Rahmat Adinata: Kisah Si Kabayan “Pendakwah” Pertanian Organik

Rahmat Adinata, sang Kabayan organik tengah bersiaran (dok. villagerspost.com)
Rahmat Adinata, sang Kabayan organik tengah bersiaran (dok. villagerspost.com)

Bogor, Villagerspost.com – Namanya Rahmat Adinata, namun orang-orang di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, mengenal pria kelahiran Bandung, 3 Februari 1964 ini dengan panggilan Rahmat Organik. Panggilan “organik” di belakang nama Rahmat, bukan sebuah penyematan yang kebetulan, tetapi berasal dari perjalanan hidupnya selama lebih sepuluh tahun “mendakwahkan” pertanian organik ke nyaris seantero pelosok nusantara.

Di Sumba sendiri, ayah lima orang anak ini, mulai menyebarkan virus pertanian organik sejak tahun 2012. Sebelumnya, dia juga pernah berbagi ilmu pertanian organik di Riau, dan kepulauan Anambas di Provinsi Kepulauan Riau. Kepada Villagerspost.com, pria yang pernah aktif di klub Persib Bandung ini, berbagi beberapa pengalaman menarik selama mengabdikan dirinya berbagi pengetahuan dengan petani tentang pertanian organik.

Kali ini, Rahmat berbagi kisah-kisah unik dalam berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Salah satunya, ketika dia secara tidak sengaja menjadi juru damai antara dua dusun yang bertikai di Desa Watukawula, Sumba Barat Daya, belum lama ini. Terkisah, Rahmat harus berpindah wilayah binaan dari Sumba Timur ke Sumba Barat Daya. Di sana, Rahmat salah satunya harus memberikan pelatihan pertanian organik kepada masyarakat Desa Watukawula yang mengembangkan pertanian pangan dan tanaman kakao.

Pelaksanaan prosesi upacara jalan salib suci untuk mendamaikan warga dusun yang bertikai (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Pelaksanaan prosesi upacara jalan salib suci untuk mendamaikan warga dusun yang bertikai (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)

Rahmat dan mitranya, Pater Mike M. Keraf dari Yayasan Pengembangan Kemanusiaan Donders, kemudian mencari lahan yang pas untuk dijadikan lahan percontohan pengembangan pertanian konservasi selaras alam dengan komoditas kakao dan pertanian pangan. Celakanya, lahan yang sedianya untuk lahan percontohan, ternyata merupakan lahan sengketa antara dusun Golludapi dan dusun Pamadana.

Sengketa terkait lahan itu sendiri sudah berlangsung selama 15 tahun. Tak jarang konflik memunculkan kekerasan hingga jatuh korban luka-luka. Rahmat dan Pater Mike pun harus putar otak untuk bisa mendamaikan warga di kedua dusun itu agar program bisa berjalan lancar. “Jika konflik tak bisa diatasi tentu tak mungkin program bisa berjalan,” kata Rahmat.

Salib suci ditancapkan di tanah sengketa, doa dan perdamaian pun diikrarkan (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Salib suci ditancapkan di tanah sengketa, doa dan perdamaian pun diikrarkan (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)

Rahmat, Pater Mike dan kepala desa Watukawula Laurensius Todo pun berembuk untuk merumuskan cara mendamaikan kedua kubu yang sudah belasan tahun bertikai itu. Hasilnya, disepakati jalan damai harus lewat pendekatan agama yang dilakukan oleh Pater Mike selaku pemuka agama terkemuka di wilayah Sumba Barat Daya. Selain itu, sebagai ketua yayasan, Pater Mike juga sangat dihormati warga karena aktivitas sosialnya.

Pertanyaannya, bagaimana caranya? Ketika itu, ketegangan antar kedua kubu sudah sangat tinggi tensinya, bentrokan nyaris terjadi beberapa kali. Dalam situasi yang genting itulah, tiba-tiba Rahmat datang dengan ide unik. “Bagaimana kalau Pater Mike membuat prosesi Jalan Salib Suci? Pater sendiri nantinya yang akan mengusung salib suci melewati beberapa dusun hingga melewati wilayah yang disengketakan?” kata Rahmat.

Berfoto bersama usai upacara, mengacungkan lambang kemenangan perdamaian di Watukawula (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Berfoto bersama usai upacara, mengacungkan lambang kemenangan perdamaian di Watukawula (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)

Dia menawarkan prosesi dimulai dari kantor D’SOS (Donders Save Our Sumba) di wilayah Kererobo hingga ke Golludapi dimana wilayah sengketa berada. Jarak antara kedua wilayah itu mencapai 3 kilometer. Pikir Rahmat, prosesi jalan salib ini tentu akan menarik banyak warga yang kebanyakan adalah penganut Katolik yang taat untuk berpartisipasi. Nantinya, pada setiap titik perhentian, Pater akan memberikan ceramah berisi pesan-pesan perdamaian agar lebih mudah dicerna oleh warga, khususnya dari kedua dusun yang bertikai.

Tanpa pikir panjang, Pater Mike pun setuju. Maka, pagi hari pukul 09.00 tanggal 23 Desember 2016 pun, acara prosesi jalan salib suci pun dimulai. Mulanya, jumlah peserta masih sedikit sekitar belasan orang saja. Namun semakin lama, semakin banyak dusun yang dilewati, semakin banyak pula warga yang bergabung dalam prosesi itu. Bahkan warga membantu Pater Mike ikut mengusung salib suci perlambang perjuangan dan pengorbanan Yesus dalam menyebarkan kedamaian di bumi.

Seperti harapan Pater Mike dan Kepala Desa, warga kedua dusun yang bertikai pun ikut dalam prosesi tersebut. Akhirnya tibalah rombongan yang jumlahnya sudah mencapai ratusan warga itu, ke lokasi sengketa. “Di tanah itu, akhirnya salib suci yang diusung sepanjang jalan, ditanam,” kata Rahmat.

Pater Mike pun memberikan ceramah akhirnya. “Jika kalian masih tetap berselisih, mau melempar atau menyakiti saudaramu yang di seberang, maka pandanglah salib itu. Jika salib itu akan memberikan berkah maka kau akan diberkati selamanya. Tetapi jika salib itu memberikan bala, maka kalian akan mendapat bencana selamanya,” kata Pater Mike.

Uma page atau rumah intar, rumah adat temat masyarakat bertemu, saling berbagi ilmu (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Umah page atau rumah pintar, rumah adat tempat masyarakat bertemu, saling berbagi ilmu (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)

Usai berceramah, Pater Mike mengunjungi warga dusun Golludapi dan membawa kain tenun Sumba dan sirih-pinang. Pater pun berkata: “Jika kalian sakit aku pun merasa sakit.” Kemudian, Pater Mike pun mengunjungi dusun Pamadana. Di sana, Pater Mike melakukan prosesi yang sama. Dengan prosesi tersebut, konflik antara kedua dusun relatif bisa diredam.

Warga kedua dusun sangat menghormati salib yang ditanam di tanah sengketa sehingga konflik tidak berlanjut. “Padahal tadinya warga kedua kubu sudah merencanakan perang tanding dengan senjata tradisional panah, parang, batu yang sudah dikeramatkan. Sekali terkena senjata itu, bisa luka parah,” kisah Rahmat.

Dengan perdamaian itu, program pengembangan pertanian konservasi selaras alam di desa Watukawula pun bisa berjalan. Tak hanya membangun lahan percontohan, pihak yayasan pun kemudian menjadikan “umah page” alias rumah pintar yang sudah setahun ini dibangun di Golludapi untuk lebih mempererat persatuan warga melalui berbagai aktivitas.

Sepertinya namanya “umah page” yang artinya rumah pintar, warga desa Watukawula bisa melakukan berbagai kegiatan untuk menambah pengetahuan. Misalnya, pelatihan pertanian, pergelaran budaya, sekolah minggu, juga berbagai pertemuan warga. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *