Produk Unggulan Desa Harus Ditata

Produk makanan olahan unggulan desa di Malang, Jawa Timur (dok. malangkab.go.id)
Produk makanan olahan unggulan desa di Malang, Jawa Timur (dok. malangkab.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo mengatakan, produk-produk unggulan desa harus ditata ulang. Pasalnya saat ini banyak desa yang sudah mampu memproduksi produk unggulan, namun masih dalam skala kecil.

Kecilnya skala produksi itu, kata Eko, belum bisa membantu percepatan peningkatan ekonomi desa. Produksi dalam skala kecil tersebut, justru akan memperpanjang rantai distribusi dan berdampak pada tingginya biaya transportasi.

(Baca juga: Revitalisasi Pasar Desa Hadang Produk Asing Masuk Desa)

“Saat berkunjung ke desa, saya lihat ada yang menanam jagung, tapi sekupnya kecil-kecil. Ada yang menanam bawang tapi hanya beberapa dan hanya kecil-kecilan. Yang seperti ini kurang nilainya. Bisa kan kita buat, satu atau dua desa dikombinasikan produk unggulannya apa, kita fokus pada produk tersebut dan buat dalam skala besar,” ujarnya, seperti dikutip kemendesa.go.id, Jumat (5/8).

Eko mencontohkan, beberapa desa yang memiliki potensi jagung, masyarakatnya diarahkan untuk fokus dan konsisten menanam dan produksi jagung. Dengan begitu, akan mempermudah distribusi dan meningkatkan daya tarik konsumen. “Ini tidak, kadang masyarakat kita ini tidak konsisten, kadang menanam kedelai, kadang menanam bawang, ini sulit berkembang,” terangnya.

Eko melanjutkan, hasil produksi desa dalam jumlah besar, dapat disimpan ataupun diolah melalui sarana pasca panen. Dengan begitu, kualitas produk seperti halnya hasil panen pertanian dapat terjaga dengan baik.

“Kalau hasil panen padi misalnya, jumlahnya sangat banyak dan melebihi kebutuhan warga, dapat disimpan dulu di sarana pasca panen agar harga tidak merosot. Sebaliknya, di saat panen padi mulai langka, padi yang disimpan tadi bisa didistribusikan agar harga tidak terlalu melonjak naik. Ini menguntungkan petani, tapi juga menguntungkan konsumen,” ujarnya.

Meski demikian Menteri Eko mengakui, masing-masing desa memiliki potensi dan ciri khas berbeda. Untuk itu, perlu adanya kerjasama dari pemerintah daerah, media massa dan NGO, untuk memberikan informasi mengenai pengembangan ekonomi yang cocok diterapkan desa.

“Kita harus benar-benar merancang desa-desa ini mau dijadikan apa. Karena ada yang potensinya di wisata, perikanan, peternakan, meskipun mayoritas di agriculture,” ujarnya.

Ikuti informasi terkait produk unggulan desa >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *