Petani Desa Jenetaesa dan Samangki Buktikan Manfaat Penggunaan Pupuk Berimbang | Villagerspost.com

Petani Desa Jenetaesa dan Samangki Buktikan Manfaat Penggunaan Pupuk Berimbang

Petani Desa Jenetaesa melaksanakan praktik penggunaan pupuk berimbang (dok. villagerspost.com/uppy supriadi)

Maros, Villagerspost.com – Meskipun kebijakan pupuk bersubsidi telah lama berlangsung di Indonesia dengan nilai subsidi yang cukup besar, namun dalam praktiknya penggunaannya belum sesuai dengan yang direkomendasikan. Hal tersebut nampak dari refleksi yang dilakukan oleh Perkumpulan KATALIS bekerja sama dengan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) atas dukungan Oxfam terhadap para petani di Desa Jenetaesa dan Desa Samangki, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Salah satu yang menjadi catatan mendasar dalam refleksi ini adalah masih minimnya pengetahuan petani terhadap penggunaan pupuk secara berimbang. Karena itu, Perkumpulan KATALIS menggelar pelatihan penggunaan pupuk secara berimbang di Desa Jenetaesa dan Desa Samangki. Pelatihan dilaksanakan pada 30 April untuk Jenetaesa dan 9 Mei untuk Samangki.

“Selama ini, praktik penggunaan pupuk masih dipengaruhi kebiasaan dan perasaan tanpa pertimbangan pengetahuan yang memadai. Selain faktor kebiasaan, faktor kemampuan daya beli dan ketersediaan pupuk saat dibutuhkan juga sangat mempengaruhi,” kata Muhammad Sahaka dari Perkumpulan KATALIS, kepada Villagerspost.com, Rabu (9/5).

Dalam pertemuan dengan para petani di desa Jenetaesa, terungkap secara umum petani hanya melakukan pemupukan kurang dari yang direkomendasikan di mana umumnya hanya menggunakan pupuk sekali atau dua kali. “Padahal beberapa jenis pupuk seperti urea harusnya dilakukan selama tiga kali dengan rentang waktu yang juga sudah ditentukan agar produktivitasnya bisa maksimal,” kata Sahaka.

Implikasinya dengan penggunaan pupuk secara tak berimbang tersebut tingkat produksi pada lahan pertanian sesuai hasil diskusi secara umum hanya berada di bawah rata-rata nasional per hektare atau 6-7 ton gabah per hektare sawah. Dalam analisa bersama petani, salah seorang petani yang sempat melakukan pemupukan 2-3 kali sesuai yang disarankan atau direkomendasikan atau penggunaan pupuk secara berimbang justru mampu menghasilkan antara 6-8 ton per hektare.

Pelatihan di Desa Samangki, petani belajar menggunakan pupuk dengan takaran yang tepat (dok. villagerspost.com/uppy supriadi)

Ini merupakan bukti nyata dari penggunaan pupuk secara berimbang. Padahal petani lain dengan luas yang sama dan kondisi lahan yang relatif sama (hamparan yang sama) hanya menghasilkan antara 2-4 ton per hektare.

“Jadi dengan hasil tersebut tergambar perbedaan antara pemupukan dengan penggunaan pupuk secara berimbang dengan tidak dilakukan secara berimbang. Berimbang dimaksud antara lain pada waktu yang tepat, jenis pupuk yang tepat, dosis yang tepat, cara yang tepat, cepat tempat dan tepat ekonomi,” terang Sahaka.

Sementara dari hasil analisis hasil usaha tani, untuk mengolah 1 hektare lahan sawah, dibutuhkan dana sebesa Rp6.030.000 yang terdiri dari untuk pembiayaan pembelian pupuk, sewa traktor, biaya tanam, biaya pikul dan pestisida dalam sekali masa tanam. Dengan hasil 2,4 ton yang secara umum dihasilkan akibat kurang perhatian atas penggunaan pupuk berimbang, petani hanya menghasilkan uang sebesar Rp10.800.000.

Pehitungannya, harga gabah saat ini adalah sebesar Rp4.500 per kilogram dikalikan hasil panen sebesar 2,4 ton. Dengan produktivitas minim, maka petani hanya memiliki penghasilan sebesar Rp4.770.000, yaitu selisih dari harga hasil panen dengan modal tanam. Dengan masa penanaman padi selama 3-4 bulan, maka penghasilan rata-rata bulanan petani di Desa Jenetaesa hanya sebesar Rp1,2 juta-Rp1,6 juta.

Selain praktik langsung, pelatihan pemupukan berimbang juga diberikan secara teori (dok. villagerspost.com/uppy supriadi)

Karena itulah, Perkumpulan KATALIS menilai dan KRKP menilai, pemberikan pengetahuan terkait penggunaan pupuk berimbang menjadi sangat penting dalam memaksimalkan hasil produksi dan meningkatkan penghasilan petani. Hal ini merupakan bagian dari upaya memperbaiki progam subsidi pupuk, agar tujuan pemberian subsidi pupuk yaitu untuk menyejahterakan petani, tercapai sebagai implementasi pemenuhan hak atas pangan (right to food).

Pelatihan penggunaan pupuk berimbang di Jenetaesa dan Samangki ini mendapatkan sambutan yang baik dari masyarakat maupun pemangku desa. Kepala desa dari kedua desa tersebut menyatakan tekadnya untuk ikut berperan dalam memastikan semua petani dapat membeli pupuk melalui peran BUMDes.

Di Jenetaesa, pihak pemerintah Desa Jenetaesa telah berkomitmen memback up bukan hanya daya beli masyarakatnya namun juga ketersediaan pupuk pada tingkat pengecer, agar setiap saat pupuk dapat tersedia. Terkait kebutuhan analisis tanah, Kepala Desa Samangki Haji Makmur berjanji untuk memasukkan sebagai program dalam APBDes untuk tahun 2019. “Hal ini dimaksudkan untuk lebih mengetahui kadar PH tanah agar intervensinya bisa lebih tepat untuk meningkatkan produktifitas padi atau gabah,” kata Makmur.

Pada pertemuan ini juga terungkap, secara umum petani di Desa Samangki telah memiliki kapasitas dalam pembuatan pupuk namun kompetensi dan bahan yang tersedia di desa belum dikembangkan oleh petani. Dari pihak petani, terungkap bahwa pengembangan produksi pupuk terkendala akibat kerjasama dan komitmen antar anggota kelompok tani belum berjalan dengan baik.

“Akibatnya petani masih memiliki ketergantungan. Padahal, pemerintah desa sudah melakukan penguatan melalui pelatihan para petani melalui dana desa,” papar Makmur.

Laporan/Foto: Uppy Supriadi, anggota Perkumpulan Katalis, jurnalis warga untuk Villagerspost.com

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *