Program SIP, Dorong Produksi Udang Berkelanjutan di Banyuwangi

Kawasan tambak udang di Banyuwangi (dok. conservation international)

Jakarta, Villagerspost.com – Conservation International (CI) Indonesia, Yayasan Inisiatif Dagang Hijau, Longline Environment, dan Sustainable Fisheries Partnership bekerja sama dalam mengimplementasikan Shrimp Improvement Program (SIP) di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Lewat program SIP tersebut, lembaga-lembaga internasional ini berupaya mendorong produksi udang berkelanjutan di Banyuwangi.

Fisheries and Aquaculture Program Manager CI Indonesia Ateng Supriatna mengatakan, tren produksi udang di Indonesia mengalami peningkatan dalam lima tahun terakhir dan diproyeksikan akan terus meningkat. Hal ini menjadi dasar pemerintah menjadikan udang sebagai komoditas unggulan perikanan dan kelautan guna mendukung perekonomian nasional.

“Sebagai bentuk partisipasi positif terhadap upaya peningkatan produktivitas budidaya udang tanpa merusak ekosistem dan habitat, maka Program SIP bertujuan untuk mendorong transformasi industri budidaya udang menuju produksi yang berkelanjutan melalui peningkatan kapasitas pelaku budidaya, penguatan tata kelola, dan pengembangan model investasi di Banyuwangi,” ujar Ateng, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Jumat (25/10).

Program SIP ini juga didukung oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Shrimp Club Indonesia-Banyuwangi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan perguruan tinggi. Ateng mengungkapkan, ada beberapa manfaat dari perlaksanaan program ini. Pertama, erjalinnya komunikasi yang baik antarpelaku usaha budidaya udang dan pemerintah. Kedua, berkembangnya pengelolaan budidaya udang berkelanjutan berbasis kawasan.

Ketiga, meningkatnya kapasitas petambak dalam memitigasi ancaman penyakit udang. Keempat, tersedianya informasi daya dukung kawasan budidaya udang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Kelima, tingginya minat investor dalam usaha budidaya udang di Banyuwangi

“Program ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan ekspor udang yang berkelanjutan dan dapat memenuhi target produksi Tahun 2019-2024 yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Pelaksanaan program diharapkan dapat meminimalisir beberapa kendala yang sering dihadapi pada usaha budidaya udang di tambak,” tambah Ateng.

Usaha budidaya udang di tambak seringkali menghadapi beberapa tantangan dan konflik kepentingan dengan pemanfaat sumberdaya lainnya. Kondisi demikian disebabkan usaha budidaya udang memerlukan ruang atau Kawasan seperti lahan, pantai, wilayah laut, dan air tawar yang memungkinkan terjadinya perubahan atau modifikasi.

Konflik biasanya terjadi karena tidak adanya perlindungan dan rendahnya perhatian pengguna sumberdaya terhadap ekosistem yang dibutuhkan dalam usaha budidaya udang di tambak. “Keberhasilan usaha budidaya udang, tergantung dari kualitas pasokan air yang baik, dan biasanya kegiatan usaha tersebut jarang menjadi satu-satunya pengguna badan air,” ujar Ateng.

Ateng mengatakan, kegiatan usaha budidaya udang ditambak, secara langsung dipengaruhi oleh pengguna hulu dan berdampak langsung pada pengguna hilir melalui buangan air yang dihasilkan ke lingkungan sekitar. Melebihi daya dukung lingkungan dari air, mengarah pada timbulnya dampak lingkungan yang negatif seperti eutrofikasi, hipoksia, dampak bentik, abstraksi air tanah, dan hilangnya nilai manfaat ekosistem kawasan budidaya.

Penyakit menjadi faktor utama yang mempengaruhi produktivitas tambak udang. Serangan penyakit sangat mahal jika terjadi pada tambak udang dan kadangkala menimbulkan kerugian yang cukup besar. “Fenomena tersebut disebabkan biaya produksi udang sangat tinggi dengan tingkat keuntungan relatif tidak terlalu besar,” tegasnya.

Upaya mengendalikan serangan penyakit dan pencegahannya juga memiliki tingkat biaya yang tinggi karena diperlukan sumberdaya lain seperti penggunaan obat-obatan dan antibiotik. Untuk mengantisipasi kendala yang akan dihadapi pada usaha budidaya udang di tambak, menurut Ateng, program SIP diharapkan mampu mengurangi kendala tersebut dan dapat memberikan kontribusi kepada pelaku usaha dalam melaksanakan usaha budidaya udang yang baik.

Program SIP ini didukung secara penuh dalam hal pembiayaan dari Walton Family Foundation dan David and Lucile Packard Foundation. Kegiatan diawali pada awal Tahun 2019 dan berakhir pada tahun 2020. Sampai saat ini beberapa rencana kegiatan telah dilaksanakan berkolaborasi dengan seluruh stakeholder budidaya udang di Kabupaten Banyuwangi.

Beberapa program yang telah dilaksanakan diantaranya pengembangan modul pelatihan peningkatan produksi udang berkelanjutan, penyusunan rencana kerja pengembangan produktivitas budidaya udang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Kemudian, perumusan standar operasional prosedur budidaya udang di Kawasan yang berwawasan lingkungan, pembuatan sistem informasi daya dukung Kawasan budidaya udang, dan pengembangan model pembiayaan usaha budidaya udang yang inovatif.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *