Petungkriyono, Surganya Pelari Trail di Kota Batik Pekalongan

Gerbang masuk kawasan hutan Petungkriyono, Pekalongan (dok. villagerspost.com/sindi saraswati)

Pekalongan, Villagerspost.com – Siapa yang tak kenal Pekalongan, selain terkenal dengan sebutan Kota Batik, Pekalongan ternyata memiliki keindahan alam yang begitu mempesona. Keindahan itu terletak di Petungkriyono, sebuah kecamatan di Kabupaten Pekalongan yang memiliki luas wilayah sekitar 73,59 km2.

Menariknya, Petungkriyono memiliki kawasan hutan tropis. Hutan Petungkriyono tercatat sebagai hutan yang dilindungi di Pulau Jawa, dan menjadi pusat laboratorium alam juga konservasi. Melihat potensi keindahan dan kondisi geofrafis alam yang ditawarkan Petungkriyono, tahun ini Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Dinporapar) Pekalongan mengadakan acara Petungkriyono Trail Run, yaitu kompetisi lari dengan kategori jarak tempuh 5 km, 12 dan 27 km pada 5 November 2017 lalu.

Ajang ini ditujukan untuk memperkenalkan pesona alam yang dimiliki. Berlari dalam harmoni alam nampaknya akan menjadi daya tarik tersendiri bagi hutan Petungkriyono. Hutan ini menawarkan track yang bervariasi, mulai dari tanjakan dan turunan yang terjal, jurang yang dalam, hutan yang rimbun hingga menyeberangi sungai yang mengalir jernih merupakan tantangan yang menarik bagi para pegiat olahraga lari.

Para peserta lomba lari trail Petungkriyono memulai start (dok. villagerspost.com/sindi saraswati)

Muhamamad Miftah Farid salah satu peserta berasal dari Pekalongan dan juga tergabung sebagai anggota relawan BPBD Kabupaten Pekalongan, mengaku sering menjelajahi Petungkriyono. “Petungkriyono nggak cukup kalau hanya di-eksplorasi dua hari, masih banyak spot menarik, ada Puncak Hanoman, Puncak Toegoe, Puncak Raja, Curug Muncar, Curug Lawe dan lainnya,” ujar Farid kepada Villagerspost.com.

Lokasi hutan Petungkriyono dapat ditempuh dari pusat kota menggunakan sepeda motor dengan waktu tempuh 2,5 jam perjalanan. Memasuki kawasan hutan Petungkriyono niscaya anda akan dihadapkan oleh nuansa pegunungan dan hutan lebat. Kawasan ini juga menjadi sentra produksi pangan, yang terlihat dari hamparan persawahan, dan kebun sayur milik warga sekitar. Namun, sedikit catatan bagi para pengendara kendaraan bermotor, melewati kawasan ini memerlukan kehati-hatian yang ekstra mengingat jalan yang tidak rata, berliku, dan juga curam.

Track yang dipilih untuk perlombaan lari, melewati destinasi wisata curug Lawe dan Curug Bajing. Diawal lomba, para peserta harus berlari menaiki bukit yang menanjak terjal dan licin, namun sampai di puncak bukit para pelari disuguhkan pemandangan indah deretan gunung dari kawasan dataran tinggi Dieng bagian Utara, tak heran momen ini dimanfaatkan para peserta lomba dengan berfoto dan berswafoto ria, sehingga mengabaiakan tujuan mengejar podium sebagai juara.

Berfoto di keindahan alam Petungkriyono, melupakan persaingan dalam lomba (dok. villagerspost.com/sindi saraswati)

Hampir setiap track perlombaan dihiasi oleh air terjun kecil dan aliran sungai di sisi jalan. Beberapa track juga ditumbuhi rumput yang cukup rimbun, sampai menutupi marka jalan yang dibuat panitia lomba. Tak sedikit, peserta yang tersesat, dan keluar jalur perlombaan. Namun, mereka tidak sedih, karena kekecewaan mereka terbayar oleh indahnya alam Petungkriyono. Menurut warga sekitar yang dijumpai, hutan ini dihuni oleh hewan buas. Macan tutul sering terlihat menghampiri perkebunan warga.

Perlombaan ini diikuti lebih dari 400 peserta dari berbagai club olahraga lari yang berasal dari Cirebon, Jakarta, Depok, Bogor, Semarang, Yogyakarta, Bandung dan Solo. “Tadi saya sempat berjabat tangan di start line dengan bapak bupati beliau mengapresiasi keikut sertaan kami dari Parung Runners pada kegiatan lomba Petung Trail,” ujar Riki pelari dari Parung Runners Bogor.

Keindahan alam yang luar biasa yang ditawarkan kawasan hutan Petungkriyono (dok. villagerspost.com/sindi saraswati)

Selepas perlombaan para peserta di hidangkan beberapa makanan khas pekalongan seperti soto tauto dan pindang tetel juga diberi buah tangan berupa kopi dan teh bubuk khas Petungkriyono. Hutan Petungkriyono memang sangat cocok di jadikan sebagai track lari maupun melakukan ekspedisi.

Dika Ditya, pelari trail kategori 27 km asal Cirebon yang banyak meraih podium di berbagai ajang lomb pun mengakui keistimewaan track Petungkriyono. “Kemarin kurang lama stay di Petung, datang malam, pagi race, malam pulang padahal banyak sekali curug yang bisa di-explore, oke fixed Petung bakal ada di-list tempat yang kudu di kunjungi lagi,” ungkapnya.

Sekadar saran, bagi anda yang ingin mengunjungi Petungkriyono, ada beberapa lokasi potensial yang menarik untuk disinggahi, diantaranya Curug Muncar, Curug Bajing, Curug Sokokembang, Curug Lawe, Curug SiBedug, Gunung Kendalisodo, dan Gunung Rogojembang.

Laporan/Foto: Sindi Saraswati, Anggota Yayasan Lintas Sungai Abadi (Yalisa), Jurnalis Warga untuk Villagerspost.com

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *