Petani Muda Langka, Kedaulatan Pangan Tinggal Cita Cita

Kepala Departemen Proteksi Tanaman IPB Dr. Suryo Wiyono memaparkan hasil penelitian KRKP bersama KSKP yang didukung Oxfam Indonesia terkait petani muda (dok. villagerspost.com)
Kepala Departemen Proteksi Tanaman IPB Dr. Suryo Wiyono memaparkan hasil penelitian KRKP bersama KSKP yang didukung Oxfam Indonesia terkait petani muda (dok. villagerspost.com)

Jakarta, Villagerspost.com – Lambannya laju regenerasi petani yang mengakibatkan langkanya petani muda, masih akan menjadi persoalan krusial dalam upaya mewujudkan cita-cita kedaulatan pangan. Hal itu terungkap dari penelitan yang dilakukan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan bersama Kajian Strategis Kebijakan Pertanian (KSKP) yang didukung oleh Oxfam Indonesia.

Penelitian tersebut melibatkan 160 responden yang merupakan keluarga petani baik petani padi maupun hortikultura. Penelitian dilakukan di empat kabupaten yang selama ini menjadi basis pertanian padi dan hortikultura. Keempat kabupaten itu adalah Kediri, Tegal, Karawang dan Bogor.

Dari hasil penelitian yang dilakukan sejak Oktober 2015-Februari 2016 itu terungkap, sektor pertanian memang tidak menarik bagi kaum muda untuk terjun menekuninya. “Selama ini, orang-orang yang menjadi petani adalah orang-orang yang terusir dari dari sektor lain,” kata Koordinator KRKP Said Abdullah, dalam pemaparan hasil penelitian tersebut di sebuah restoran di kawasan Cikini, Jakarta, Selasa (17/5).

(Baca juga: Deklarasi GPN: Komitmen Melahirkan Generasi Muda Petani)

Bahkan secara berseloroh, saking tidak menariknya dunia pertanian, Kepala Departemen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr. Suryo Wiyono mengatakan, membuat kaum muda yang nekat menekuninya, berisiko kehilangan pacar. “Ada anak bimbingan saya, yang diputuskan pacarnya begitu tahu dia terjun menjadi petani,” kata Suryo.

Hal ini, kata pria yang juga menjadi ketua KSKP itu, terjadi karena image dunia pertanian memang kadung jelek, khususnya di mata kaum muda. “Pertanian belum bisa memberikan kesejahteraan kepada para pelakunya,” katanya.

Tak heran, jika semakin ke sini, regenerasi petani semakin terhambat, sementara petani yang ada adalah generasi tua. Berdasarkan data sensus pertanian 2013 diketahui bahwa 61,8 persen berusia di atas 45 tahun dan hanya 12,2 persen saja yang berusia di bawah 35 tahun. Khusus untuk petani tanaman pangan sebanyak 47,57 persen berusia di atas 50 tahun.

Persoalan ini ternyata tak hanya muncul di level nasional namun juga di level global. Secara umum sektor pertanian mengalami penuaan (ageing) dan populasi petani terus berkurang. Petani di sub-sahara Afrika rata-rata berusia 60 tahun, di Amerika rata-rata berusia 55 tahun.

Menua dan berkurangnya petani pada level global tentu saja menjadi tantangan produksi pangan dunia. Produksi pangan menurun sementara permintaan akan terus tumbuh. Dengan situasi ini maka penyediaan pangan tak bisa lagi mengharapkan atau bergantung pada pasar global. Penguatan produksi pangan dalam negeri menjadi kunci jika ingin terbebas dari kondisi rawan pangan.

Menurut Said Abdullah, persoalan regenerasi petani ini tidak bisa dianggap main-main. “Ini persoalan urgen yang harus diatasi jika ingin berdaulat pangan seperti yang dicita-citakan dalam nawacita,” tegasnya.

Terkait persoalan regenerasi petani ini, KRKP menilai tidak bisa diselesaikan oleh satu sektor saja karena persoalan pertanian dan petani lintas sektor multidisiplin. Upaya regenerasi harus menjadi kerja kolektif semua pihak.

Dalam penelitian itu, KRKP dan KSKP juga memetakan faktor-faktor apa yang berpengaruh pada minat untuk menjadi petani. Hasil kajian menunjukkan 54 persen responden anak petani hortikulutra mengaku tidak ingin menjadi petani. Sementara 63 persen anak petani padi mengaku tidak ingin menjadi petani.

Ketidaktertarikan generasi muda pada pertanian ini menunjukkan betapa sektor pertanian tak memiliki daya tarik yang mampu mengalahkan sektor lainnya terutama industri. “Anak-anak muda mengaku lebih memilih menjadi buruh industri karena pendapatannya lebih pasti,” kata Said.

Menurutnya, faktor akses dan aset lahan, kepastian harga jual atau pendapatan, pengetahuan atau pendidikan tentang pertanian dan ketersediaan infrastruktur pendukung  menjadi faktor penting yang mempengaruhi minat orang tua dan anak untuk menjadi petani. Faktor-faktor ini adalah kunci yang harus disentuh oleh pemerintah supaya minat generasi muda meningkat.

Sementara itu, Suryo Wiyono mengungkapkan, persoalan regenerasi pertanian juga dimulai dari pendidikan. Hasil penelitian itu memang mengungkapkan, level pendidikan kaum tani khususnya petani padi memang sangat rendah. Petani yang memiliki pendidikan tinggi hingga lulus perguruan tinggi hanya mencapai 0,8%. Sementara kebanyakan petani, khususnya petani padi adalah lulusan Sekolah Dasar (39,6%). Sisanya 34,4% adalah lulusan SMP dan 15,6% lulusan SMA.

“Sudah saatnya dilakukan pembenahan pada aspek pendidikan sehingga mampu membangkitkan semangat generasi muda untuk menjadi petani,” tegas Suryo.

Ketersediaan lembaga pendidikan yang khusus pertanian dengan kurikulum yang disesuaikan dengan perkembangan pertanian kekinian perlu diperkuat dan diperbanyak. Pada sisi lain perlu juga dipertimbangkan untuk memperkuat pendidikan vokasi pada level pendidikan tinggi.

“Dengan demikian diharapkan semangat dan minat generasi muda untuk bertani kembali tumbuh,” kata Peneliti Utama Pusat Kajian Strategis Kebijakan Pertanian IPB itu.

Berbagai upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan minat generasi muda hendaknya dilakukan dengan tepat dan menjawab persoalan mendasar. Oleh karenanya, KRKP mendesak pemrintah untuk melakukan serangkaian program dan kebijakan.

“Program dan kebijakan tersebut adalah reforma agraria untuk meningkatkan akses dan aset petani, penguatan kebijakan harga jual (subsidi output) untuk kepastian pendapatan, pembenahan dunia pendidikan pertanian dan peningkatan sarana dan prasarana pertanian,” terang Said Abdullah.

Kebijakan dan program tersebut haruslah dilakukan secara utuh. Jika hanya berkutat pada satu program atau kebijakan saja maka dampak yang dihasilkan tak akan maksimal. Kegagalan melakukan regenerasi petani, tak hanya akan mengancam ketahanan dan kedaulatan pangan namun juga kelangsungan kehidupan pertanian dan petani itu sendiri.

“Upaya yang holistik haruslah dilakukan dan tak bisa lagi hanya basa basi jika benar ingin mewujudkan nawacita, berdaulat pangan!” tegas Said. (*)

Ikuti informasi terkait masalah petani >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *