Roadshow Petani Muda: Tekad Pemuda Yogyakarta Selamatkan Profesi Petani | Villagerspost.com

Roadshow Petani Muda: Tekad Pemuda Yogyakarta Selamatkan Profesi Petani

Acara roadshow petani muda di Yogyakarta (dok. villagerspost.com/said abdullah)

Acara roadshow petani muda di Yogyakarta (dok. villagerspost.com/said abdullah)

Yogyakarta, Villagerspost.com – Roadshow dalam rangka ajang pencarian Duta Petani Muda 2016 kembali menghentak. Kali ini, kawula muda di Yogyakarta, diajak untuk peduli pada masalah pertanian, khususnya terkait regenerasi petani. Seperti acara sebelumnya di Bogor, dalam roadshow kedua dari rangkaian empat roadshow yang akan dilaksanakan ini, diisi dengan penampilan kelompok musik “Akar Bambu” dan talkshow.

Acara yang berlangsung di auditorium Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Minggu (2/10), itu dibuka dengan penampilan Akar Bambu yang menyampaikan pesan pentingnya pertanian dan petani serta menyelamatkan lingkungan dalam lagu-lagunya. Para pemuda yang umumnya merupakan perwakilan mahasiswa pertanian di Yogyakarta dan mahasiswa Fakultas Pertanian UGM tampak antusias mengikuti jalannya acara.

Usai penampilan Akar Bambu, acara kemudian dilanjutkan dengan talkshow bertema “Petani Terakhir”. Dalam kesempatan itu, Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) Said Abdullah memaparkan kondisi terakhir dunia pertanian Indonesia yang terancam kepunahan akibat macetnya regenerasi petani.

“Esensi dasar kedaulatan pangan adalah terpenuhinya hak dasar produsen pangan skala kecil. Petani dan peningkatan kualitas hidupnya harusnya menjadi target dari pembangunan pertanian yang dilakukan tidak hanya berhenti pada aspek peningkatan produksi saja,” kata Said.

Dia menegaskan, kalau pemerintah hari ini menjadikan kedaulatan pangan sebagai tujuan, maka seharusnya peningkatan kesejahteraan petani menjadi program utamanya. “Sayangnya saat ini terlalu berat kearah peningkatan produksi,” ujar Said.

Peningkatan kesejahteraan petani, menurutnya, adalah sebuah keharusan. Jika tidak dilakukan, maka sektor pertanian tetap menjadi sektor yang muram dan tak menjanjikan. “Jika ini terus terjadi maka laju regenerasi semakin akan lambat. Dalam sepuluh tahun yang akan datang bisa jadi populasi petani tua semakian banyak,” terang Said.

Hasil sensus pertanian saja sudah menunjukkan, populasi petani di Indonesia sebanyak 61,8% adalah orang-orang berusia di atas 45 tahun. Hanya 12,2% yang berusia di bawah 35 tahun. Bahkan pada subsektor tanaman pangan jumlah petani yang di bawah usia 35 tahun hanya 9,5% saja. “Jika tidak ada perubahan maka kita akan menghadapi persoalan terkait ketersediaan petani dimasa yang akan datang,” ujarnya.

Walaupun mekanisasi bisa dijadikan salah satu alternatif, kata Said, hal itu tidak sepenuhnya menjawab persoalan ini. Persoalanya bukan hanya menggantikan petani dengan mesin untuk meningkatkan produksi, namun memenuhi haknya untuk sejahtera. Said menjelaskan, dengan perbaikan dalam taraf hidup petani maka sebenarnya tercapai banyak hal. “Pertama, produksi bisa terus terjadi sekaligus lahirnya petani sejahtera,” ujarnya.

Untuk itu pemerintah perlu mengubah orientasi pembangunannya. Menjadikan petani sebagai subyek bukan sekadar alat produksi pangan. Pemerintah perlu memastikan terjadinya peningkatan pendapatan petani. Kebijakan harga bisa menjadi pilihan selain memperkuat dukungan lainnya kepada petani.

“Ini menjadi penting untuk membalik kondisi pertanian menjadi lebih menjanjikan supaya anak anak muda tertarik masuk ke dunia pertanian,” pungkasnya.

Menanggapi paparan permasalah pertanian di Indonesia itu, Qomarnajmi seorang siswa sekolah petani muda Sekti Muda mengatakan, saat ini geliat untuk mencetak petani muda sebenarnya sudah muncul. Salah satunya adalah sekolah petani muda Sekti Muda.  “Sekolah petani muda ini didirikan sebagai medium peningkatan kapasitas para petani muda atau anak anak muda yang ingin terjun didunia pertanian,” ujarnya.

Qomar mengatakan, ada banyak anak anak muda yang ingin masuk di pertanian, namun sayang kapasitas dan skill pertaniannya belum cukup. “Pemerintah tak mengurus hal ini. Anak anak muda biasanya tak dilayani pemerintah. Karenanya sekti muda hadir,” katanya.

Saat ini secara reguler sekolah petani muda melakukan pelatihan bagi siapa saja anak muda yang mau menjadi petani. Selain mengajarkan hal hal teknis, sekolah ini juga menjadi ruang kampanye dan advokasi untuk memperkuat dukungan kepada anak anak muda yag bergelut dibidang pertanian.

“Yang harus kita lakukan sekarang adalah merubah wajah pertanian supaya menjadi lebih keren. Bayangkan anak saya, usia empat tahun, ketika ditanya tak mau bercita cita menjadi petani dia lebih memilih menjadi tukang parkir katanya keren. Ini menggelitik karena citra pertanian sangat tidak keren,” ujar Qomar.

Sementara ada itu, Andhika Mahardika dari organisasi petani muda Agradaya mengatakan, Indonesia sebenarnya negara kaya luar biasa. “Berbagai komoditas pertanian kita menjadi unggulan dan rebuta pasar dunia. Namun sayang kita tidak aware akan hal ini,” ujarnya.

“Di tengah kesulitan yang ada saat ini sebenarnya kalau kita balik jadi peluang. Jumlah petani makin sedikit sementara pemintaan produk pertanian terus meningkat. Disini peluang bagi kita terutama anak anak muda jika memang bisa mengelolanya,” tambah Andhika.

Menurutnya, untuk itu, tak harus memulai dari menanam. Kita bisa juga memulai dari pengolahan dan pasar seperti yang Agradaya lakukan. “Kita melakukan dukungan terhadap petani kecil dan mengkoneksikan dengan konsumen. Saat ini Agradaya sedang melakukan berbagai aktivitas yang mengajak anak anak muda untuk lebih mengenal pertanian dan petani. Salah satunya dalam bentuk life in di desa,” ujarnya.

Khoril Anwar, mahasiswa fakultas pertanian UGM mengakui, penurunan tenaga kerja diwilayahnya, Semarang sudah terjadi. Petani yang ada tinggal yang tua saja. “Saya prihatin dengan kondisi ini tapi saya juga bingung bagaimana memulai bisa menggerakan anak anak muda didesa saya untuk kembali ke pertanian. Soalnya pendapatannya sedikit. Saya kira pemerintah harus buat program khusus anak anak muda disektor pertanian,” pungkasnya. (*)

Ikuti informasi terkait petani muda >> di sini <<

Laporan: Tim jurnalis KRKP

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *