Petani Indramayu Berbagi Ilmu Mengukur Curah Hujan ke Petani Sumedang | Villagerspost.com

Petani Indramayu Berbagi Ilmu Mengukur Curah Hujan ke Petani Sumedang

Petani Sumedang berlajar memasang lodong atau ombro meter untuk mengukur curah hujan (villagerspost.com/tarsono)

Sumedang, Villagerspost.com – Lodong secara arti kata merujuk kepada tabung bambu besar, yang umumnya bisa digunakan sebagai tempat penampung air, atau bahkan dijadikan mainan meriam bambu yang sangat populer di kalangan anak-anak jaman dahulu. Tetapi, di jaman now, lodong (ombro meter) bisa juga berfungsi sebagai alat mengukur curah hujan. Sebagai alat pengukur curah hujan, lodong yang satu ini tidak terbuat dari bambu melainkan bahan serupa kaleng susu.

Selasa(4/9) lalu, Asosiasi Petani Curah Hujan Indramayu (APCHI) Indramayu, bertandang ke Kabupaten Sumedang, memperkenalkan fungsi lodong untuk mengukur curah hujan kepada para petani di sana. APCHI hadir bersama tim dari Antropologi Universitas Indonesia yang selama ini membimbing para anggota APCHI melakukan pengukuran curah hujan bagi kepentingan pertanian.

Yusup, salah seorang anggota APCHI Indramayu, didapuk sebagai nara sumber untuk memperkenalkan lodong sekaligus berbagi pengetahuan cara memasang alat tersebut dan bagaimana memfungsikannya. “Alat ukur ini dipasang pada tiang penyangga setinggi 1,5 meter dari permukaan tanah. Waktu mengukur curah hujan wajib dilakukan pada rentang waktu dari pukul 06.30 sampai dengan 07.30 pagi. Amati apakah di dalam ekosistem terdapat hama dan penyakit? dan lain sebagainya,” jelas Yusup kepada para rekan petani Sumedang.

Dalam acara yang berlangsung di tengah saung di areal persawahan milik Aang, petani Sumedang yang ikut belajar mengukur curah hujan, juga dihelat sebuah acara diskusi tentang bagaimana cara mengamati Organisme Pengganggu Tanaman. Dalam diskusi tersebut Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) menyepakati dalam pengisian data intensitas serangan hama harus ada kaidah atau pakem yang sesuai standar supaya keakuratan data otentik yang tertuang dalam pengisian buku besar pribadi atau primbon petani jaman now.

Pemasangan ombro meter di lahan sawah di Sumedang Timur (villagerspost.com/tarsono)

Selain berbagi pengetahuan soal pengukuran curah hujan dan OPT, para anggota APCHI dan tim antropolog UI juga melakukan pemasangan ombro meter ini di areal pesawahan di wilayah Sumedang Timur meliputi Kecamatan Tomo, Jatigede, Paseh, Jatinunggal. Selain itu, pada kesempatan yang sama juga dibentuk APCHI Sumedang

Ote, salah seorang petani setempat yang sudah lebih dulu mempelajari pengukuran curah hujan atau  agrometeorologi, mengaku senang dengan terbentuknya APCHI Sumedang. “Harapannya, dengan memahami agrometeorologi, kami petani bisa bertanam dengan baik menyesuaikan dengan musim dan cuaca,” katanya.

Para peserta juga tak tampak lelah, meski untuk menuju lokasi acara di saung milik Aang di Desa Bugel Kecamatan Tomon, harus berjalan kaki melewati sungai hulu Cipanas. “Jalannya cukup terjal, licin dan menantang,” kata Yusup.

Laporan: Tarsono, Petani Muda, Anggota APCHI Indramayu

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *