Polemik Jagung: Klaim Surplus Lagi, Impor Lagi | Villagerspost.com

Polemik Jagung: Klaim Surplus Lagi, Impor Lagi

Jagung untuk bahan baku pakan ternak. (dok. kemendagri.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Pemerintah lagi-lagi membuka keran impor jagung. Kali ini mencapai sejumlah 30 ribu ton, setelah sebelumnya juga membuka keran impor jagung sebanyak 100 ribu ton. Jika tak ada aral melintang, impor jagung tersebut akan segera dilaksanakan oleh Perum Bulog. Dirut Perum Bulog Budi Waseso mengatakan, sejak Kamis (10/1), surat persetujuan impor (SPI) sudah dipegang Bulog.

Buwas menjelaskan, jagung impor itu akan didatangkan dari Brasil dan Argentina. Alasannya, harga di kedua negara itu cukup murah, yaitu dipatok sebesar Rp4.500 per kilogram. Batas waktu impor pun ditetapkan hanya sampai dengan Februari. Namun, selama masih dibutuhkan peternak pihaknya akan membuka impor. “Februari. Kita akan ajukan lagi penugasan kepada pemerintah ya,” sambung dia, jika dirasa kebutuhan masih kurang.

Impor jagung oleh pemerintah ini pun kembali memicu polemik, lantaran Kementerian Pertanian, masih tetap ngotot bahwa produksi jagung tahun 2018 lalu mengalami surplus. Direktur Jenderal Tanaman Pangan Sumarjo Gatot Irianto, pada Jumat (11/1) lalu mengatakan, produksi jagung pada tahun 2018 mencapai 30,05 juta ton pipil kering (PK), sedangkan perhitungan kebutuhan sekitar 15,58 juta ton PK.

“Secara nasional selama setahun di 2018 bisa disimpulkan bahwa surplus padi dan jagung sudah bisa kita capai. Namun, tentu jika diturunkan datanya spesifik per daerah dan periode tertentu ada yang kekurangan, tapi bisa ditutupi dari daerah lain yang punya kelebihan produksi. Hal ini akan sangat terekait dengan masalah distribusi,” ujar Gatot.

Gatot menegaskan, keberhasilan mencapai surplus ini terjadi sebaga hasil dari pelaksanaan Upaya Khusus Padi Jagung dan Kedelai (Upsus Pajale) sejak tahun 2015. Gatot bahkan optimis produksi padi, jagung, kedelai juga melimpah di 2019 ini.

“Potensi tambahan produksi 2019 berpeluang besar diantaranya melalui pengembangan padi dilahan rawa pasang surut/rawa lebak, pemanfaatan lahan kering untuk padi, jagung, kedelai, pengembangan budidaya tumpang sari, perbaikan teknologi benih, pupuk, budidaya, dan penanganan pasca panen, dan pengamanan produksi dari gangguan OPT,” ujarnya.

Klaim ini kemudian dipertanyakan lantaran menurut Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, impor jagung justru merupakan permintaan dari Kementerian Pertanian sendiri untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri, khususnya untuk pakan ternak. Enggar menegaskan, pemerintah kembali membuka impor atas permintaan Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Sebab, pasokan jagung untuk pakan ternak kurang. “Karena nggak cukup, Pak Mentan bilang minta impor, di situ dalam rakor itu,” katanya.

Enggar tak menjelaskan berapa kebutuhan jagung untuk pakan ternak ini. Yang pasti, keputusan impor ini dilakukan bersama-sama. “Rakor, lho rakor yang mutuskan. Rakor, bukan kemauan saya,” ungkapnya.

Kurangnya pasokan untuk pakan ternak juga dibenarkan Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution. Darmin menjelaskan, impor dibutuhkan karena harga jagung masih tinggi karena stok masih kurang. “Masih ada kekosongan dan harga belum turun sehingga petelor masih kesulitan,” kata Darmin.

Menurut Darmin, impor 30.000 ton jagung pakan ternak baru mulai dieksekusi pada Februari tahun ini, atau setelah kuota 100.000 ton di 2018 selesai pada Januari 2019. Selain itu, Darmin mengungkapkan bahwa impor 30.000 ton jagung pakan ternak ini untuk mengisi kebutuhan sampai waktu panen di April 2019. “Panen jagung Maret-April masih ada kekosongan dan harga belum turun sehingga petelor masih kesulitan,” kata Darmin.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *