Rusak Kawasan Mangrove Sari, Dua Warga Pemalang Ditangkap Polisi

Babinsa dan Babinkamtibmas Desa Kaliwlingi dan aparat Polsek Brebes mengamankan lokasi pembalakan mangrove sekaligus dua terduga pelaku (dok. mangrove sari)

Brebes, Villagerspost.com – Mashadi sang “Pendekar Mangrove” dari Dukuh Pandansari, Desa Kaliwlingi, Kecamatan Brebes, Brebes, Jawa Tengah kaget bukan kepalang ketika mendapat kawasan mangrove seluas 2 hektare yang selama ini susah payah dia bangun dan rawat tiba-tiba gundul akibat dibalak orang tak bertanggung jawab.

“Tidakkah kalian tahu betapa susah jerih payah orang tua kita untuk menyelematkan kampung dari abrasi. Lalu, mengapa engkau begitu mudah menebangnya, tanpa mengingat bahaya yang akan kami terima kelak. Cukup orang tua kami saja yang mengalami bencana, jangan kau timpakan lagi pada anak cucu kami,” katanya dengan nada tinggi.

Betapa tidak, kawasan itu tadinya adalah kawasan pantai yang rusak terkena abrasi akibat banyak warga yang merusak kawasan mangrove dan membangun tambak ikan dan udang. Namun berkat kerja keras warga yang diinisiasi oleh Mashadi, kawasan itu perlahan diperbaiki dan ditata ulang dengan menanami mangrove untuk mengembalikan fungsi kawasan pantai sebagai tempat alami pembiakan ikan di laut. Mangrove juga berfungsi untuk menjaga kawasan pantai dari ancaman abrasi.

Sejak 8 Mei 2016 lalu, lewat sebuah acara adat sederhana “Merti Bumi” kawasan Dukuh Pandansari memang telah diresmikan sebagai kawasan wisata mangrove dengan nama Mangrove Sari. Wajar, jika Mashadi geram ketika kawasan Mangrove Sari yang indah dan lestari itu, mendadak dirusak tangan tak bertanggung jawab.

Kepada Villagerspost.com, Mashadi bercerita, sebenarnya sudah sejak hari Sabtu, tanggal 1 September lalu, ia mencurigai aktivitas beberapa orang yang mendirikan gubug di satu sudut di kawasan Mangrove Sari. “Ada nelayan dan warga yang mengetahui, lapor kepada Pak Rusjan, ketua kelompok sekaligus komandan Satgas Jaga Segara, pada Rabu tanggal 5 September,” kata Mashadi.

Barang bukti berupa handsaw, gergaji manual, dan parang yang disita (dok. mangrove sari)

Kemudian pada hari Kamis (6/9), jam 10 pagi, Rusjan mengutus tiga orang anggota Satgas Jaga Segara bernama Kamid Sakri dan Pardi ke lokasi yang dilaporkan. “Dari investigasi didapati ada dua orang yang melakukan pemotongan tanaman mangrove dengan mesin handsaw tipe medium. Seketika itu juga mereka disuruh berhenti dan diminta jangan meninggalkan lokasi,” ujar Mashadi.

Kemudian, dari hasil investigasi lanjutan, dan bukti foto yang didapat, kedua anggota satgas itu segera melapor kepada Rusjan, yang saat itu sedang berada di kota Brebes. Sementara Mashadi sendiri sedang berada di Sukabumi untuk menghadiri rapat koordinasi program Tokyo Marine.

Ikut mendapat laporan soal perusakan kawasan Mangrove Sari, Mashadi pun secepatnya melapor ke aparat bintara pembina desa (babinsa) TNI dan bintara pembina keamanan dan ketertiban masyarakat (babin kamtibmas) Polsek Brebes termasuk kepada Kapolsek Brebes AKP Harti, SH. “Dari laporan itu, pelaku langsung diamankan ke Mapolres Brebes,” kata Mashadi.

Dari laporan pihak satgas, Mashadi mengetahui ada sekitar 2 hektare lahan mangrove yang dibalak dari rencana 12 hektare di lokasi yang berada di kawasan konservasi di muara Sungai Polang yang jaraknya sekitar 1 kilometer dari mercusuar, sebelah selatan muara Sungai Pemali. “Motif sementara diketahui, untuk mencetak lahan tambak baru,” terang Mashadi.

Kawasan mangrove yang dibalak seluas 2 hektare untuk dibuat kawasan pertambakan (dok. mangrove sari)

Sementara itu dari keterangan yang diperoleh dari Kapolsek Brebes AKP Harti diketahui, kedua pelaku bernama Paduno bin Dalam (50 tahun) dan Mardini bin Tarman (47), keduanya warga Petarukan, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. “Dari tangan kedua tersangka barang bukti satu buah gergaji handsaw tipe medium, satu buah gergaji manual dan lima buah parang,” kata AKP Harti.

Dia menerangkan, jenis mangrove yang ditebang adalah mangrove api-api (Avicennia marina) yang berusia 10 tahun. Mangrove yang ditebang masuk ke kawasan konservasi Mangrove Sari di Desa Kaliwlingi. “Kegiatan penebangan sudah dimulai sejak hari sabtu tanggal 1 september 2018 dengan mendirikan gubuk di tengah hutan mangrove,” terang Harti.

Pelaku saat ini diamankan dan dibawa ke Mapolsek Brebes guna dimintai keterangan penyidikan lebih lanjut.  Keduanya disangka melanggar UU No 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Pasal 35 huruf e tentang larangan melakukan konversi Ekosistem mangrove di Kawasan atau Zona budidaya yang tidak memperhitungkan keberlanjutan fungsi ekologis Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

Berdasarkan Pasal 73 UU tersebut, pelanggaran terhadap Pasal 35 diancam dengan ancaman pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah) dan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).

Mashadi menegaskan rasa terima kasihnya kepada kepada aparat babinsa, babin kamtibmas Desa Kaliwilingi dan kapolsek Brebes yang segera tanggap mengamankan pelaku pembalakan mangrove ini. “Semoga pelaku segera dapat diproses sesuai undang-undang yang berlaku,” pungkasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *