Perpaduan Jalur Ekstrem dan Alam Eksotik Jadi Daya Tarik Tour di Timor 2017

Acara pembukaan event Tour di Timor 2017 (dok. villagerspost.com/af rizaldi)

Atambua, Villagerspost.com – Ajang perlombaan sepeda wisata Tour di Timor 2017 yang berlangsung sejak 9-13 Desember 2017, mendapatkan respons yang positif dari para pesertanya. Tur yang digelar di Nusa Tenggara Timur (NTT) itu menyajikan jalur yang cukup menantang bagi para peserta. Perjalanan Tour di Timor 2017 dimulai dari Kota Betun, Kabupaten Malaka. Sebelum memulai perlombaan, peserta diberi kesempatan bermalam di tenda yang dibangun di areal pantai Motadikin.

Peserta akan menempuh jarak sejauh 386 kilometer melintasi Kota Atambua, Kefamenanu, sampai Kota Kupang.
Yanto, satu di antara peserta asal Kupang, mengaku jalur yang disajikan Tour di Timor sangat menarik. Jalur itu memadukan track ekstrem dengan panorama alam yang eksotik.

“Track-nya menantang, cuacanya sangat panas, tapi alamnya bagus,” kata Yanto kepada Villagerspost.com, saat ditemui di Kota Atambua, Sabtu (9/12) kemarin.

Yanto mengaku kewalahan saat melewati jalur menanjak di Malaka menuju Atambua. Tak hanya menanjak cukup tajam, berdasarkan pantauan Villagerspost.com, jalur itu juga berliku dan tak mulus, karena sebagian jalur mengalami kerusakan parah akibat tergerus banjir yang beberapa waktu lalu melanda Malaka. Walhasil, hampir seluruh peserta memilih menumpang ke truk milik tentara yang mengawal mereka.

“Kami sempat memutuskan naik truk saja lewat tanjakan. Karena suhunya sangat panas, 41 derajat (celcius). Kami harus melewati empat etape, sayang kalau menyerah di sini,” ungkap Yanto.

Warga antusias berpose dengan satu-satunya peserta asal luar negeri (dok. villagerspost.com/af rizaldi)

Sementara itu, satu-satunya peserta dari luar negeri, Alex Nikkola juga sependapat dengan Yanto. Alex mengaku etape pertama yang dia lalui sangat menguras tenaga. “Saya sangat lelah, tapi senang,” ucap pria asal Finlandia itu.

Tour di Timor, kata Alex adalah pengalaman pertamanya menjelajah NTT. Sepanjang perjalanan, Alex tertarik mengamati kehidupan masyarakat NTT yang tinggal di rumah tradisional.

“Saya senang saat melewati desa tradisional. Sangat menarik bagi saya yang baru pertama melihat. Sangat berbeda dengan yang ada di negara saya,” ujarnya.

Alex juga mengatakan keinginannya untuk kembali mengikuti Tour di Timor di tahun depan. “Jika memungkinkan, ya, saya akan ikut lagi tahun depan. Dan saya akan mengajak teman-teman saya juga,” ucap Alex.

Ajang Wisata Tahunan

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTT, Marius Jelamu mengatakan Tour di Timor akan menjadi agenda tahunan di NTT. Sebelumnya, NTT juga pernah menjadi tuan rumah ajang serupa, Tour de Flores.

“Tentunya kami harap tiap tahun pesertanya akan semakin besar. Jadi kami tetapkan ajang sport tourism ini diadakan setiap tahun,” jelas Marius.

Track ekstrem dan menantang jadi andalan di ajang ini (dok. villagespost.com/af rizaldi)

Untuk mengakomodasi lebih banyak wisatawan, Marius menilai jadwal penerbangan menuju Atambua harus ditambah. Saat ini, hanya ada dua jadwal penerbangan dari Kupang ke Atambua, melalui bandara A.A Bere Tallo, Haliwen.

“Meningkatkan kunjungan wisatawan tidak cukup dengan destinasi alami. Harus didukung dengan event. Dan jadwal penerbangan yang memadai,” lanjut Marius.

Seperti daerah perbatasan atau crossborder lainnya, Atambua menjadi pintu masuk wisatawan mancanegara. “NTT punya dua bandara internasional, yaitu di Kupang El Tari, dan Labuan Bajo. Tapi ada 14 bandara lain di seluruh wilayah NTT, termasuk Atambua. Jadi konektivitas udara kami tidak ada masalah,” tutur Marius.

“Kunjungan wisatawan kami sudah meningkat. Wisatawan domestik dari 940 ribu, naik menjadi 1,3 juta. Wisawatan mancanegara, dari 140 ribu jadi 160 ribu kunjungan. Jadi jadwal penerbangan yang rata-rata hanya dua kali sehari, seharusnya ditambah satu kali lagi,” pungkasnya. (*)

Laporan/Foto: AF Rizaldi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *