Pertanian Berkelanjutan Jadi Resep Kunci Sukses Pasar Bebas Asean

Sistem pertanian subak di Bali (dok. kemdikbud.go.id)
Sistem pertanian subak di Bali (dok. kemdikbud.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Upaya membangun pasar bebas di kawasan Asean (Association of Southeast Asian Nations) dimana arus barang-barang, tenaga kerja dan modal dapat mengalir secara bebas terancam melambat jika negara-negara Asean gagal memperhitungkan faktor dampak perubahan iklim terhadap pertanian di kawasan itu. Pasalnya, kebanyakan perekonomian di Asean tergantung pada sektor pertanian.

Sementara itu, dampak dari perubahan iklim terhadap sektor pertanian diperkirakan akan berpengaruh pada penurunan pendapatan domestik bruto hingga sebesar 2,2% di beberapa negara Asia Tenggara pa tahun 2100 mendatang. Prakiraan itu dibuat oleh the Fifth Assessment Report (AR5) sebuah lembaga yang merupakan bagian dari Panel Antarpemerintah untuk perubahan iklim (the Intergovernmental Panel on Climate Change–IPCC).

Berdasakan laporan Oxfam yang bertajuk “Harmless Harvest” alias Panen yang Tak Menyakiti, satu-satunya cara menyelamatkan Asean dan juga pasar bebas Asean dari dampak perubahan iklim adalah dengan mengembangkan pertanian yang berkelanjutan. Pertanian berkelanjutan akan melipatgandakan pendapatan petani dan menjamin terwujudnya ketahanan pangan tanpa menghasilkan sejumlah besar emisi gas rumah kaca (greenhouse gas–GHG) yang merupakan biang kerok terjadinya perubahan iklim.

Koordinator Kebijakan Kampanye Grow Oxfam Asia Riza Barnabe mengatakan, pertanian berkelanjutan adalah resep kunci untuk integrasi ekonomi Asean agar bisa sukses. “Saat negara-negara bekerjasama sebagai satu entitas ekonomi maka mereka harus bertindak bersama untuk secara berani menghadapi dampak perubahan iklim di kawasan yang melibatkan produksi pangan dan perdagangan produk pertanian. Pertanian berkelanjutan akan meningkatkan daya lenting negara Asia Tenggara dalam situasi iklim yang berubah,” kata Barnabe dalam surat elektronik yang diterima Villagerspost.com, Rabu (27/5).

Barnabe mengatakan, produsen pangan miskin di berbagai wilayah berbeda di kawasan menjadi pihak terdepan dalam menerima dampak cuaca ekstrem atau dampak perubahan iklim yang menjadi semakin umum terjadi karena perubahan iklim.

Mengutip temuan SK Redfern dan kawan-kawan yang dipresentasikan di workshop FAO/OECD di Roma, Italia tahun 2012, laporan Oxfam menemukan bahwa di Kamboja, Laos, Thailand, Myanmar dan Vietnam, curah hujan sudah berada pada titik di bawah rata-rata sejak tahun 2009 mengakibatkan kekeringan yang berkorelasi dengan menurunnya hasil panen dan meningkatnya persebaran hama dan penyakit. Di tahun 2013, topan super Haiyan menghancurkan perkebunan kelapa di Filipina tempat ribuan keluarga menggantungkan kehidupannya.

Meningkatnya permukaan air laut juga menjadi masalah besar bagi wilayah pesisir. Di Indonesia hampir 15 persen dari wilayah penghasil beras terdampak oleh naiknya tingkat kegaraman (salinitas) lahan, sementara di Vietnam terjadi kenaikan tingkat kadar garam di tanah pada 100.000 hektare lahan di empat provinsi, seperti dikutip dari laporan Redfern. Intrusi air asin juga mengancam produksi beras di Myanmar, berdasarkan laporan IPCC.

“Asean dapat menolong petani skala kecil dan nelayan tradisional untuk lebih memiliki daya lenting dalam menghadapi perubahan iklim dengan memproduksi kembali praktik pertanian berkelanjutan di seluruh kawasan dengan skala luas. Pemerintah negara-negara Asean juga harus mengucurkan banyak dana untuk membantu petani skala kecil dan nelayan tradisional untuk dapat beradaptasi dengan perubahan iklim dan memberi insentif bagi petani untuk mempraktikkan pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan,” kata Barnabe.

Salah satu bentuk praktik pertanian berkelanjutan adalah sistem SRI atau Systems of Rice Intensification suatu cara menumbuhkan padi yang dapat mengoptimalkan hasil panen tanpa merusak lingkungan. Beras merupakan makanan pokok di banyak negara Asia Tenggara dan berdasarkan studi yang dilakukan International Rice Research Institute (IRRI) ditemukan, kenaikan 1% temperatur minimum dalam masa tanam akan menurunkan 10 persen hasil panen. Di Kamboja saja, banjir bandang dan kekeringan menjadi sebab utama hilangnya 90% produksi pangan dari tahun 1996 hingga 2001 berdasarkan laporan IPCC.

“Asean juga harus mengingat kaum perempuan saat membangun program pengembangan sistem pertanian berkelanjutan. Ada kaum perempuan produsen pangan tetapi mereka tidak mendapatkan dukungan setara dari pemerintah seperti kepada kaum lelaki. Perempuan produsen pangan seringkali disalahtafsirkan sebagai ibu rumah tangga dengan tugas utama mengurus urusan rumah tangga dan mengasuh anak dan karenanya tak dihitung sebagai pihak yang juga memberikan penghidupan,” pungkas Barnabe. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *