Perkuat Agroekologi, Himasita IPB Gelar Jambore Perlindungan Tanaman Indonesia 2019

Pemaparan konsep agroekologi sebagai alternatif konsep pertanian yang mampu menjawab tantangan perubahan iklim (dok. villagerspost.com/usi nuraprita)

Bogor, Villagerspost.com – Himpunan Mahasiswa Proteksi Tanaman (Himasita) Institut Pertanian Bogor (IPB) akan menyelenggarakan acara Jambore Perlindungan Tanaman Indonesia (JPTI) 2019, tanggal 6-10 November di Kampus IPB, Dramaga, Bogor. Lewat jambore bertema: “Merumuskan Agroekologi Nusantara: untuk Menghadapi Ancaman terhadap Kedaulatan Pangan”, para mahasiswa Departemen Proteksi Tanaman IPB berupaya mendorong penerapan sistem pertanian ramah lingkungan atau agroekologi.

Ketua Pelaksana JPTI 2019 Muhammad Darnando R.R mengatakan, sistem pertanian di Indonesia masih berfokus pada peningkatan hasil produksi, dan belum berdasarkan pada kestabilan dan keberlanjutan agroekosistem. Padahal, sistem pertanian yang buruk perlahan akan berdampak negatif berupa menurunnya kualitas lingkungan dan produksi pangan yang sangat merugikan Indonesia.

“Tema agroekologi ini diusung karena kami ingin memperkuat isu agroekologi sehingga menjadi keputusan pemerintah dalam membuat kebijakan dan praktik pertanian di level petani dalam usaha mengatasi kelaparan dan mewujudkan kedaulatan pangan,” kata Nando, kepada Villagerspost.com, Selasa (5/11).

“Selain itu, juga diharapkan dapat mendorong terjadinya sharing pengetahuan dan pengalaman terkait agroekologi diantara petani, petani dengan akademisi, petani dengan pemerintah dan dengan pemangku kepentingan lainnya,” ujarnya menambahkan.

Jambore Perlindungan Tanaman Indonesia (JPTI) 2019 juga digelar sebagai wadah untuk meningkatkan pengetahuan dan daya kritis mahasiswa dan masyarakat terhadap pembangunan pertanian, sekaligus menjadi ajang kampanye pentingnya perlindungan tanaman yang ramah lingkungan dan berteknologi modern. Selain itu, JPTI juga menjadi wadah untuk membangun jejaring antara mahasiswa, petani, aktivis pertanian, petugas perlindungan lapangan dan pihak-pihak terkait melalui sharing and learning guna membangun kesamaan pandangan dan solidaritas antar pihak.

Acara JPTI 2019 nantinya akan dikemas dalam beberapa rangkaian kegiatan meliputi meet and greet, berbagai perlombaan, pelatihan budidaya maggot, focus group discussion, seminar nasional perlindungan tanaman, malam keakraban, expo, dan one day trip. Adapun peserta yang mengikuti acara ini terdiri atas petani, mahasiswa yang tergabung ke dalam HMPTI dan mahasiswa umum, dosen, praktisi dalam bidang pertanian, seperti perusahaan dan lembaga yang bergerak di bidang pertanian, serta masyarakat umum dan media.

“Meet and greet diselenggarakan di Ruang Kuliah HPT, Departemen Proteksi Tanaman pada rabu, 6 November 2019 . Meet and greet sendiri diadakan untuk memberikan sambutan kedatangan kepada delegasi dengan makan malam bersama dalam bentuk prasmananan, acara hiburan, dan technical meeting untuk perlombaan,” ujar Nando.

Sementara, pelatihan budidaya maggot dilaksanakan di kebun percobaan Aelefa Departemen Proteksi Tanaman untuk menambah pengetahuan delegasi, petani, dan masyarakat umum mengenai serangga yang bermanfaat bagi lingkungan. Lebih lanjut, Nando juga menjelaskan mengenai manfaat Maggot.

“Maggot memiliki manfaat sebagai dekomposer untuk mengurai limbah organik yang ramah lingkungan dan menjadi sumber pangan untuk hewan ternak, hewan peliharaan, dan manusia karena kaya akan protein. Pelatihan ini terbuka untuk umum, diikuti oleh delegasi dari berbagai perguruan tinggi, petani, masyarakat umum dan media,” jelasnya.

Dalam kegiatan JPTI 2019 ini, Himasita juga menjalin kerjasama dengan berbagai perwakilan mahasiswa pertanian dari berbagai daerah, mahasiswa umum, masyarakat umum dan media melalui Expo JPTI 2019. Expo ini akan diselenggarakan di koridor GKA, Fakultas Pertanian IPB pada tanggal 4-9 November 2019. Dalam expo ini akan ditampilkan beragam inovasi terkait pertanian yang bertujuan untuk memberikan informasi dan pembelajaran kepada mahasiswa.

Kemudian, akan digelar pula pameran berupa stand yang menjabarkan teknologi dan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) serta beragam koleksi hama dan penyakit Departemen Proteksi Tanaman. “Selain itu kami juga memamerkan produk-produk pertanian hasil karya Institut Pertanian Bogor dan Miniatur Agroekologi,” ujar Nando.

Focus Group Discussion (FGD) mengangkat subtema: “Menjawab Tantangan Kedaulatan Pangan dengan Agroekologi: Ancaman atau Berkah Bagi Pertanian 4.0?”. FGDini akan diselenggarakan di Auditorium Toyyib Hadiwijaya, Fakultas Pertanian IPB, Jumat 8 November 2019. FGD ini diikuti oleh Civitas Akademika IPB, serta mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dari berbagai disiplin ilmu, petani, pejabat pemerintah, aktivis pertanian dan lingkungan, serta pengusaha agribisnis.

FGD ini nantinya akan membahas relevansi penerapan sistem pertanian agroekologi di era revolusi industri 4.0 untuk kedaulatan pangan Indonesia serta kajian mengenai implikasi dari penerapan agroekologi untuk menjawab tantangan kedaulatan pangan. Sedangkan Seminar Nasional yang mengangkat subtema “Agroekologi 4.0: Eksistensi Agroekologi di Era Disrupsi Menuju Kedaulatan Pangan” diselenggarakan di Auditorium Toyyib Hadiwijaya Fakultas Pertanian IPB pada tanggal 9 November. Acara ini menghadirkan sejumlah pembicara, antara lain Rici Solihan sebagai Owner Segar Barokah, dan Dr. Ir. Purnama Hidayat, M.Sc sebagai dosen Proteksi Tanaman IPB.

Di sisi lain, diadakan juga kegiatan malam keakraban yang diselenggarakan di Auditorium Toyib Hadiwijaya pada tanggal 9 November. Kegiatan ini menurut Nando diselenggarakan untuk mengakrabkan setiap delegasi dan peserta JPTI 2019. “Malam keakraban ini berupa ajang menunjukkan bakat para peserta dalam bidang seni. Nantinya acara ini diisi dengan penampilan delegasi dalam pentas seni, makan malam bersama, penyampaian kesan pesan, dan pengumuman pemenang lomba,” kata Nando.

Adapun kegiatan penutup dari acara JPTI 2019 yaitu One Day trip ke Museum Pertanian. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan pertanian berbasis agroekologi, seperti galeri pangan dan peradaban pertanian yang menampilkan informasi tentang sejarah komoditas pangan, galeri pangan dan komoditas yang menggambarkan pertanian dari masa penjajahan hingga tahun 2019, dan galeri pertanian masa depan dan lumbung pangan dunia 2045.

Tujuan diselenggarakannya acara ini, menurut Nando untuk membangun jejaring antara mahasiswa, petani, aktivis pertanian dan pihak pertanian. Meningkatkan pengetahuan dan daya kritis terhadap proses pembangunan pertanian khususnya perlindungan tanaman demi terciptanya kedaulatan pangan. “Harapannya dengan adanya kegiatan seperti ini kita dapat memperkuat silahturahmi antara mahasiswa Proteksi Tanaman yang ada di Indonesia,” pungkasnya.

Laporan: Sita Nirmalasari, Mahasiswa Departemen Proteksi Tanaman IPB
Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published.