Produk Organik Indonesia Bisa Bersaing di Pasar Ekspor

Praktik menyemai bibit sayuran organik (dok. malangkota.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor, Kementerian Perdagangan Marolop Nainggolan mengatakan, Indonesia memiliki potensi produk organik yang cukup besar untuk bersaing di pasar internasional. Karena itu pihak Kemendag, melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN) berkomitmen mendorong eskpor produk organik Indonesia di pasar internasional.

” Potensi ini harus didukung dengan strategi pemasaran yang tepat. Melalui seminar pemasaran ini, diharapkan para pelaku usaha dapat menggenjot ekspor produk tersebut ke mancanegara,” ujar Marolop dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Jumat (20/7).

Marolop menegaskan, para pemangku kepentingan harus mencari solusi terbaik agar produk organik dapat menjadi salah satu produk yang paling banyak diekspor. “Produk organik Indonesia yang memiliki peluang besar untuk diekspor antara lain beras, kopi, madu, cokelat, mete, gula aren kelapa, minyak kelapa, udang, teh, dan vanila,” ujarnya.

Dalam menuju persaingan di pasar ekspor, banyak hal yang masih harus dibenahi, di antaranya masalah sertifikasi produk organik Indonesia di pasar internasional. Di dalam negeri masalah pengembangan produk organik dan perkembangan bisnis produk organik juga harus ditingkatkan.

Menurut Marolop, besarnya potensi produk organik di Indonesia, antara lain ditandai dengan meningkatnya jumlah petani yang mengelola pertanian organik dari tahun ke tahun, bertambahnya toko produk organik di supermarket dan rumah makan. Kemudian meningkatnya organisasi pecinta organik; serta berdirinya berbagai Lembaga Sertifikasi Organik (LSO).

Marolop menyampaikan, pasar produk organik dunia tumbuh pesat dalam 10 tahun terakhir. Pada tahun 2018 pasarnya diperkirakan mencapai US$161,5 miliar dengan laju pertumbuhan sebesar 15% per tahun.

Sedangkan pada tahun 2016 pasarnya senilai US$93,1 miliar. Adapun lima negara produsen utama adalah India, Uganda, Meksiko, Ethiopia, dan Filipina. Sedangkan tiga negara utama pasar produk organik adalah Amerika Serikat, Jerman, dan Prancis.

“Beberapa negara berkembang sudah mulai mempromosikan produk organik karena menguntungkan produsen dan konsumen. Selain itu, konsumen juga lebih menghargai produk hasil pertanian organik dibandingkan dengan produk nonorganik. Hal inilah yang harus dapat dimanfaatkan oleh para pelaku usaha untuk memasuki pasar ekspor,” jelas Marolop.

Tahun 2018, Kemendag telah menetapkan target pertumbuhan ekspor nonmigas sebesar 11% dan menetapkan strategi peningkatan ekspor yang salah satunya dengan perluasan pasar ekspor. “Ke depan, ekspor produk organik Indonesia diharapkan dapat memberikan kontribusi yang lebih besar untuk mencapai target ekspor nonmigas tersebut,” pungkas Marolop.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *