Punya Potensi Tinggi, Pemerintah Dorong Pengembangan Produk Hortikultura | Villagerspost.com

Punya Potensi Tinggi, Pemerintah Dorong Pengembangan Produk Hortikultura

Lahan sayuran milik anggota petani pro iklim desa Katiku Wai, Sumba Timur, NTT (villagerspost.com/rahmat adinata)

Jakarta, Villagerspost.com – Sekretaris Menko Bidang Perekonomian Susiwijono mengatakan, pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mendorong pengembangan produk pertanian, khususnya hortikultura yang mempunyai daya saing dan potensi ekspor tinggi. Menurutnya, produk hortikultura memiliki nilai ekonomi tinggi dan potensi pasar yang masih terbuka lebar. Baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

“Buah-buahan merupakan komoditas yang memberikan kontribusi Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Hortikultura tertinggi dengan rata-rata sebesar 54,7 persen dari PDB Hortikultura,” kata Susiwijono, dalam siaran persnya, Senin (12/8).

Dorongan pemerintah terhadap hortikultura merupakan salah satu upaya untuk mengatasi defisit neraca perdagangan yang pada akhir 2018 mencapai US$8,70 miliar. Namun, sektor non migas masih dapat memberikan surplus sejumlah US$4 miliar.

Surplus ini menunjukkan, potensi ekspor non migas masih sangat besar. Apabila dioptimalkan akan dapat memberikan kontribusi positif serta mengurangi defisit neraca perdagangan Indonesia, yang pada semester pertama 2019 ini masih defisit sebesar US$1,93 miliar.

“Pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mendorong ekspor dan mengendalikan impor untuk mengatasi permasalahan defisit neraca perdagangan tersebut,” kata Susiwijono.

Meski potensial, Susiwijono mengatakan, masih terdapat beberapa tantangan dalam pengembangan hortikultura. Di antaranya, sumber daya manusia (SDM) dan kelembagaan petani masih lemah, keterbatasan modal, pendampingan dan inovasi teknologi masih lemah, daya saing yang rendah, serta kurangnya akses pasar.

Susiwijono mengatakan, solusinya adalah perlu ada kerja sama kemitraan yang dapat membantu petani dalam merancang pola produksi hingga pemasaran di dalam negeri maupun ekspor. “Supaya petani kita menjadi lebih mandiri, tangguh dan bisa bersaing di pasar global,” tuturnya.

Salah satu kemitraan yang dinilai sukses oleh pemerintah adalah pengembangan komoditas ekspor pisang dan nanas antara Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah dengan PT Great Giant Pineapple (GGP). Kemitraan ini bahkan akan direplikasi di daerah lain.

Pada tahap awal, pemerintah akan melakukan pengembangan komoditas hortikultura, khususnya pisang, secara klaster. Hal ini dilakukan melalui pola kerjasama kemitraan dengan para petani dan masyarakat, di 13 kabupaten/kota yang berada di Provinsi Jawa Timur, Bali, Sumatera Utara, Aceh, dan Kepulauan Riau.

Kemenko Perekonomian akan mendorong pengembangan hortikultura sebagai program prioritas nasional. Tujuan utamanya meningkatkan ekspor, mendorong perekonomian daerah, serta kesejahteraan petani.

Setelah program pengembangan hortikultura ini menjadi program prioritas nasional, Kemenko Perekonomian akan mengoordinasikan melalui integrasi sejumlah kebijakan. “Yakni, penyediaan lahan melalui optimalisasi kebijakan pemanfaatan lahan melalui program Reforma Agraria, peningkatan produksi, mutu dan daya saing produk hortikultura dan peningkatan akses pembiayaan petani melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR),” ujarnya.

Selain itu, peningkatan akses pasar melalui e-commerce dan Program Kemitraan Ekonomi Umat serta penyediaan dukungan sistem logistik. Di sisi lain, pembangunan infrastruktur transportasi yang menghubungkan kawasan produksi dan dukungan kebijakan tarif dan diplomasi perdagangan internasional juga dilakukan.

“Pemerintah daerah juga akan mendukung dengan cara menyediakan lahan, menguatkan kelembagaan petani dan membangun koperasi. Selain itu, memberikan dukungan akses pembiayaan dan bantuan sarana produksi, serta membantu melakukan pendampingan kepada petani,” pungkasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *