Petani Muda Brebes Ujicoba Kembangkan Sorgum

Abadi Sukandar, petani muda asal Brebes menunjukkan sorgum hasil budidayanya (villagerspost.com/suharjo)

Brebes, Villagerspost.com – Sorgum (Sorghum spp.) di Indonesia sangat lekat dengan kawasan Indonesia Timur, khususnya Nusa Tenggara Timur. Namun dalam beberapa tahun ke depan boleh jadi, sorgum juga mulai menjadi tanaman andalan petani di Jawa, khususnya Brebes, Jawa Tengah.

Adalah Abadi Sukandar, seorang petani muda asal desa Tegal Gandu, Brebes, yang sejak Februari lalu mencoba mengembangkan tanaman sorgum di lahan yang biasanya digunakan menanam padi. Abadi menanam sorgum di lahan seluas 3000 meter persegi.

Varietas sorgum yang dikembangkan Abadi adalah bioguma, samurai, numbu dan super satu. Untuk varietas bioguma, dikembangkan Abadi di lahan seluas 2000 meter persegi dan varietas lainnya dikembangkan di lahan seluas 1000 meter persegi. “Itu varietas unggul sorgum, sebentar akan panen,” kata Abadi kepada Villagerspost.com, Senin (1/6).

Ladang sorgum milik Abadi yang totalnya mencapai seluas 3000 meter persegi (villagerspost.com/suharjo)

Abadi mengaku, usaha untuk mencoba mengembangkan sorgum adalah karena hasilnya yang melimpah dan harganya yang tinggi. Dia menjelaskan, untuk 1 kilo benih sorgum bioguma misalnya, di lahan 2000 m2, bisa menghasilkan 800-1000 kilogram sorgum kering.

“Harganya juga bagus antara Rp10 ribu sampai Rp12 ribu per kilogram,” ujarnya.

Abadi sendiri mengaku mendapatkan bibit sorgum dari Mashadi, seorang anggota DPRD Brebes yang juga terkenal sebagai pejuang lingkungan dengan pengembangan kawasan mangrove sari. “Saat itu kebetulan saya sedang bersilaturrahmi ke rumah beliau,” kata Abadi.

Selain menjual sorgum kering, Abadi juga mencoba menanak sorgum untuk konsumsi sendiri. Kebetulan, lahan percobaan untuk varietas ketan yang umur tanamnya 3 bulan, sudah panen. Sementara, varietas lainnya diperkirakan akan dipanen pada Juni ini. Abadi sendiri memulai musim tanam pada akhir Februari lalu.

Biji sorgum kering yang berhasil dipanen Abadi (villagerspost.com/suharjo)

Abadi mengakui, usahanya untuk mengembangkan sorgum ini memang tidak mudah. Saat memulai tanam pertama kali, tidak semua benih yang ditanamnya tumbuh. “Banyak yang gagal tumbuh,” ujarnya. Karena itu, terpaksa dia mengganti benih yang gagal tumbuh dengan benih baru yang terlebih dulu disemai. “Istilahnya disulam,” kata Abadi.

Hanya saja, karena umur benih tidak seragam, maka usia panen pun menjadi tidak seragam. Kendala berikutnya ketika sudah tumbuh, adalah serangan hama burung emprit yang memakan tanaman sorgum ketika sudah berbuah.

Jika berhasil, Abadi mengaku, dia akan memulai untuk mengembangkan sorgum dalam skala luas. “Rencana pengembangan tanaman sorgum saya akan tanam 1 sampai 2 hektare, untuk musim tanam berikutnya pada bulan Agustus,” tegasnya.

Laporan/Foto: Suharjo, petani muda asal Desa Sidamulya, Brebes

Facebook Comments
3 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *