Petani Muda Didorong Kembangkan Budidaya Porang

Umbi tanaman porang yang kini menjadi primadona baru di Manggarai Barat (dok. pemprov banten)

Jakarta, Villagerspost.com – Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mendorong petani-petani muda bersemangat dan kreatif mengelola sektor pertanian sehingga menghasilkan produk siap pakai. Salah satunya adalah pengembangan tanaman porang.

Pemerintah, tegas Syahrul, sangat serius dalam meningkatkan produksi komoditas porang untuk mendukung peningkatan perekonomian nasional. Salah satu terobosannya dengan mencetak banyak petani milenial yang inovatif yang bisa membuka dan memperbanyak pasar ekspor.

Karenanya, petani milenial yang agresif di dunia pertanian juga akan didukung oleh pemerintah. Salah satu contoh sukses petani muda yang mengembangkan porang untuk komoditas ekspor adalah Syaharuddin Alrif.

“Hari ini Syaharuddin membuktikan tanah yang seperti apa adanya ini dengan porang bisa menghasilkan miliaran rupiah,” kata Syahrul, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Senin (7/6).

Syaharuddin Alrif mengatakan, di mulai mengembangkan budidaya porang pada tahun 2020 lalu. Tanaman porang ditumpangsarikan dengan komoditas pisang.

“Kebun ini diharapkan dapat menjadi percontohan seluruh masyarakat Indonesia untuk menggarap budi daya porang secara modern, profesional, dan maju,” ujarnya.

Dengan menanam pisang, Syaharuddin mampu menghasilkan Rp200 juta per hektare selama satu setengah tahun. “Ini bisa membiayai kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Syaharuddin memaparkan, ada 400 hektare lahan pengembangan di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) yang berada di 7 desa. Sehingga ke depan industri pengolahan hasil panen harus segera diupayakan untuk menghasilkan produk siap pakai yang akan diekspor ke berbagai negara. Sementara hingga saat ini luas lahan porang di Provinsi Sulsel baru mencapai 2.000 hektare dengan hasil per hektarenya mencapai Rp270 juta hingga Rp300 juta.

Terkait pengembangan porang, Syahrul Yasin Limpo mengatakan, upaya memajukan komoditas porang hingga menghasilkan kualitas ekspor yang bagus, melibatkan peran lintas kementerian. Kementan bergerak pada sisi pengembangan budidaya dan produksinya.

Sementara, Kementerian Perindustrian bergerak untuk membina industri pengolahan. Untuk pengembangan pasar dan ekspor dilakukan oleh Kementerian Perdagangan.

“Porang ini masuk super prioritas pertanian. Porang ini masa depan. Saya mau lihat hasil pengembangannya dalam tiga bulan lagi. Buat ini lebih kuat,” tegas Syahrul.

Produksi komoditas porang sebanyak 80 persen hingga 85 persen dihasilkan dalam bentuk keripik (chips) untuk diekspor, sedangkan 10 persen hingga 15 persen untuk konsumsi dalam negeri dalam bentuk beras porang ataupun mie porang.

Selain pengolahan pascapanen menjadi beras porang dan mie, komoditas porang mempunyai 21 produk turunan dalam bentuk makanan lainnya, kosmetik, industri, dan produk lainnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *