Petani Diminta Ikuti Aturan Penggunaan Pupuk Berimbang

Petani juga melaksanakan praktik menebar pupuk dengan baik (dok. perkumpulan katalis)

Jakarta, Villagerspost.com – Para petani diminta untuk bijak dalam menggunakan pupuk bersubsidi. Sikap bijak tersebut salah satunya denan menggunakan pupuk sesuai dosis atau rekomendasi pemupukan berimbang 5:3:2.

“Pemupukan berimbang ini juga menjadi solusi atas pemakaian pupuk yang cenderung berlebihan oleh petani. Sehingga alokasi pupuk bersubsidi yang terbatas dapat lebih efektif dan efisien,” kata Sekretaris Perusahaan Petrokimia Gresik Yusuf Wibisono, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Sabtu (28/9).

Pemupukan berimbang 5:3:2 sendiri artinya, untuk satu hektare sawah, dibutuhkan 500 kilogram pupuk organik Petroganik, 300 kilogram pupuk NPK Phonska, dan 200 kilogram pupuk Urea. “Pemupukan berimbang sangat direkomendasikan karena sudah teruji mampu meningkatkan hasil panen satu hingga dua ton per hektare,” tambah Yusuf.

Penggunaan pupuk organik juga dimaksudkan untuk menjaga kesuburan tanah dan mengefisienkan penggunaan pupuk anorganik, sehingga tercipta pertanian yang berkelanjutan. Sementara untuk rekomendasi pemupukan secara spesifik, petani bisa mendiskusikannya dengan petugas penyuluh Dinas Pertanian setempat. Petrokimia Gresik juga memiliki mobil uji tanah, yaitu sarana untuk menguji tingkat kesuburan tanah.

“Dimana, petani bisa membawa sample tanahnya dan petugas akan meneliti, menganalisa, serta memberikan rekomendasi pemupukan yang tepat secara lebih spesifik, baik spesifik lokasi maupun komoditas,” kata Yusuf.

Sementara itu, Kepala Komunikasi Korporat Pupuk Indonesia Wijaya Laksana berharap produsen pupuk, distributor, dan seluruh kios resmi meningkatkan sinergi untuk kepentingan petani dan kelancaran penyaluran pupuk bersubsidi. Wijaya mengingatkan, pihaknya tidak ragu untuk menindak tegas distributor dan penyalur pupuk bersubsidi yang kedapatan melakukan kecurangan.

“Kami ingatkan juga bahwa setiap tindakan penyelewengan pupuk bersubsidi dapat dijerat hukuman pidana maksimal 5 tahun penjara,” kata Wijaya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *