Perempuan Watukawula Mengolah Kotoran Ternak Jadi Pupuk Organik

Pupuk organik hasil kreasi kelompok tani perempuan Watukawula, Sumba Barat Daya, NTT (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Pupuk organik hasil kreasi kelompok tani perempuan Watukawula, Sumba Barat Daya, NTT (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)

Sumba Barat Daya, Villagerspost.com – “Keuletan adalah bekal untuk menjadi handal.” Kalimat ini disampaikan Roni Iron Malelak, direktur Yayasan Trans Fair Indonesia (YTI), saat berkumpul dengan ibu-ibu kelompok tani dari desa Watukawula, kecamatan kota Tambulaka, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, beberapa waktu lalu.

Kalimat itu, diucapkan Roni terkait upaya YTI berbagi ilmu dengan para ibu di desa Watukawula untuk membuat pupuk organik dari kotoran hewan (kohe). Awalnya kohe atau kotoran hewan selama ini tidak pernah dimanfaatkan dan terbuang begitu saja menjadi limbah.

Sejak adanya pelatihan mengolah kohe menjadi pupuk organik, kini para ibu mulai rajin mengumpulkan kohe untuk dibuat pupuk organik. Mama Oce, ketua penggerak ibu-ibu Watukawula mengatakan, semua anggota wajib mengumpulkan kotoran ternak sapi, kerbau, domba.

Anggota perempuan tani Watukawula memperlihatkan pupuk organik yang sudah dikemas (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Anggota perempuan tani Watukawula memperlihatkan pupuk organik yang sudah dikemas (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)

Kemudian kotoran-kotoran hewan itu dibuat bokasi atau pupuk organik untuk pupuk dasar tanaman, secara bersama-sama. Cara pembuatannya sederhana saja. Setelah dikumpulkan, kohe tersebut kemudian difermentasikan dalam tanah dalam sebuah ruangan yang tidak terkena sinar matahari atau hujan secara langsung.

Sebelum dipendam di dalam tanah, kohe tersebut dicamur dengan sekam dan larutan mikro organisme lokal (mol). Nah campuran kohe, sekam dan mol inilah yang kemudian dipendam dalam tanah dan ditutupi plastik selama beberapa hari sebelum berubah menjadi pupuk organik yang bentuknya seperti tanah kehitaman.

Plastik penutup digunakan untuk mengatur suhu agar proses fermentasi berjalan baik. Jika terlalu panas plastik bisa dibuka agar suhu kembali turun. “Hasilnya seperti ini,” ucap Mama Oce, sambill menunjukan hasil karya teman satu kelompoknya.

Pupuk organik dikemas dalam kemasan sederhana dengan bobot 1 kilogram per kemasan. Pupuk tersebut bisa digunakan sendiri oleh kaum ibu Watukawula yang juga belajar pertanian organik. Sisanya bisa dijual ke kelompok tani organik lainnya. “Dijual dengan harga Rp5.000/kg,” ujar Jeremi Kewuan, pendamping kelompok tani perempuan Watukawula.

Kemasan pupuk organik karya ibu-ibu Watukawula memang sederhana, namun isinya sangat bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman. Selain itu tanaman yang dihasilkan sehat serta aman untuk dikonsumsi, sebab tanpa bahan kimia sintetis. “Ibu-ibu lebih ulet dan kompak jika ada kegiatan, mungkin karena mereka paham betul segala sesuatu kebutuhan,” pungkas Jeremi.

Laporan/foto: Rahmat Adinata, Petani Organik, Anggota Gerakan Petani Nusantara, Sumba Timur, NTT

Ikuti informasi terkait pertanian organik Sumba, NTT >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *