Plan Indonesia Lakukan Riset Manajemen Kebersihan Menstruasi Di Tengah Pandemi Covid-19 | Villagerspost.com

Plan Indonesia Lakukan Riset Manajemen Kebersihan Menstruasi Di Tengah Pandemi Covid-19

Riset Manajemen Kebersihan Menstruasi dilakukan Plan Indonesia untuk memastikan terpenuhinya hak kesehatan anak Indonesia (dok. plan indonesia)

Jakarta, Villagerspost.com – Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) melakukan riset terkait Manajemen Kebersihan Menstruasi terhadap remaja usia SD dan SMP di Jakarta, NTT dan NTB. Riset tersebut dilaksanakan Plan bersama The SMERU Research Institute tahun 2018 lalu. Riset ini dipublikasikan dalam rangka memperingati Hari Kebersihan Menstruasi Sedunia pada hari ini, Kamis (28/5).

Juru bicara untuk Plan Indonesia Silvia Devina mengatakan, riset ini sangat penting untuk memastikan hak-hak anak atas kesehatan fisik dan mental mereka. “Kami bekerja untuk memperjuangkan pemenuhan hak anak dan kesetaraan bagi anak perempuan dengan cara memastikan anak mendapatkan akses pengasuhan, tumbuh dan berkembang bebas dari segala bentuk kekerasan, sehat secara fisik dan mental, berdaya dan mampu menjadi pemimpin,” ujarnya, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com.

Silvia yang juga merupakan Water Sanitation Hygiene and Early Child Development Advisor Plan Indonesia menjelaskan, bersama kelompok dan jejaring kaum muda, Plan Indonesia bekerja untuk memastikan suara anak dan kaum muda terlibat dalam pengambilan keputusan yang berdampak pada pemenuhan hak anak dan kesetaraan bagi anak perempuan. Selain melakukan pendampingan dan kerja-kerja pembangunan komunitas di tingkat akar rumput untuk membantu memastikan tidak ada anak yang tertinggal atau “no child left behind“.

“Plan Indonesia juga memiliki mandat tanggap bencana, dan melakukan respons tanggap darurat di Lombok dan Sulawesi Tengah,” jelasnya.

Terkait, situasi Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) di Indonesia, kata dia, dari hasil studi Plan Indonesia dengan The SMERU Research Institute di SD dan SMP, Provinsi DKI Jakarta, NTT, dan NTB, ditemukan beberapa fakta. Di antaranya adalah, pengetahuan siswa tentang kebersihan menstruasi masih buruk, dan siswa tidak memahami hubungan antara alat reproduksi dengan manajemen kesehatan menstruasi.

Selain itu, riset ini juga mengungkapkan, masih maraknya perilaku membuang pembalut bekas pakai di dalam tanah (dikubur), di tempat pembakaran, bahkan di sungai. Berikutnya adalah soal fasilitas di sekolah yang tidak mendukung manajemen kesehatan menstruasi ini.

“Sebanyak 79 persen anak perempuan tidak pernah mengganti pembalut di sekolah karena sekolah tidak memiliki toilet terpisah dan merasa tidak nyaman. Kemudian, sebanyak 33 persen SD dan SMP tidak memiliki toilet terpisah untuk murid laki-laki dan perempuan,” jelasnya.

Hal lain yang diungkap penelitian ini adalah masih banyaknya perilaku lingkungan di sekitar anak-anak perempuan yang beranjak dewasa yang tidak mendukung dilaksanakannya MKM. “Sebanyak 39 persen murid perempuan pernah diejek temannya saat menstruasi. Kemudian, sebanyak 63 persen orang tua murid perempuan tidak pernah menjelaskan tentang menstruasi kepada anaknya,” ujar Silvia.

Kemudian, sebanyak 45 persen orang tua murid laki-laki menyatakan tidak perlu menjelaskan menstruasi kepada anaknya karena menganggap hal tersebut tidak pantas.

Hasil riset ini juga menegaskan beberapa tantangan dalam menerapkan MKM di Indonesia. Beberapa tantangan yang dihadapi oleh perempuan yang menstruasi di kala pandemik adalah: Pertama, terbatasnya akses ke produk karena kekurangan dan terganggunya rantai pasokan. Kedua, meningkatnya harga produk menstruasi. Ketiga, kurangnya akses ke informasi tentang manajemen kebersihan menstruasi. Keempat, kurangnya akses dan ketersediaan air bersih.

Penelitian ini juga mengungkapkan, praktik MKM di Indonesia masih buruk yang dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu pengetahuan murid yang terbatas, sarana yang terbatas dan norma budaya yang mendukung.

Menurut hasil penelitian ini, sekolah menjadi satu-satunya penyedia informasi yang dapat diandalkan untuk mendapatkan informasi tentang MKM. Namun, tutupnya sekolah selama masa pandemi Covid-19 ini berarti hilangnya akses terhadap informasi terkait MKM. Pengetahuan murid yang terbatas didorong oleh akses informasi yang terbatas dan juga pengetahuan orang sekitar yang minim. “Keterbatasan sarana MKM dipengaruhi oleh kebijakan dan implementasi kebijakan yang lemah,” jelas Silvia.

Terkait hal ini, Plan Indonesia dan mitra kerja, melakukan beberapa perubahan. Pertama, Plan Indonesia melalui proyek Water for Women (WfW), Women and Disability Inclusive and Nutrition Sensitive WASH Project (WINNER) berupaya dalam memastikan produk dan fasilitas MKM tersedia, terjangkau, dan inklusif, terutama di Provinsi NTT dan NTB.

Kedua, bekerja sama dengan Konsepsi, Transform, YSLPP, Lombok Disability Center, Yayasan Pijar Timur, dan Persani, proyek WINNER diimplementasikan di NTB (Mataram dan Lombok Tengah) dan NTT (Malaka dan Belu).

Ketiga, Plan Indonesia mendorong perubahan perilaku dengan upaya advokasi ke pemerintah daerah melalui Pokja AMPL Kabupaten serta menggandeng pengusaha mandiri di bidang sanitasi dan menstruasi untuk bekerja sama.

Keempat, dalam menghadapi tantangan masa pandemik COVID-19, Plan Indonesia memberikan alternatif akses terhadap MKM melalui diskusi daring di kanal Instagram Plan Indonesia dan Webinar bersama beberapa organisasi non-profit yang tergabung dalam Jejaring AMPL.

Kelima, Plan Indonesia meningkatkan kapasitas pengusaha sanitasi yang biasa memproduksi pembalut kain serta penyandang disabilitas untuk memproduksi masker kain untuk mencegah penyebaran pandemik COVID-19.

Terkait situasi MKM di masa pandemi Covid-19, Plan juga melakukan survei daring kepada pekerja di bidang sanitasi dan kesehatan reproduksi dan anak-anak perempuan di 30 negara. Sejumlah 50 responden di antaranya dari Indonesia, diwawancara untuk menggali permasalahan yang muncul saat pandemi Covid-19.

Beberapa kekhawatiran yang kerap muncul mengenai Manajemen Kebersihan Menstruasi meliputi:

  • 81 persen responden khawatir tidak akan terpenuhi kebutuhannya jika menstruasi.
  • 78 persen responden khawatir pandemi Covid-19 akan membatasi kebebasan ruang gerak mereka.
  • 75 persen mengatakan bahwa pandemi Covid-19 bisa meningkatkan risiko kesehatan bagi perempuan yang menstruasi, karena sumber daya yang mereka butuhkan (seperti air) dialihkan untuk kebutuhan lain.

Beberapa tantangan yang dihadapi oleh perempuan yang menstruasi di kala pandemik adalah:

  • Terbatasnya akses ke produk karena kekurangan dan terganggunya rantai pasokan
  • Meningkatnya harga produk menstruasi
  • Kurangnya akses ke informasi tentang manajemen kebersihan menstruasi
  • Kurangnya akses dan ketersediaan air bersih

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *