RAN: Merek dan Bank Besar Gagal Menghentikan Deforestasi dan Pelanggaran HAM

Anak laki-laki dari Masyarakat Adat Aek Lung di Sumatera Utara, sedang menyaksikan tanahnya dibuka untuk perkebunan pulp dan kertas milik Toba Pulp Lestari / Royal Golden Eagle. (dok. ran/sgusriady saputra)

Jakarta, Villagerspost.com – Rainforest Action Network (RAN) mengungkapkan, merek-merek dan bank-bank multinasional besar gagal menghentikan deforestasi dan pelanggaran hak asasi manusia dalam praktik bisnis mereka. RAN mengungkapkan hal tersebut, dalam laporan penilaian terbarunya yang berjudul, “Mempertahankan Tegakkan Hutan: Evaluasi Merek-merek dan Bank-bank yang Mendorong Deforestasi dan Pelanggaran Hak Asasi Manusia“.

Dari penilaian tersebut ditemukan, tidak ada satupun dari 17 merek-merek dan bank-bank yang dievaluasi telah mengambil tindakan memadai untuk mengatasi kontribusi mereka terhadap perusakan hutan serta perampasan lahan yang terus berlangsung. Mereka juga gagal menghentikan kekerasan terhadap Masyarakat Adat dan lokal.

RAN mengungkapkan, sejumlah merek dan bank bahkan memiliki kinerja yang lebih buruk dibandingkan rekan-rekan mereka. Khususnya bank-bank seperti BNI, CIMB, ICBC, JPMorgan Chase, dan MUFG, bersama dengan merek-merek seperti Colgate-Palmolive, Ferrero, Kao, Mondel├ęz, Nissin Foods, dan Procter & Gamble yang memiliki reputasi terburuk dengan nilai ‘F’ dari hasil evaluasi.

“Beberapa merek dan bank besar dunia memiliki pengaruh serius atas kerusakan hutan hujan yang terus berlanjut, perampasan lahan dan pembunuhan aktivis pembela hak asasi manusia, namun merek dan bank ini tidak banyak bertindak untuk menghentikannya,” kata Direktur Kampanye untuk Hutan RAN Daniel Carrillo, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Kamis (29/4).

“Jika kita menginginkan masa depan dengan iklim yang stabil, kita harus menjaga tegakan hutan. Tidak ada waktu tersisa bagi perusahaan-perusahaan ini untuk terus membiayai model bisnis yang berdampak terhadap hutan dan masyarakat,” tambahnya.

Banyak dari merek dan bank ini telah mengadopsi berbagai komitmen dan kebijakan di masa lalu untuk mencapai “Nol Deforestasi” dan menjunjung tinggi hak Masyarakat Adat dan hak asasi manusia dalam praktik bisnis mereka. Namun, hutan hujan di Indonesia dan yang ada di seluruh dunia terus dibakar, ditebang habis, dan dibuldoser setiap hari untuk komoditas seperti minyak sawit, pulp, kertas, daging sapi, kedelai, kakao, dan kayu.

Merek-merek multinasional memenuhi permintaan pasar untuk produk ini dan pembiayaan terus mengalir dari bank-bank besar di seluruh dunia. Ke-17 perusahaan yang dievaluasi terpilih karena berpengaruh signifikan pada pasar komoditas ini.

“Dari Indonesia hingga AS, masyarakat adat dan lokal berjuang untuk melindungi tanah dan hutan mereka dari perusahaan yang ingin mengeksploitasinya tanpa persetujuan, ratusan ribu orang di seluruh dunia juga ikut mendukung dan meminta pertanggungjawaban perusahaan-perusahaan ini. Perusahaan yang tidak mengambil tindakan nyata berada di baris berikutnya,” kata Daniel.

Evaluasi ini menjabarkan langkah-langkah yang dapat diambil perusahaan untuk meningkatkan kinerja mereka, termasuk mengadopsi kebijakan untuk menghentikan deforestasi dan pelanggaran hak asasi manusia dari rantai pasokan dan pembiayaan mereka.

Laporan ini juga mengungkapkan secara publik dampak penuh bisnis mereka terhadap hutan dan hak Masyarakat Adat dan lokal. “Laporan tersebut juga merupakan upaya mencegah tindak kekerasan dan memastikan bahwa hak-hak masyarakat adat dan lokal dihormati sepenuhnya, serta membuktikan bahwa klien dan mitra bisnis mereka benar-benar turut mematuhi kebijakan mereka,” tegas Daniel.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *