PLTU Batubara dan Ancaman Kematian Dini

Munjiah, 50 tahun, memegang hasil pemeriksaan yang menemukan adanya noda hitam di paru-paru yang diduga kuat disebabkan oleh pencemaran dari asap PLTU Batubara di Cilacap, Jawa Tengah (dok. greenpeace).
Munjiah, 50 tahun, memegang hasil pemeriksaan yang menemukan adanya noda hitam di paru-paru yang diduga kuat disebabkan oleh pencemaran dari asap PLTU Batubara di Cilacap, Jawa Tengah (dok. greenpeace).

Jakarta, Villagerspost.com – Pemerintah Indonesia masih terus menggantungkan kebutuhan energinya pada energi kotor. Setelah tergantung pada energi fosil, kini pemerintah mulai beralih pada energi kotor lainnya yaitu batubara. Pemerintah berencana membangun ratusan Pembangkit Listrik Tenaga Uap yang ditenagai batubara yang salah satunya akan dibangun di Batang, Jawa Tengah.

Proyek PLTU Batang yang diharapkan mampu menyediakan listrik berdaya 2×1.000 Megawatt itu, terus ditentang oleh petani dan nelayan Batang. Proyek tersebut dinilai akan merusak lahan pertanian yang subur di Batang seluas ratusan hektare dan akan merusak wilayah konservasi laut.

Kini penentangan para petani dan nelayan Batang, serta para aktivis lingkungan yang menolak energi kotor batubara itu semakin menemukan pembenarannya. Berdasarkan laporan yang dirilis Greenpeace dan Harvard University hari ini, Rabu (12/8), terungkap, energi kotor batubara ternyata membawa ancaman kematian dini.

Laporan itu menyebutkan, PLTU batubara di Indonesia menyebabkan sekitar 6,500 jiwa kematian prematur setiap tahun. Jumlah ini bisa naik hingga 15,700 jiwa per tahun jika pemerintah Indonesia meneruskan peluncuran rencana ambisius lebih dari seratus pembangkit listrik tenaga batu bara yang baru.

Angka-angka mengkhawatirkan ini didasarkan pada model atmosfer baru yang dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Harvard, menggunakan model atmosfer transport-kimia canggih, GEOS-Chem.

“Indonesia berada di persimpangan jalan. Presiden Jokowi memiliki pilihan, tetap dengan pendekatan bisnis seperti biasa untuk menghasilkan listrik dan mengambil  kehidupan ribuan orang Indonesia, atau memimpin perubahan dan ekspansi yang cepat untuk energi yang aman, bersih, yaitu energi terbarukan,” kata Jurukampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Hindun Mulaika, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Rabu (12/8)

Laporan baru itu, kata Hindun, jelas menunjukkan polusi batubara yang berdampak pada kehidupan rakyat Indonesia. “Hidup berusia pendek akibat penyakit stroke, serangan jantung, kanker paru-paru, penyakit jantung, dan pernapasan lainnya. Sedihnya, dampak kesehatan juga banyak mencakup kematian pada anak-anak. Ada juga biaya ekonomi yang serius, hingga saat ini, belum diperhitungkan,” ujarnya.

Laporan ini diluncurkan menyusul pengumuman baru oleh Presiden Jokowi untuk membangun tambahan 35 Gigawatt pembangkit listrik baru, dimana sebanyak 22 GW diantaranya akan datang dari pembangkit listrik batubara. “Kabar baiknya adalah bahwa pilihan Presiden menjadi jauh lebih jelas,” kata Hindun.

Pertama, laporan ini menunjukkan dampak sebenarnya dari energi berbasis batubara pada kehidupan dan kesehatan rakyat Indonesia. Kedua, Indonesia memiliki kesempatan untuk meninggalkan teknologi kotor dan mengikuti pemimpin dunia lainnya beralih ke energi bersih. “Hal ini akan menghasilkan lingkungan yang sehat, warga yang lebih aman dan lebih makmur,” pungkas Hindun.

Profesor Shannon Koplitz dari Harvard mengatakan, emisi dari pembangkit listrik tenaga batu bara membentuk partikel dan ozon yang merugikan kesehatan manusia. Indonesia adalah salah satu negara di dunia dengan rencana terbesar untuk memperluas industri batubara, namun sedikit yang telah dilakukan untuk mempelajari dampak kesehatan yang ditimbulkannya.

“Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa ekspansi batubara yang direncanakan secara signifikan dapat meningkatkan tingkat polusi di seluruh Indonesia. Biaya kesehatan manusia dari meningkatnya polusi batubara ini harus dipertimbangkan ketika membuat pilihan tentang masa depan energi Indonesia,” ujarnya.

Ahli batubara dan polusi udara Greenpeace, Lauri Myllyvirta mengatakan, aetiap pembangkit listrik berbahan bakar batubara baru berarti berisiko bagi kesehatan orang-orang Indonesia. Pembangkit listrik batubara yang diusulkan di Batang saja bisa menyebabkan 30.000 kematian dini melalui masa operasi 40 tahun.

“Ketika biaya energi terbarukan menurun dengan cepat dan dampak kesehatan yang serius batubara diperhitungkan, menjadi jelas bahwa ekonomi Indonesia akan mendapat manfaat lebih besar dari pengembangan energi terbarukan modern,” pungkasnya. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *