Proyek Panas Bumi Dihapus, Ekosistem Leuser Tetap Rentan Punah | Villagerspost.com

Proyek Panas Bumi Dihapus, Ekosistem Leuser Tetap Rentan Punah

Lebatnya hutan Kappi, di Zona Inti Taman Nasional Gunung Leuser yang merupakan bagian dari Situs Warisan Dunia Hutan Hujan Tropis Sumatra adalah anugerah alam untuk kehidupan manusia dan satwa liar yang ada di dalamnya. Bukan untuk dirusak demi kepentingan sesaat dan segelintir pihak. ( junaidi hanafiah).

Jakarta, Villagerspost.com – Sidang Komite Warisan Dunia ke-41 telah mengeluarkan suara bulat untuk mempertahankan Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatera (TRHS) dalam Daftar Warisan Dunia dalam Bahaya karena hutan hujan yang penting bagi dunia ini masih terus menghadapi berbagai ancaman. Panut Hadisiswoyo, pendiri dan direktur Orangutan Information Centre, yang menjadi juru bicara masyarakat sipil pada pertemuan Komite Waisan Dunia menyatakan, pihak sangat menghargai sikap komite tersebut.

“Komite Warisan Dunia telah memastikan perlunya mengambil tindakan tegas untuk mengatasi ancaman yang saat ini dihadapi hutan hujan warisan dunia di Sumatra. Kami sangat menghargai sikap komite untuk mempertahankan situs warisan dunia Hutan Hujan Sumatra (THRS) pada Daftar Warisan Dunia dalam Bahaya, karena kehancuran akibat kegiatan ilegal masih berlanjut hingga hari ini,” kata Panut dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Sabtu (8/7).

Panut juga menyatakan, menyambut baik pernyataan Pemerintah Indonesia untuk menghapuskan rencana pengembangan proyek panas bumi di wilayah Situs Warisan Dunia dan siap bekerja sama untuk melindungi hutan hujan warisan dunia dengan pembangunan alternatif. “Hal ini agar Ekosistem Leuser yang luar biasa ini tetap terjaga sambil mengamankan keutuhan Situs Warisan Dunia Hutan Hujan Tropis Sumatra,” tegasnya.

Hutan Hujan Tropis Sumatera diajukan oleh Pemerintah Indonesia sebagai Situs Warisan Dunia, dan ditetapkan pada tahun 2004. TRHS berikut hutan hujan dataran rendah dan lahan gambut di sekitar Ekosistem Leuser adalah satu-satunya tempat di bumi dimana orangutan, badak, harimau dan gajah Sumatera hidup bersama di alam liar dan merupakan sumber air dan mata pencaharian yang penting bagi jutaan orang.

Pada tahun 2011, kawasan tersebut termasuk dalam daftar ‘Warisan Dunia dalam Bahaya’ dikarenakan aktivitas pembalakan liar, perburuan, perluasan kelapa sawit dan fragmentasi hutan hujan utuh untuk jalan baru. Sejak saat itu, ancaman lainnya muncul termasuk rencana tata ruang Aceh yang cacat, rencana tiga bendungan pembangkit listrik tenaga air dan Proyek Panas Bumi Kappi yang berpotensi menghancurkan jantung Hutan Tropis Situs Warisan Dunia.

Panut menegaskan, sejalan dengan Pemerintah Indonesia, pihaknya berkomitmen untuk menjadikan warisan dunia ini keluar dari daftar ‘bahaya’ tetapi hal itu tidak akan terwujud hingga semua ancaman yang dihadapi dapat ditangani. “Kami menghargai langkah baik Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia beserta Gubernur Provinsi Aceh Irwandi Yusuf yang telah membuat pernyataan tegas untuk mengabaikan proposal panas bumi di jantung Leuser, namun masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mengembalikan kerusakan yang telah terjadi, dan menghalangi upaya pembangunan jalan atau bendungan baru yang diusulkan untuk dibangun di kawasan Ekosistem Leuser,” ujarnya.

“Kami siap bekerjasama dengan Pemerintah Indonesia untuk menjaga warisan dunia ini. Penegakan hukum yang tepat diperlukan untuk mengatasi tingginya tingkat penebangan ilegal, perburuan, perambahan liar dan pembukaan jalan baru,” tambah Panut.

Pada kesempatan yang sama Panut Hadisiswoyo juga menyampaikan kepada 21 anggota Komite Warisan Dunia, dukungan petisi dari 14.000 warga dunia yang peduli dan ikut ambil bagian dalam gerakan “Love The Leuser” untuk menetapkan Warisan Dunia Hutan Hujan Tropis Sumatera ke pada Daftar Situs Warisan Dunia dalam Bahaya. “Ini akan terus berlanjut hingga ancaman terhadap kawasan ini bisa ditanggulangi dan masa depan kelestariannya bisa terjamin selama-lamanya,” pungkasnya. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *