PTPN V Olah Limbah Limbah Sawit Jadi Listrik

Industri pengolahan minyak sawit Indonesia (dok. agro.kemenperin.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Direktur Utama PTPN V Jatmiko Krisna Santosa bersama Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza meresmikan pilot project Pembangkit Listrik Tenaga Biogas, di Pabrik kelapa sawit kebun Terantam PTPN V, Kecamatan Tapung Hulu, Kabupaten Kampar, Riau, Senin (4/3). Lewat pilot project ini, PTPN V memanfaatkan limbah cair sawit menjadi tenaga listrik, yang bisa menghasilkan daya mencapai sebesar 700 Kilowatt.

Project ini dilakukan bekerja sama dengan BPPT. “Setelah melalui banyak diskusi dan kajian, kami bersyukur pembangunan pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBg) di pabrik kelapa sawit (PKS) Teratam hasil kerja sama dengan BPPT dapat diselesaikan dan diresmikan bersama-sama,” ujar Jatmiko.

Jatmiko menyebutkan, biaya pembangunan PLT Biogas sebesa Rp27 miliar. Bahan baku yang digunakan untuk menghasilkan listrik berasal dari palm oil mill effluent (POME) atau limbah cair dari pabrik kelapa sawit Terantam, dan mampu menghasilkan listrik sebesar 700 KW.

Listrik yang dihasilkan dari pembangkit ini nantinya akan digunakan untuk operasional pabrik pengolahan kernel (inti) sawit di Tandun, yang saat ini beroperasi dengan pasokan listrik dari PLT Biogas Tandun dan supply bahan bakar fossil.

“Penerapan sawit yang lestari bukanlah menyulitkan, tapi jadi bagian dari mimpi besar PTPN V untuk menjadi contoh sukses peningkatan nilai tambah dari limbah kelapa sawit, sekaligus meningkatkan kemampuan inovasi teknologi pemanfaatan limbah cair menjadi energi listrik di Indonesia, serta bukti kita tidak hanya sekedar pemenuhan kriteria untuk memperoleh sertifikasi ISO, ISPO, RSPO hingga ISCC,” ujarnya.

PTPN V, kata Jatmiko, patut bersyukur, sebab perusahaan yang senantiasa fokus menerapkan budidaya perkebunan yang sustainable itu, memperoleh berkah melalui kerja sama yang apik dengan BPPT. “BPPT punya riset, kajian, SDM, teknologi, dan peralatannya, sedangkan kita memiliki potensi limbah sawit yang sangat besar, yang berasal dari hasil olah PKS berkapasitas 575 ton TBS/jam,” terangnya.

Dia menyebutkan bahwa sinergi dengan BPPT dalam pembangunan pilot plan Biogas yang dimulai dengan penandatanganan MoU di tahun 2016. Selanjutnya, dengan pembangunannya di tahun 2017.

“Apresiasi dan terimakasih kami kepada BPPT, dengan kerjasama yang baik, buah kesungguhan Perusahaan untuk menjadi Perusahaan Perkebunan Negara yang paling Fokus mengembangkan energi terbarukan berbahan dasar limbah sawit, senantiasa terjaga,” tegasnya.

PLT Biogas Teratam merupakan project kedua di PTPN V, sebelumnya juga telah dibangun PLT Biogas pertama di lingkungan BUMN Perkebunan berlokasi PKS Tandun dengan daya 1,2 MW. Selanjutnya, Jatmiko tengah merencanakan membangun PLT Biogas ketiga. “Yang ketiga di PKS Sei Pagar, tetap bekerja sama dengan BPPT,” sebut Jatmiko.

Menurut Jatmiko PTPN V berencana memanfaatkan seluruh potensi biogas dan biomass dari limbah sawit kami. Selain digunakan sendiri, kebutuhan listrik Riau menjadi potensi bagi kami yang sudah melakukan MoU dengan PLN. “Kami berharap ke depan akan semakin banyak perusahaan sawit yang dapat memanfaatkan limbah kelapa sawit menjadi energi di Indonesia,” kata Jatmiko.

Sementara Kepala BPPT Hammam Riza menambahkan, pembangunan PLT Biogas ini merupakan pilot project bagi BPPT. “Kami memandang PTPN V ini memiliki potensi yang sangat besar dalam hal pengelolaan limbah sawit menjadi energi terbarukan seperti biogas. Kami pun menaruh perhatian besar dalam pengembangan teknologi yang berasal dari tanaman budidaya kelapa sawit maupun limbahnya,” katanya.

Kelapa sawit dinilai merupakan alternatif sumber energi yang paling baik untuk menggantikan sumber energi fosil yang tak lama lagi akan habis. Sebab tanaman ini memiliki produktifivitas yang tinggi dan ramah lingkungan. Sumber energi berbasis sawit seharusnya bisa menjadi salah satu pilihan strategis untuk memenuhi kebutuhan listrik di Indonesia.

“Indonesia saat ini merupakan produsen Crude Palm Oil (CPO) terbesar di dunia, yaitu sekitar 32 juta ton per tahun. Namun produksi CPO yang berlimpah ini juga pasti diikuti dengan produksi limbah yang selalu menjadi perhatian publik. Karenanya, upaya-upaya dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan menjadi penting ketika aktifitas pemanfaatan energi berlangsung di setiap tempat,” tutup Riza.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published.