Petani Merauke Keluhkan Rendahnya Harga Gabah

Petani memanen padi di sawah (temanggung-kab.go.id)
Petani memanen padi di sawah (temanggung-kab.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Niat Presiden Jokowi menjadikan Merauke sebagai salah satu lumbung pangan nasional, sepertinya harus dipikirkan ulang. Pasalnya konsep pengembangan integrated foor estate ala proyek MIFEE (Merauke Integrated Food and Energy Estate) dinilai tak bakal menyejahterakan petani. Buktinya, hingga kini harga gabah di Merauke masih rendah.

Keluhan soal rendahnya harga gabah itu disampaikan para petani Merauke kepada Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Selain itu, sang menteri juga menerima laporan langsung dari petani terkait keterlambatan pendistribusian pupuk dan harga beras di tingkat petani yang rendah di Merauke.

Di hadapan Mentan, petani setempat mengeluhkan harga gabah dan beras yang di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Petani melaporkan, harga gabah sebesar Rp3.400 per kg dan harga beras petani di tingkat penggilingan sebesar Rp6.700 per kg yang dibeli oleh pedagang, bukan oleh Bulog.

“Kami tidak bisa langsung jual gabah dan beras ke Bulog, karena prosedur dan syaratnya yang panjang. Sehingga kami jual pada pedagang di penggilingan dengan harga rendah,” keluh petani di Kampung Waminggap Miraf SP 5, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, Papua, seperti dikutip pertanian.go.id, Senin (11/5).

Berdasarkan Inpres Nomor 5 Tahun 2015 tentang HPP, harga gabah dan beras di tingkat petani yakni masing-masing sebesar Rp3.700 dan Rp7.300. Ini terdapat selisih harga yang cukup besar yang dinikmati oleh para pedagang, apalagi harga beras di perkotaan mencapai Rp11.000 per kg.

“Petani yang susah payah kepanasan 100 hari di bawah terik matahari, hanya mendapat keuntungan yang sangat kecil bahkan ada yang merugi. Sedangkan para pedagang yang santai-santai saja keuntungannya jauh lebih besar. Ini tidak adil,” kata Amran menanggapi keluhan itu.

Dengan kondisi ini, petani mengharapkan Bulog untuk turun langsung ke petani untuk menyerap gabah dan beras sesuai HPP agar dapat menikmati keuntungan dan meningkatkan pendapatan serta kesejahteraannya. Mentan berjanji akan membantu petani di Merauke, yakni berkoordinasi dengan pihak terkait mengenai harga gabah dan beras tersebut.

Kemudian, akan menambah bantuan di Merauke, namun harus dibarengi dengan peningkatan produksi sebesar 20 persen. Mentan juga langsung memerintahkan pihak PT Petro Kimia yang hadir agar pupuk tidak boleh terlambat saat dibutuhkan petani.

“Apapun bentuk prosesnya di lapangan, saya tidak mau tahu kalau pupuk tidak boleh terlambat,” ujar Mentan kepada pihak PT Petro Kimia.

Sebelumnya, dalam kunjungannya ke Papua, Presiden Jokowi sempat mencanangkan dalam tiga tahun kedepan Papua akan menjadi lumbung pangan nasional. Presiden Jokowi menargetkan pembangunan 1,2 juta hektare lahan sawah, salah satunya di Merauke.

Harapannya, jika satu hektare sawah menghasilkan 7 ton gabah sekali panen, maka Papua bisa menghasilkan 8 juta ton gabah sekali panen dan dalam setahun bisa menghasilkan 24 juta ton gabah dengan asumsi melakukan 3 kali panen setahun. “Maka Papua akan menjadi lumbung padi, yang produksi menyamai produk padi seluruh tanah air,” ujar presiden saat kunjungannya ke Papua seperti dikutip setkab.go.id. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *