Regenerasi Petani Kunci Pembangunan Pangan dan Perdesaan

Para Duta Petani Muda di acara peluncuran buku “Mencari Petani Muda” (dok.oxfam/irwan firdaus)

Jakarta, Villagerspost.com – Mulanya, bagi Rici Solihin, menjadi petani bukanlah sebuah pekerjaan serius. “Saya awalnya bukan petani, tetapi mahasiswa yang mencari tambahan penghasilan,” kata Rici sang duta petani muda membuka kisah suksesnya di acara peluncuran buku “Mencari Petani Muda: Ikhtiar Membangun Masa Depan Pertanian”, di Cikini, Jakarta, Selasa (25/4).

Ketika, itu, kata diam kebetulan di desanya, Desa Pasirlangu, Kabupaten Bandung Barat, banyak petani, khususnya petani muda yang membudidayakan paprika, namun kesulitan memasarkan. “Rantai distribusi terlalu panjang dari tingkat petani ke konsumen,” katanya.

Karena itulah, Rici tergerak membangun bisnis hortikultura, yang bisa memangkas rantai distribusi hasil pertanian, khususnya sayuran. “Untuk paprika, ada banyak pangsa pasar sebenarnya bukan hanya di Bandung, tetapi juga di luar Jawa, seperti Kepri (Kepulauan Riau-red), Kalimantan, banyak permintaan,” katanya.

Dar situ kemudian lahirlah “Paprici”. Untuk bisa dipasarkan, Rici mengupayakan agar petani paprika mampu meningkatkan kualitas hasil panen serta pengiriman barang ke konsumen. Selain memangkas rantai, margin profit petani juga lebih besar dan bisa memberikan produk segar berkualitas kepada konsumen.

Dari situlah, Rici, mulai bisa memberdayakan petani hortikultura khususnya paprika di Desa Pasirlangu. Dia mengatakan, selain pangsa pasar luas, paprika secara ekonomis juga merupakan komoditas dengan margin penghasilan yang besar. “Paprika hanya butuh lahan tidak besar sekitar 600m2 dan buat greenhouse untuk 6200 pohon, setara 5,2 ton per musim, margin keuntungan penjualan bisa 30-50%,” katanya.

Ini berbeda dengan komoditas seperti kentang yang margin keuntungan penjualannya hanya sebesar 10-15%. “Kalau kentang kita harus mainin volume,” kata sarjana manajemen ini.

Rici bersama Rizal Fahreza, pemilik usaha Digdaya Agro Nusantara dan I Gede Artha Sudiartana yang sukses dengan bisnis jamur tiram, merupakan contoh sukses bahwa pertanian tak melulu identik dengan kemiskinan dan kumuh. Bertani juga bisa terlihat keren. Terlebih, saat ini, telah ada Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa yang memandatkan peningkatan kemandirian dan kedaulatan desa, salah satu instrumen penting dalam pembangunan masa depan pertanian.

Kondisi saat ini, tenaga kerja di sektor pertanian mayoritas berada di desa, termasuk anak muda produktif yang diharapkan dapat meneruskan tonggak produksi pangan. Sayangnya, realitas desa saat ini berbeda. Pemuda desa lebih memilih bermigrasi ke kota guna memperoleh penghidupan yang lebih layak, enggan bertani karena dianggap pekerjaan yang tidak menjanjikan.

“Regenerasi Petani tak bisa dilepaskan dari ruang pembangunan desa. Hasil Kajian Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan menunjukkan (KRKP), faktor dominan yang mempengaruhi mandegnya regenerasi petani adalah akses terhadap lahan dan pendapatan,” ungkap Koordinator KRKP Said Abdullah.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, struktur umur petani saat ini mengalami penuaan (ageing) dimana 61,8% petani di Indonesia berumur lebih dari 45 tahun dan hanya 12% yang berumur kurang dari 35 tahun. Kondisi ini sangat memprihatinkan karena menunjukkan bahwa kondisi regenerasi petani di Indonesia mengalami stagnasi. Produksi pangan Indonesia terancam.

Keengganan bertani di Indonesia begitu tinggi. Hasil KRKP mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi regenerasi petani yang dimuat dalam buku “Mencari Petani Muda: Ikhtiar Membangun Masa Depan Pertanian” menunjukkan, 70% petani padi dan 73% petani hortikultura yang menjalani profesinya saat ini (petani) bukan merupakan pekerjaan yang mereka inginkan sejak awal. “Bertani bukan merupakan pekerjaan dambaan di Indonesia,” ujar Said.

Keengganan bertani pada generasi muda di pedesaan juga terpotret dalam hasil kajian KRKP. Sebanyak 70% anak petani padi dan 60% anak petani hortikultura tidak pernah bercita-cita ingin jadi petani seperti orang tua mereka. Potret suram pertanian yang ada saat ini menyebabkan anak muda desa bahkan enggan bercita-cita menjadi petani. Situasi ini perlu segera diantisipasi. Citra pekerjaan bertani perlu diperbaiki.

Kepala Departemen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr. Suryo Wiyono mengatakan, peran sentral pemerintah sangat berpengaruh, mengingat selama ini banyaknya kebijakan-kebijakan pertanian yang dikeluarkan hanya untuk mendukung peningkatan produksi pertanian seperti subsidi, pelatihan, dan bantuan alsintan. Kebijakan penguatan regenerasi petani belum sepenuhnya dinilai serius.

“Pemerintah sendiri harus, pertama membuat pertanian itu menarik bagi generasi muda. Bagaimana membuat menariknya? Disamping meningkatkan insentifnya, misalnya harga, pemerintah juga perlu fasilitasi untuk pemasaran. Petani perlu juga dijadikan profesi yang keren, secara sosial ada rekognisi (pengakuan). Kemudian perlu memang harus ada program untuk menumbuhkan secara terstruktur dan tersistem, bagaimana membuat generasi muda tidak hanya tertarik, tapi juga punya kemampuan kecakapan di pertanian, misalnya membuat pelatihan-pelatihan yang berkualitas,” ujar Suryo.

Setelah sukses menghasilkan Duta-duta Petani Muda yang inspiratif dalam 4 tahun terakhir, ajang Pemilihan Duta Petani Muda dinilai sebagai salah satu contoh upaya kampanye yang efektif dalam mendorong image pertanian menjadi lebih keren dan kekinian bagi anak muda. Kedepannya adalah bagaimana memperluas kerja sama dan mendorong lahirnya komitmen berbagai pihak salah satunya Kementerian Desa dan PDT dalam mendukung keberlanjutan pangan dengan upaya penguatan regenerasi petani pada level desa.

“Dalam kerangka itu maka pembangunan desa menjadi strategis untuk bisa menjawab persoalan mendasar regenerasi petani. Pembangunan desa yang hari ini didorong kuat untuk diarahkan pada upaya peningkatan akses terhadap sumber-sumber produksi (lahan) dan peningkatan pendapatan masyarakat, terutama generasi muda,” tegas Said Abdullah.

Facebook Comments
2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *