan, Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara, dialihfungsikan menjadi perkebunan sawit.

Akibat alih fungsi hutan mangrove ini, kondisi lahan menjadi rusak, mata pencaharian nelayan enam desa, yaitu Desa Perlis, Kelantan, Lubuk Kasih, Lubuk Kertang, Alur dua, Kelurahan Brandan Barat dan Kelurahan Sei Billah pun menurun drastis.

“Dulu masyarakat di sini bisa menghasilkan 50-60 liter madu dari kawasan mangrove, hari ini mereka gigit jari. Tidak ada lagi madu yang dihasilkan. Selain itu, nelayan berkurang terus penghasilannya. Sewaktu paluh masih ditutup, nelayan hanya dapat uang Rp20.000 per hari,” ujar Koordinator Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI) Kabupaten Langkat Ratna dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com.

Penutupan 30 lebih paluh atau anak sungai (paluh Burung Lembu, Terusan Habalan, Napal dan Tanggung) dengan diameter 3-4 meter membuat nelayan-nelayan bubu, ambai, belat, dan jaring harus beralih profesi menjadi tukang ojek, buruh atau TKI. “Kami melihat masyarakat, khususnya perempuan nelayan, bersemangat mengembalikan fungsi mangrove dan kesejahteraannya,” kata Presiden Direktur Dompet Dhuafa Ahmad Juwaini.

Juwaini mengatakan, mangrove merupakan harapan terbaik untuk permasalahan perubahan lingkungan. Dalam situasi inilah, Dompet Dhuafa hadir sebagai lembaga pendukung rehabilitasi penanaman mangrove yang telah dilakukan oleh masyarakat pesisir di Kabupaten Langkat sebagai upaya pemberdayaan masyarakat.

“Untuk itu, Dompet Dhuafa mengajak masyarakat luas untuk mengembalikan fungsi hutan mangrove seperti sediakala,” tambah Juwaini.

Sementara itu Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) menilai, gerakan ini merupakan salah satu bentuk kepedulian dari masyarakat pesisir untuk mengembalikan fungsi hutan mangrove agar kehidupan mereka kembali tenteram dan sejahtera.

“Inisiatif ini menjawab tantangan yang dihadapi oleh masyarakat pesisir, yakni konversi lahan menjadi perkebunan sawit. Karena mangrove memberikan kehidupan bagi banyak orang. Untuk itulah, gerakan penyelamatan mangrove untuk kehidupan ini harus didukung sepenuhnya oleh Pemerintah Kabupaten Langkat dan Pemprov Sumatera Utara,” kata Sekjen KIARA Abdul Halim. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *